Anggia Restu Maulida. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Anggia Restu Maulida. (DOKUMENTASI PRIBADI)

MENDALAMI dunia desain busana bisa lewat segala cara. Seperti yang dilakoni Anggia Restu Maulida. Gadis kelahiran Semarang, 21 September 1994 yang menyimpan obsesi menjadi desainer ini hobi memodifikasi baju yang dibelinya.

Anggia mengaku sengaja membeli baju-baju cowok yang longgar. Baju itu tidak langsung dipakai. Wajib melewati ‘mesin jahit’ ala Anggia dulu.

Nggak banyak kok ngrombaknya. Cuma 40 persenan lah. Biasanya di bagian lengan, leher, dan pinggang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, memodifikasi baju tersebut bukan lantaran kurang puas dengan tren fashion yang dijual di pasaran. Tangannya memang selalu gatel ingin menciptakan model baru yang benar-benar menggambarkan jatidirinya. Tapi karena tidak pernah melalap ilmu desainer secara formal, dia baru bisa merombak baju yang sudah ada.

Hobi desain fashion itu ditulari dari mamanya. Sejak kecil baju santai Anggi banyak dibikin mamanya. “Waktu merombak baju itu, saya masih kerap konsultasi sama mama,” ucap putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Rio Rianto dan Sri Hartini ini.

Jika ada kesempatan dan modal, Anggia punya rencana membuka butik fashion. Saat ini, dia juga sedang mencari partner bisnis untuk diajak kerja sama jualan baju lewat online.

Menurutnya, bisnis fashion tidak pernah ada matinya. Asal bisa mengikuti tren, pasti akan dicari pelanggan. “Jualnya pun tidak melulu fashion hijab saja. All round sesuai kebutuhan pasar dan tren,” tegasnya.

Obsesi menjual baju online, lanjutnya, terinspirasi dari kisah sabatnya yang kini punya tiga cabang butik. Padahal, dia menilai desain fashion yang dijual cukup simpel. Itu pun bukan hasil karya sendiri, tapi menjual produk dari produsen baju.

“Saya juga ingin seperti itu. Awalnya online, terus jadi toko offline atau butik. Tapi nanti dulu. Lagi program diet biar bisa jadi model baju yang akan saya jual,” ucapnya sambil tertawa. (amh/aro)