32 C
Semarang
Rabu, 23 Juni 2021

Pelaku Kartel Akan Diburu

SEMARANG – Kadivre Bulog Regional Jateng, Djoni Nur Ashari, memastikan stok beras di Jateng mencukupi hingga 7 bulan ke depan. Bahkan, kebutuhan bahan pokok dan bumbu lainnya seperti daging sapi dan bawang terus dipasok untuk mengamankan ketersediaan bahan hingga Lebaran.

Djoni menjelaskan, pihaknya mengoperasikan 22 truk sembako untuk mengantisipasi kenakalan kartel sekaligus spekulan yang menyebabkan fluktuasi harga. Penyebaran sembako sebagai Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP) ini akan diedarkan ke seluruh eks Karesidenan Jateng.

Dia mengaku, saat ini Bulog punya stok beras hingga 257.000 ton untuk tujuh bulan, 16.000 ton gula pasir, bawang putih 60 ton, dan bawang merah 60 ton. ”Bawang merah masih distok lagi jika sewaktu-waktu diperlukan. Kalau daging beku 4 ton eks impor dan daging ini akan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan,” terang Djoni usai melepas unit armada kendaraan pembawa stok pangan tersebut di Gubernuran, Selasa (23/5).

Sebelum pelepasan didahului kegiatan koordinasi Ekonomi, Keuangan, Perindustrian dan Perdagangan (Ekuinda) bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) di Gedung Gradika Bhakti Praja.

Dijelaskan, penentuan harga eceran tertinggi (HET) logistik yang didistribusikan tersebut sudah ditentukan. Harga beras mulai kualitas sedang hingga paling bagus berkisar Rp 7.000-Rp 10.000 per kg. Sementara, daging beku yang diedarkan dikenakan harga maksimal Rp 70.000 per kg, gula pasir maksimal Rp 12.000 per kg, serta bawang merah Rp 25.000 per kg dan bawang putih Rp 38.000 per kg.

Sekda Jateng Sri Puryono dalam paparannya mengatakan, selain mengoordinasikan kesiapan mudik Lebaran, kebutuhan pangan dan keperluan bahan bakar minyak (BBM) dan gas juga dilakukan penambahan. Dia menegaskan, pelaku kartel akan diburu dan dikenakan hukuman pidana yang berat. Dalam memantau kondisi harga terkini, pihaknya menggunakan aplikasi Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (Sihati) Provinsi Jateng.

”Sihati generasi ketiga ini sudah mampu mendeteksi kondisi hingga di produksi pangan. Jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan harga, maka akan kami lakukan penanganan melalui TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah),” tandasnya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here