26 C
Semarang
Rabu, 9 Juni 2021

Tebing di Bawen Membahayakan

SEMARANG – Tebing di 2 km terakhir ruas tol Salatiga-Bawen dianggap rawan longsor dan membahayakan kendaraan yang melintas. Tebing di daerah Bawen, Kabupaten Semarang tersebut dianggap terlalu curam dan perlu dikepras lagi.

Keberadaan tebing tersebut menjadi perhatian pimpinan dan anggota DPRD Jateng saat meninjau lokasi proyek jalan tol Salatiga-Bawen, Kamis (25/5). Tinjauan lokasi tol dengan bersepeda tersebut dipimpin Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi dan diikuti sejumlah anggota dewan lintas komisi.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mengatakan tebing di 2 km terakhir menuju km 38 tersebut terlalu curam. ”Tebingnya membahayakan, apalagi kalau hujan akan rawan longsor. Kami tidak ingin tebing runtuh dan menimpa mobil yang sedang melintas,” katanya. Dewan lantas merekomendasikan tebing dikepras lagi serta dibuat terasering agar aman.

Rukma menambahkan ruas tol dari Tingkir, Salatiga hingga ke KM 38 di daerah Bawen sudah selesai dibangun. Pintu tol Salatiga berada di daerah Tingkir, Salatiga. Namun, konstruksi yang belum selesai berada di 2 km terakhir menuju simpang susun Bawen. PT Trans Marga Jateng (TMJ) dan Dinas Bina Marga Jateng menjanjikan pengurukan tanah di titik tersebut akan selesai akhir bulan ini. ”Lahan tersebut perlu disesuaikan agar derajat kemiringannya berkurang,” paparnya.

Sementara pengecoran beton dijanjikan paling lambat rampung pada 8 Juni. ”Kalau itu sudah selesai, jalan tol bisa diuji coba sebelum difungsikan untuk arus mudik dan balik lebaran. Nanti 8 Juni kami tinjau lagi,” ujar Rukma yang kemarin meninjau jalan tol bersama Berlian Cycling Club (BCC).

Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto menambahkan, ruas tol Salatiga-Bawen akan difungsikan 2 lajur untuk membantu mengurai kemacetan arus mudik dan balik Lebaran nanti. ”Akan difungsikan searah. Yaitu saat arus mudik dibuka untuk arah Bawen menuju Salatiga, dan saat arus balik sebaliknya,” ungkapnya.

Dia meminta pihak terkait melebarkan jalan kabupaten di daerah Tingkir yang menjadi pintu keluar tol. Di situ juga diperlukan rekayasa lalu lintas untuk meminimalisir kemacetan. ”Kami juga meminta pengelola jalan tol memasang rambu sementara. Sebab ruas tol ini belum dilengkapi lampu penerangan jalan,” tambahnya. (ric/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here