MUSIK KHAS: Mulyani tunjukkan koleksi alat musik bundengan yang dimiliki SMP 2 Selomerto. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)
MUSIK KHAS: Mulyani tunjukkan koleksi alat musik bundengan yang dimiliki SMP 2 Selomerto. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)

Seniwati sekaligus Guru Seni SMP 2 Selomerto Mulyani terus bersemangat mengajarkan siswa didiknya belajar bundengan, alat musik tradisional Wonosobo. Selain mengajarkan teknik dasar memainkan bundengan, ia juga merangkap mengajar tari dan nyanyian khas bundengan.

DALAM mengajar, sejatinya ia tak menarget muluk. Ia hanya ingin, alat musik yang sudah mulai dimainkan sejak abad 12 oleh warga Wonosobo ini bisa terus lestari dan dikenal generasi muda.

“Target pertama kita mengenalkan (ke siswa). Dia kenal dulu. Saya yakin ketika sudah kenal, esok akan lahir pemain bundengan profesional yang membuat nama bundengan makin dikenal luas,” katanya, Rabu (31/5).

Upaya pengenalam semacam itu dinilainya merupakan langkah tepat dalam menyikapi modernisasi yang kian gencar. Jika kesenian tradisional tak digarap serius, tidak dikenalkan kepada generasi penerus, lambat laun kesenian tradisional akan tercerabut dan tergantikan oleh kesenian-kesenian negara lain.

“Makanya kerangkanya dibalik. Harus pede (percaya diri, red). Hadirnya modernisasi ini sebagai ajang mengenalkan kesenian-kesenian kita. Kan sekarang zamannya sudah digital, sudah enak untuk mengenalkan kesenian kayak gini,” katanya.

Mengenai bundengan,  ada beberapa keunikan yang tak dimiliki alat musik lain. Yakni, dalam satu alat musik mampu menghadirkan suara beberapa instrumen. Di antaranya, suara kendang, bende (gamelan), gong dan bas.

Satu yang menurut dia paling menarik adalah bundengan ini merupakan alat musik yang lahir dari kreativitas tanpa batas para petani di masa lalu. Bundengan atau yang juga disebut kowangan sejatinya adalah alat pelindung hujan dari bambu yang diberi tali lantas dimainkan di sela bertani atau menunggu bebek.

“Paling menarik itu, dengan semangat kreativitas serupa (seperti nenek moyang dulu) saya optimistis bundengan jadi alat musik atau kesenian sangat menarik ke depannya. Kita dapat semangat dari situ juga,” kata perempuan yang akrap disapa Bu Mul itu.

Khusus SMP 2 Selomerto, sedikitnya sudah mengoleksi 100 bundengan berbagai ukuran. Bundengan besar dikhususkan untuk dimainkan sementara yang kecil rencananya untuk cenderamata para tamu. (cr2/ton)