32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Polisi Butuh Saksi Ahli

SEMARANG –  Penyidik Polrestabes Semarang masih sebatas memeriksa saksi-saksi terkait pembuat dan penyebaran poster dan spanduk ‘Garuda Ku Kafir’ di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), beberapa waktu lalu.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji mengatakan, saat ini penyidik belum menentukan tersangka. Butuh kehati-hatian dalam menangani kasus ini. Penyidik masih memerlukan keterangan saksi ahli untuk meyakinkan dan membuktikan jika gambar dan kalimat poster ‘Garuda Ku Kafir’ itu adalah tindakan menghina dan melecehkan lambang negara. “Nanti kalau memang memenuhi unsur pidana, kalau memang dari keterangan saksi ahli pidana ya tentu akan kita proses lebih lanjut,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Diponegoro (Undip)  Prof Yos Johan Utama akan memberi sanksi Drop Out (DO) terhadap mahasiswanya yang terlibat kasus penondaan lambang negara. Pihak kampus telah melakukan penyelidikan internal dan menemukan 5 mahasiswa yang diduga membuat dan menyebarkan poster dan spanduk ‘Garuda Ku Kafir’ di Kampus Fisip. Terduga terduru dari 4 laki-laki dan seorang perempuan.
Salah satunya dianggap sebagai konseptor berinisial AMM. Saat ini semuanya sudah diperiksa, namun kami tetap menghormati prinsip ‘presumption of innocence’ (praduga tak bersalah). Mereka (mahasiswa yang terlibat, red.),” katanya saat jumpa pers di Gedung Widya Puraya, Undip Tembalang, Senin (22/5) kemarin

Ia menerangkan, karena terjadi di lingkungan kampus dan dilakukan oleh mahasiswa, para pelaku akan menjalani pemeriksaan awal di tingkat fakultas karena pihak universitas menganggap apa yang dilakukan mahasiswa itu merupakan pelanggaran akademik yang serius.

“Dari pemeriksaan awal, konseptor pemasangan poster itu, yakni AMM adalah anggota BEM FISIP, bukan BEM Undip, serta kegiatan itu bukanlah kegiatan BEM FISIP karena belum ada izin dari Ketua BEM, Senat FISIP, maupun Dekan FISIP Undip,” tegasnya.

Para terduga menjalani pemeriksaan di tingkat fakultas, setelah itu pemeriksaan naik di tingkat universitas, sesuai dengan peraturan akademik (perak). “Aturannya memang begitu. Di tingkat universitas ada hakimnya, jaksanya, dan penasehat hukum. Nanti ditentukan salahnya apa, tingkatnya apa, sanksinya apa,” katanya.

Sanksi yang diberikan kepada pelaku, lanjutnya, akan diambil dengan melihat  hasil pemeriksaan, sebab bisa saja sanksinya berupa skorsing, dan yang terberat berupa DO (drop out). “Kami lebih mengedepankan sanksi sesuai dengan koridor pendidikan dan pengajaran,” tandasnya.

Terpisah Kasat Intelkam Polrestabes Semarang AKBP Ventie Bernard Musak  mengatakan penanganan kasus tersebut saat ini masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi. “Saat ini kami masih melakukan pemeriksaan saksi, kalau memang sudah cukup bukti baru dinaikkan jadi tersangka, kalau cukup bukti,” ujarnya singkat.(mha/den/zal)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here