32 C
Semarang
Rabu, 23 Juni 2021

Pembangunan Kerap Abaikan Fakta Sejarah

PENGAMAT sosial Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Dr Muhyar Fanani MAg, mengatakan, kondisi sosial-ekonomilah yang menyebabkan kawasan Lokalisasi Argorejo Kalibanteng Kulon  kini lebih dikenal sebagai Lokalisasi Sunan Kuning. Padahal terdapat fakta sejarah yang menjadi warisan di kawasan itu, yakni makam penyebar agama Islam di era 1500-an, yakni Soen Ang Ing.

Berbeda dengan Walisongo yang cenderung pada kebudayaan, Soen Ang Ing, lebih pada metode pengobatan dalam penyebaran agama Islam.

Baca Juga : Jejak Tokoh Penyebar Islam Tercoreng Lokalisasi

“Ketika tahun 1960-an itu, karena problem kemiskinan masyarakat sekitar dan ketidakmerataan ekonomi, kemudian ada wanita yang mulai menjajakkan diri di situ,” ungkap Muhyar, yang juga Dekan FISIP UIN Walisongo ini.

Berbeda dengan dulu di mana para wanita menjajakan diri secara liar, namun sekarang lebih resmi dan kawasan tersebut menjadi lokalisasi. Dia menyayangkan, pembangunan di Semarang yang kerap mengabaikan fakta sejarah. Termasuk keberadaan Lokalisasi Argorejo, yang jelas berdiri di kawasan makam tokoh penyebar agama Islam. “Ini dampak dari mengabaikan pada sejarah, jadi pembangunan yang ada tidak mengindahkan fakta-fakta sejarah di area pembangunan itu,” ujarnya.

Dikatakan, setiap proyek  harus membuat kajian tentang dampak sosialnya. Seperti pembangunan rumah susun, bagaimana dampak sosial kepada warganya yang harus dipindahkan ke rusun itu dan sebagainya.

Dalam hal sosial, lanjutnya, pembangunan harus diperhatikan dalam skala yang besar, tidak hanya memandang kemajuan saja, tetapi juga pada sekelilingnya apakah terdampak positif atau negatif. (tsa/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here