26.3 C
Semarang
Sabtu, 31 Oktober 2020

Ketika Produk IKM Dambakan SNI

Must read

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia), menjadi salah satu yang musti dimiliki produk lokal agar bisa bersaing di pasaran. Sayangnya, masih sedikit Industri Kecil Menengah (IKM) yang mengantongi SNI.

RACHMA, 42, warga Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, mewanti-wanti anaknya untuk tidak memasukkan mainan ke dalam mulut. “Bahaya kan kalau sampai anak tersedak. Belum lagi kalau cat mainan anak itu, cat yang kandungan kimianya tidak disarankan oleh BSN. Untuk urusan ini, biasanya saya beli produk yang sudah ber-SNI.”

Meski agak mahal, Rachma mengaku jauh lebih aman untuk anak. “Kalau sudah ada label SNI, berarti sudah melalui serangkaian tes oleh badan terkait, yang artinya relatif sudah aman,” ucap perempuan berambut sebahu itu. Kendati demikian, ia tetap mengawasi anak-anaknya ketika mereka sibuk bermain boneka maupun mobil-mobilan.

Baca Juga : SNI Masih Menjadi Dilema

Pelaku usaha IKM atau UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sebenarnya tidak berkeberatan mengurus sertifikasi SNI pada produk mereka. Namun, karena mahalnya biaya untuk mengurus SNI, membuat pelaku bisnis IKM/UMKM enggan melakukan.

“Sebetulnya, saya ingin mendukung program pemerintah, tapi kalau harus bayar mahal untuk SNI, bisa-bisa saya gulung tikar,” kata Suyud, 47, seorang perajin boneka di Yogyakarta. Ia mengaku semula berniat mengurus SNI. Namun, setelah tahu biayanya mahal, Suyud mengurungkan niatnya. Informasi yang dia peroleh, untuk mendapatkan SNI, pemohon harus merogoh uang hingga nominal puluhan juta. Karenanya, terkait SNI, Suyud berharap pemerintah bisa menurunkan biaya pengurusan, agar tarifnya terjangkau oleh pelaku UMKM.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...