Pembebasan di Kendal Paling Alot

  • Bagikan
TOLAK EKSEKUSI: Ratusan warga Desa Wungurejo dan Tejorejo yang lahannya terdampak tol menolak proses eksekusi yang dilakukan Juru Sita PN Kendal, kemarin. (kanan) Warga melakukan aksi berjemur dengan telanjang dada serta mengusung warga yang mengenakan kain kafan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK EKSEKUSI: Ratusan warga Desa Wungurejo dan Tejorejo yang lahannya terdampak tol menolak proses eksekusi yang dilakukan Juru Sita PN Kendal, kemarin. (kanan) Warga melakukan aksi berjemur dengan telanjang dada serta mengusung warga yang mengenakan kain kafan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pengerjaan jalan tol Batang-Semarang terkendala pengadaan lahan. Hingga saat ini, pembebasan lahan tol sepanjang 75 kilometer yang dibagi menjadi lima seksi itu baru mancapai 83,59 persen.

Direktur Utama PT Jasa Marga Semarang-Batang, Saut Simatupang memaparkan pembebasan lahan di seksi III dan IV yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kendal, banyak menemui kendala. Masyarakat masih enggan melepaskan lahan mereka demi kepentingan pembangunan. Di seksi III, pengadaan lahan baru 77,24 persen, dan seksi IV 72,69 persen. Padahal, di seksi I, pembebasan lahan sudah mencapai 99,37 persen, seksi II 89,48 persen, dan seksi V 82,69 persen. Jadi total pengadaan lahan 83,59 persen.

”Saya sendiri tidak tahu, mengapa warga Kendal enggan melepaskan lahan mereka. Padahal, di Batang cepat sekali, malah paling cepat dari seksi lainnya,” terangnya di Kantor Jasa Marga Batang-Semarang, Selasa (23/5).

Meski begitu, dia optimistis, pada akhir Mei mendatang, pengadaan lahan sudah tembus 100 persen. Bagi warga yang masih alot melepaskan lahan mereka, Jasa Marga akan mengambil langkah konsinyasi. Mengenai keseluruhan progres konstruksi, lanjut Saut, pengerjaannya justru lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Dari rencana 14,83 persen pada bulan ini, tapi progresnya sudah mencapai 25,17 persen.

Saut menambahkan, saat arus mudik nanti pihaknya menyatakan jalan tol Batang hingga Gringsing sepanjang 42 kilometer telah siap secara fungsional untuk mengurangi beban di Pantura. Sehingga tol akan tersambung mulai Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, serta Batang-Gringsing. ”Pemakaian jalur tol fungsional mudik ini sesuai progres pembebasan tanah. Mana yang cepat dan bebas kami bangun,” ujarnya.

Diakui, karena masih bersifat fungsional, masih ada persimpangan jalan dengan jalan kabupaten. Karena itu, pihaknya akan mengerahkan sejumlah petugas untuk berjaga di persimpangan tersebut saat arus mudik Lebaran mendatang.

Dia juga menjelaskan, jalan tol Batang-Semarang telah dilengkapi sejumlah fasilitas bagi pemudik. Salah satunya rest area di sejumlah titik. Khusus tol Batang-Weleri, rest area ini dibangun fungsional di dua lokasi, yakni di STA 391+400 Kedawung, Batang serta Wangunrejo STA 402+700. Meski hanya rest area sementara, namun lokasi itu akan dilengkapi dengan fasilitas istirahat, tempat ibadah, toilet hingga fasilitas pendukung lainnya.

Selain kelengkapan rest area, pihaknya juga menyiapkan sejumlah jalur exit tol sementara untuk antisipasi pemudik yang mengalami keadaan darurat. Seperti sakit ataupun kehabisan bahan bakar.

Kepala Dishub Jateng, Satriyo Hidayat menegaskan, kendaraan besar dengan dua sumbu atau lebih seperti truk dan bus, tidak diperbolehkan masuk tol fungsional. Entah itu di ruas Batang-Gringsing, Mangkang-Krapyak, atau Bawen-Salatiga. Sebab, jalan tersebut masih menggunakan cor sementara yang tidak akan kuat jika dibebani kendaraan besar.

Selain itu, pembatasan kendaaran besar ini dilakukan agar volume kendaraan pribadi yang masuk ke jalan tol lebih banyak. ”Bus dan truk jelas kami arahkan ke jalur Pantura. Sopirnya pasti sudah paham seluk-beluk jalan Pantura karena sering lewat sana. Artinya, risiko kecelakaan bisa lebih mudah dikendalikan,” bebernya. (amh/ric/ce1)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *