Oleh: Dra C Endah Winahyuningsih MPd
Oleh: Dra C Endah Winahyuningsih MPd

HAMPIR semua siswa mulai SD, SMP hingga SMA dan SMK selalu mengeluh bila melaksanakan kegiatan menulis karangan. Menulis itu sulit. Menulis itu menyebalkan. Menulis itu membosankan. Begitu keluh kesah mereka mengenai keterampilan menulis. Mereka mengganggap  keterampilan berbahasa yang paling sulit adalah keterampilan menulis.

Kesulitan menulis tidak hanya berkaitan dalam memilih diksi yang tepat, tetapi juga kekonsistenan penggunaan ejaan  bahasa Indonesia yang benar, harus dikuasai  penulis. Penulis juga harus lihai merangkai kata yang berkoherensi satu dengan yang lain, sehingga menjadi karangan yang apik.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang bersifat produktif dan ekspresif.

Keterampilan menulis tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur (Tarigan 1993:3-4). Menulis adalah kegiatan menuangkan perasaan, gagasan, ide, atau pendapat secara tertulis yang ditujukan untuk orang lain dengan memperhatikan kaidah kebahasaaan secara tidak langsung. Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran di sekolah.

Memang tidak dapat disangkal lagi, bila kegiatan tulis-menulis lebih sulit dibanding kegiatan berbahasa lainnya, seperti membaca dan menyimak. Keterampilan menulis tidak dapat dicapai bila kita tidak punya sesuatu untuk ditulis. Bagaimana kita bisa menulis dengan baik bila kita tidak memiliki wawasan yang luas, tidak memiliki kemampuan menggunakan kaidah penulisan yang baik  dan lain-lain.