31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Indonesia Darurat Guru Profesional

DAHULU, menjadi guru adalah cita-cita mulia penuh pengabdian tanpa harapan berlimpah materi. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dipuja dengan lagu yang mendayu atas jasa-jasa nya yang tak ternilai. Tidak banyak yang bercita-cita menjadi guru. Profesi guru tidak memberikan penghasilan yang  setara  dan se-prestise profesi dokter atau insinyur. Menjadi guru berarti siap untuk hidup sederhana. Profesi guru pada waktu itu benar-benar digugu dan ditiru sebagai panutan.

Lain dulu lain sekaran. Guru tidak lagi profesi sederhana. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan guru pasca diberlakukannya sertifikasi guru, profesi ini  telah mendapat tempat terhormat di mata para pencari kerja,  dan di hadapan masyarakat. Profesi guru kini sangat diminati dan diperebutkan. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan makin meningkatnya kesejahteraan guru, kualitas guru di Indonesia tetap rendah.

Chang et al. (2014) melaporkan bahwa tidak ada perbedaan kualitas antara guru yang telah mendapat sertifikat pendidik  dibanding  guru yang belum bersertifikat. Kondisi ini sangat jauh dari harapan, karena tujuan ditetapkannya pemberian sertifikasi guru di antaranya adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru dan meningkatkan proses dan mutu pendidikan. (http://iputuleonamahardika.blogspot.co.id/)

Pengamat Pendidikan Indra Charisniadji mengatakan, kompetensi SDM Indonesia saat ini masih sangat rendah. Dari sisi kualitas pendidikan, misalnya, Indonesia, masih di urutan terendah dunia. Padahal, kualitas guru sangat menentukan kualitas hasil pendidikan. (jawa pos.com) Hal ini berbeda dengan era tahun 1950-1959, di mana pendidikan di Indonesia berjalan dengan cukup baik.

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here