32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Ribuan Warga Blokir Jalan

Tolak Penambangan Pasir dengan Alat Berat

MUNGKID—Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar, membuat warga Desa Sumokaton, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, kehabisan kesabaran. Kemarin, ribuan warga turun ke jalan, memblokir jalan untuk menolak kegiatan penambangan.

Dalam aksinya, selain membentangkan spanduk penolakan di lima titik, warga juga membakar ban bekas dan menutup jembatan alternatif kerap digunakan warga untuk melintas di dua wilayah. Yakni, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang; dengan wilayah Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Aksi berlangsung Jumat (26/5) siang selama dua jam.

Warga yang mayoritas petani dari lima dusun di Desa Somokaton, Kecamatan Ngluwar, menolak adanya penambangan pasir yang menggunakan alat berat di jalur Kali Krasak. Jalur itu merupakan batas wilayah Jawa Tengah dengan DI Yogyakarta. Unjuk rasa mendapatkan pengamanan dari aparat Polres Ngluwar, TNI, dan aparat Kecamatan Ngluwar.

Kalimat dalam spanduk, salah satunya, Warga Desa Somokaton Menolak Dampak dan Penambangan Menggunakan Alat Berat di Sungai Krasak. Usai berunjuk rasa, warga kembali ke ladang sawah untuk bekerja. Api dari ban-ban yang dibakar, langsung dipadamkan. Termasuk kayu untuk menutup jembatan, segera disingkirkan.

Kepala Desa Somokaton, Noto Sukirno, menyampaikan, dampak penambangan pasir menggunakan alat berat di aliran Kali Krasak, menyebabkan sumur warga kering. Termasuk, pengairan sawah seluar 150 hektare milik warga, terancam kekurangan air. Untuk itu, warga sepakat menolak rencana penambangan menggunakan alat berat.

“Warga sudah menandatangani kesepakatan atas penolakan penambangan pasir tersebut. Jika aspirasi warga diabaikan, warga siap menggelar demo dengan jumlah massa lebih besar,” kata Noto Sukirno.

Lima dusun yang terancam kekurangan air sumur dan pertanian adalah Dusun Somokaton, Banaran, Kricak, Canggalan, Madesan, dan Pakunden, Desa Somokarto, Kecamatan Ngluwar.

Penambangan pasir dengan alat berat di Kali Krasak, dalamnya mencapai 10 meter. Dampaknya, permukaan air menjadi turun. “Jika musim kemarau saja, kebutuhan air sawah mulai digilir, apalagi kalau sungai dikeruk hingga 10 meter, jelas akan mematikan petani,” kata Kades Noto Sukirno.

Camat Ngluwar, Kunta Hendradata menambahkan, penambangan menggunakan alat berat sangat berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan sumber mata air. Jika penambangan dengan alat berat tidak terkendali, maka yang menjadi korban areal pertanian. Sumber air sumur warga juga mengalami penyusutan. “Yang jelas, kerusakan akibat penambangan dengan alat berat sudah sangat jelas, selain penyusutan air, infrastruktur jalan juga mengalami kerusakan.” (vie/isk)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here