Melawan Alasan Tak Menulis

spot_img

MENULISLAH, kata orang-orang yang banyak mengaku,’aku tidak bisa.’ Padahal realitas pendidikannya dari kecil sudah mengajarkan untuk menulis. Mulai dari yang terdekat tentang siapa nama sendiri, orang tua hingga sanak saudara. Namun mengapa, semakin dewasa kita seakan memelihara kata ’tidak bisa’ menulis, menjadi ungkapan pengalihan?

Untuk menjawabnya, mungkin diperlukan perenungan kenapa hal itu terjadi. Padahal seiring meningkatnya kedewasan jasmani dan rohani, meningkat pula skill menulis yang menjadi salah satu keterampilan berbahasa kita (baca: berbicara, mendengar dan membaca).

Berbagai dalil pun dijadikan alasan untuk menghindar tak menulis. Padahal ragam jenjang pendidikan juga sudah kita lalui. Formal saja, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK serta Perguruan Tinggi (PT) mulai dari S1, S2, S3, hingga profesor. Itu belum ditambahan nonformal. Pertanyaannya, kurang tinggi apa keilmuan jenjang pendidikan yang kita raih untuk sekadar bisa menulis. Justru bagi penulis, semestinya kita harus malu, kemudian mempertanyakan kepada diri, kenapa untuk menulis saja kita memilih berkilah dengan macam-macam alasan?

Perlu diketahui, fokus hanya menulis tentu akan mudah menelorkan karya tulis dari pada menulis dan punya tanggung jawab lain yakni, bekerja. Maka, menulis sambil kerja memang boleh dikata ’berat’.  Namun hal itu bagi penulis tidak selamanya benar, karena menulis bisa menjadi mudah manakala diluangkan waktu satu jam sehari, hingga sesuatu yang ingin ditulis bisa terselesaikan dalam wujud nyata dan bukan angan-angan belaka. Contoh nyata, Mulyono Guru Beprestasi Tingkat Nasional 2016 dari Semarang, tepatnya Mei  2017 ini telah menulis buku berjudul, ’Menjadi Guru Kreatif nan Prestatif’ lahir dari kesibukan bekerja.

Baca juga:   Ajari Siswa Berinternet Secara Baik dan Cerdas

Tak selamanya juga, nilai ’berat’ dalam menulis menjadi kesimpulan yang benar. Karena mungkin kita terbiasa memikirkan dahulu apa yang akan dituangkan dalam tulisan. Padahal rumus menulis ya menulis, bukan menulis sambil menghapus tulisan yang telah kita tulis. Bila hal itu yang kita lakukan, yang terjadi kita menjadi editor tulisan sendiri, hingga tak tahu kapan tulisan itu akan selesai. Inilah kesalahan utama penulis pemula yang tidak tahu tugas penulis hanya menulis, bukan menambah beban penulis menjadi stip (penghapus) tulisan yang ditulis.

Selain itu, tunggu mood adalah alasan waktu yang tepat untuk menunda menulis. Padahal, banyak penulis yang melahirkan buku tak sepenuhnya menunggu mood datang. Para penulis yang penulis baca bukunya, seakan tak percaya bahwa mood adalah faktor utama pengganjalnya, sehingga yang terjadi adalah tidak jadi menulis.

Author

Populer

Lainnya