31 C
Semarang
Sabtu, 28 November 2020

Developer Masih Terkendala Harga Tanah yang Tinggi

Melongok Program Nasional Sejuta Rumah

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Proyek pembangunan sejuta rumah untuk rakyat telah dimulai pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU Pera) bertepatan dengan peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2015.

MELALUI program ini, pemerintah menyediakan rumah subsidi dengan harga dan cicilan yang terjangkau. Rumah yang dibangun berkategori rumah dengan ‎Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau lebih sering disebut sebagai rumah subsidi. Harapannya, semua PNS dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) seperti nelayan dan buruh, bisa segera memiliki rumah.

Sebab, angka kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tempat tinggal di Indonesia cukup tinggi. Yakni, mencapai 13,5 juta rumah. Artinya, masih ada 13,5 juta kebutuhan rumah layak huni yang belum bisa terpenuhi oleh pemerintah.

Program ini sekaligus untuk mengurangi tingkat kekumuhan permukiman di berbagai wilayah di Indonesia. Harapannya, tidak akan ada lagi permukiman kumuh di kolong-kolong jembatan, bantaran kali, maupun di sepanjang rel kereta api.

Keunggulan program sejuta rumah adalah uang mukanya. Yakni, hanya 1 persen dari total harga keseluruhan. Sebagai perbandingan, uang muka perumahan komersial biasanya 20-30 persen dari total harga. Keunggulan berikutnya, besaran bunga KPR hanya 5 persen. Artinya, jauh lebih rendah dari perumahan komersial yang berbunga 7,5 persen.

Kemudahan lain, masyarakat bisa mengambil tenor pembayaran kredit relatif lama hingga 20 tahun, dengan angsuran Rp 500 ribu sampai Rp700 ribuan/bulan. Untuk menyukseskan program ini, pemerintah telah menunjuk BTN sebagai bank penyedia kredit rumah bersubsidi.

<!-nextpage–>

Praktisi sektor properti asal Magelang, Rudi Wiharno, mengapresiasi program sejuta rumah yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu di Ungaran, Kabupaten Semarang. “Program sejuta rumah Pak Jokowi, saya kira patut diapresiasi oleh semua elemen bangsa, sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat berpenghasilan rendah yangs elama ini semakin sulit untuk membeli rumah,” kata Rudi.

Menurut Rudi, rumah merupakan hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia. “Tegas dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 28h, yaitu setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang sehat serta memperoleh layanan kesehatan.” Penegasan lainnya tertuang dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Bahkan, isu tentang rumah yang layak pun sejak lama menjadi perhatian internasional.

Yang terjadi saat ini, harga rumah terus meningkat, tanpa diikuti peningkatan pendapatan masyarakat. Ini, lanjut Rudi, merupakan persoalan klasik, baik di negara maju maupun berkembang. “Karena itu, kehadiran negara sangat diperlukan untuk memfasilitasi, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam memenuhi kebutuhan dasar memiliki rumah.”

Sejak era Presiden Soeharto—tepatnya sejak 1970-an—sambung Rudi, sebenarnya Pemerintah Indonesia telah melaksanakan program subsidi perumahan dengan berbagai inovasi. Dengan harapan, masyarakat miskin terfasilitasi kebutuhannya memiliki rumah. “Toh, faktanya, masih banyak masyarakat yang tidak punya rumah, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.”

Rudi lantas mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 yang mencatat, masih besarnya kesenjangan perumahan. Yakni, mencapai 13,5 juta unit. Penyebabnya, masyarakat bersama pengembang, hanya mampu menyediakan sekitar 400.000 unit rumah per tahun. “Padahal, kebutuhan rumah per tahun mencapai 800.000 unit.”

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah MR Priyanto mengatakan, para pengembang mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang menggeber program sejuta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...