33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Bapak-Anak dan Dosen Undip Tewas

Avanza Ditabrak KA di Toroh, Grobogan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SEMARANG-Kecelakaan mobil rombongan pengantar pengantin yang tertabrak Kereta Api (KA) Argo Anggrek No Loko CC 2061392 hingga terbakar di perlintasan KA tanpa palang pintu Desa  Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan, Sabtu (20/5) sekitar pukul 10.45 kemarin membawa duka bagi warga Kota Semarang. Sebab, empat korban penumpang mobil Avanza silver bernopol B 1937 UZQ yang tertabrak adalah warga Kota Atlas.

Mereka adalah  Dr Ir Sri Agus Bambang Santoso MSi, 60, warga Perumahan Dinar Mas, Kelurahan Meteseh, Tembalang; Agus Abdullah, 55, Pemandu Wisata warga Perumahan Ketileng Indah I No 17 Kelurahan Sendang Mulyo RT 7 RW 15 Tembalang; Ihsan Ngadikan, 60, Kepala SDN Meteseh 01, warga Perumahan Dinar Mas Gang 9 No 8 Meteseh, Kecamatan Tembalang, serta Samsul Bahtiar, 30, putra sulung Ihsan Ngadikan.

Baca Juga : Ngunduh Mantu Digelar Tanpa Sound System

Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 10.45. Berawal saat rombongan pengantin dan pengantar dari Semarang hendak ngunduh mantu pasangan pengantin Achmad Chosim, 24, dengan Azkiya Adzimatiur, 20, ke rumah pengantin pria di Dusun Ketanggan RT 1 RW 8 Desa Katong, Kecamatan Toroh. Rombongan menumpang empat mobil, yakni  Kijang Innova, Suzuki APV, Elf dan Toyota Avanza. Azkiya Adzimatiur sendiri adalah putri Syaiful, warga Perumahan Dinar Mas. Pernikahan sudah berlangsung pekan lalu, dan kemarin acara tasyakuran di pihak pengantin pria.

Saat melewati perlintasan KA tanpa palang pintu Desa Katong, Kecamatan Toroh dari arah utara ke selatan, meluncur  KA Argo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta yang dimasinisi Arie Oktavian. KA yang membawa 12 gerbong itu melaju kencang dari arah timur ke barat dengan kecepatan 90 kilometer per jam. Saat ada KA itu, warga sekitar sudah meneriaki rombongan agar berhenti. Namun rombongan masih nekat melintas.

Tiga mobil, yakni Kijang Innova, APV, dan Elf selamat bisa menyeberangi rel. Nahas bagi mobil Avanza. Mobil yang ditumpangi keempat korban ini tertabrak KA hingga terseret sejauh 500 meter. Mobil baru berhenti di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, dengan melewati jembatan hilir Sungai Serang. Mobil warna silver itu hancur dan terbakar. Empat penumpangnya tewas seketika dengan kondisi badan hancur terbakar.

Yang mengharukan, dua dari empat korban adalah bapak-anak. Yakni, Ihsan Ngadikan dan anaknya Samsul Bahtiar. Kabar duka itu tentu saja  mengejutkan tetangga dan keluarganya. Apalagi baru 100 hari, Ngadikan ditinggalkan sang istri untuk selama-lamnya karena sakit. Kini tinggal anak bungsu Ihsan yang masih tersisa. Yakni, Helmi Adhi Darmawan, 17, tercatat sebagai siswa SMK Negeri 11 (SMK Grafika) Semarang.

Menurut Pratama Jujur Wibawa, 50, tetangganya, Ihsan Ngadikan adalah ​ Kepala SDN Meteseh 01 sekaligus pengurus Masjid Baitussalam Perumahan Dinar Mas bersama Syaiful dan Agus Bambang.  Semasa hidupnya, Ngadikan dikenal sebagai warga yang baik dan humoris. Ia juga merupakan pribadi yang rajin ibadah, dan kerap menjadi khatib Masjid Baitussalam.

“Saya nggak nyangka, beliau itu orangnya baik dan rajin ibadah. Jumat lalu beliau terakhir kontak saya melalui WhatsApp untuk meminta saya menjadi imam pada hari itu,” ungkap Pratama, yang juga pengurus Masjid Baitussalam.

Pratama mengatakan, setelah menjadi anak yatim piatu, anak bungsu Ngadikan, yakni Helmi Adhi Darmawan akan tinggal sementara dengan adik dari istri almarhum Ngadikan. “Saya sendiri kaget, sangat shock. Kasihan dia sekarang sendirian, baru 100 hari ditinggal ibunya, sekarang bapak dan kakaknya. Padahal kakaknya juga baru saja lamaran,” ujar adik ipar Ngadikan, Muali kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak jauh dari rumah Ihsan Ngadikan, salah satu korban yakni Dr Ir Sri Agus Bambang Santoso MSi yang merupakan dosen Ilmu Ternak Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (Undip).

Menurut Wakil Dekan III Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip, Sutopo, korban Agus Bambang dikenal sebagai dosen yang lembut dan sangat baik kepada rekan-rekannya. Kejadian itu pun mengagetkannya serta jajaran civitas akademika FPP Undip.

Sri Agus Bambang Santoso. (DOKUMEN PRIBADI)
Sri Agus Bambang Santoso. (DOKUMEN PRIBADI)

“Tadi pagi beliau itu masih komunikasi dengan saya, dia bilang mau ke Toroh. Saya pikir beliau kesana untuk kegiatan pengabdian, karena kami punya proyek juga di sana dan beliau ketuanya. Pak Dekan juga belum sempat kesini, beliau masih tidak menyangka,” katanya.

Sutopo mengatakan, pihaknya mendapatkan kabar melalui tetangga korban, Sutrisno yang juga dosen di FPP Undip, dan rumahnya terletak persis di depan rumah korban.

“Sekitar pukul 13.20 saya dapat telepon dari Pak Sutrisno, saat itu dia sudah bersama putra korban mau menjemput jenazah di sana (Grobogan),” bebernya.

Korban meninggalkan seorang istri, Lilik Budi Setyowati, 51, dan 4 anak, yakni Rahmi Amalia Kusumaningtyas, 26; Hadyan Arifianto, 25; Layalia Azka Rahmatina, 20, dan Sharfina Labibah Arifany, 9.

Tetangga korban, Surono, mengatakan, dirinya mengaku pagi sebelum kejadian sempat bertemu dengan korban. Ia menceritakan, saat itu korban bersama anaknya menuju rumah Syaiful untuk mengikuti sepasaran (ngunduh mantu). Namun saat itu ia tak langsung menyapa ketika melihat almarhum melintas berboncengan dengan anaknya. Tak lama kemudian, korban kembali dengan berjalan kaki untuk mengambil mobilnya, Toyota Avanza warna silver.

“Saya kan lagi di depan rumah, lihat Pak Agus sama anaknya naik motor. Tapi nggak lama beliau balik lagi kok jalan kaki. Saya tanya katanya mau ambil mobil, karena mau ikut rombongan Pak Syaiful ke Grobogan, mungkin karena banyak rombongan, jadi harus bawa kendaraan lagi,” katanya.

Surono menuturkan, Agus Bambang dan Ihsan Ngadikan memang dikenal sebagai teman baik. Sebab, keduanya merupakan pengurus Masjid Baitussalam. Agus Bambang sendiri juga ketua pengurus pemakaman di Perumahan Dinar Mas.

Salah satu alumnus Fakultas Peternakan Undip, Ani Wahyu Puji Lestari, 36, mengenang sosok Agus sebagai dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Ia suka menolong mahasiswanya. “Masih teringat, ketika beliau mau ngasih tebengan ke saya yang berdiri sendiri menunggu bus di daerah Bukit Kencana Jaya,” tutur Ani yang diajak membonceng vespa milik Agus.

Ani menceritakan, suatu ketika ketika diajak membonceng menuju kampus Tembalang, Vespa yang mereka kendarai mogok di tanjakan Sigar Bencah. Ketika ada bus yang lewat, Agus langsung meminta Ani agar naik bus, tanpa menunggu dirinya yang sedang memperbaiki vespanya.

“Saya diminta untuk naik bus yang pas lewat, karena beliau tidak mau saya terlambat kuliah. Semoga amalan Pak Agus diterima oleh Allah SWT. Amin,” ucap Ani yang menjadi mahasiswa Agus pada 1999-2004.

Kepergian Agus Bambang untuk selama-lamanya juga menimbulkan duka mendalam bagi teman-temannya sesama dosen FPP Undip. Rekan kerja almarhum, Daud Samsudewa, saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, mengatakan, jika dirinya telah mengenal korban sejak menjadi mahasiswa, hingga saat ini menjadi rekan kerja dan sama-sama berprofesi sebagai dosen. “Tidak ada yang berubah dari beliau, tetap humble dan selalu siap memberikan bantuan kepada siapapun,” katanya.

Saat Daud masih menjadi mahasiswa FPP, korban merupakan pribadi yang sangat menyenangkan. Bahkan bisa menjadi seorang bapak. Hal yang sama ketika keduanya kembali dipertemukan dalam dunia kerja, almarhum menjadi dosen senior yang ringan tangan dan tidak memilah-memilah dalam memberikan bantuan.

“Waktu saya jadi mahasiswanya, beliau sering memberikan bantuan. Setelah menjadi rekan kerja pun tetap sama, bahkan ia selalu memberikan pelayanan kepada mahasiswa dengan baik. Bagi rekan sejawat, beliau juga menjadi teman curhat,” kenangnya.

Sebagai dosen senior, almarhum selalu mengingatkan juniornya ketika bekerja tidak sesuai jalur. Tokoh panutan itu sekarang pergi untuk selama-salamanya, yang menurut Daud menimbulkan duka sekaligus luka kepada segenap warga di Fakultas Peternakan dan Pertanian. “Sempat kerja bareng untuk melakukan pengabdian masyarakat di Plantungan Kendal tahun lalu, bahkan sampai tahun ini pun kami bersama beliau masih terus melakukan pendampingan,” ucapnya sedih.

Daud mengaku, terakhir bertemu korban pada Kamis(18/5) lalu. Saat itu Agus Bambang memberikan motivasi untuk terus belajar. Selain itu juga berpesan untuk bisa ngopeni dosen yang sepuh dan ngayomi dosen junior ataupun mahasiswa. Motivasi tersebut sengaja diberikan karena Daud yang saat ini sedang menjadi pengurus di laboratorium.

Ia tak menyangka pertemuannya itu adalah pertemuan terakhir sekaligus meninggalkan kesan dan pesan yang mendalam. ” Beliau minta saya untuk bisa nylondohi ke atas dan ke bawah, itu pesan dari  beliau,” ucapnya lirih. (tsa/den/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Laga Persahabatan, Jaga Keguyuban

SEMARANG - Di tengah kesibukannya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi masih meluangkan waktu untuk berolahraga. Kali ini, Hendi bersama tim sepak bola Muspida Kota...

Pelatih Penentu Kualitas Atlet

SEMARANG - Posisi pelatih memiliki peran sentral dalam peningkatan kualitas atlet. Dia berstatus sebagai pemborong, yang dalam latihan punya peran memperhatikan makan atlet, melatih...

Satgas TMMD Selamatan Bareng Warga

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reg 102 di Desa Bononerto Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang telah separuh jalan. Kegiatan pengerjaan rehabilitasi...

Merawat Keberagaman Melalui Ekspedisi Kebangsaan

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, menyambut kedatangan para pemuda yang tergabung Ekspedisi Kebangsaan Menggembirakan Keberagaman, di Pendopo Rumah Dinas Bupati, bersama Dandim...

Terpeleset ke Parit, Balita Tewas Terseret Arus

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Ini menjadi peringatan bagi para orangtua untuk selalu mengawasi putra-putrinya yang masih balita saat bermain di luar rumah. Sebab, gara-gara tidak...

Tubuh Gemuk, Tak Perlu Minder

SEMARANG - Kelebihan berat badan kerap menjadi momok bagi setiap kaum hawa. Tak sedikit yang menjadi kurang percaya diri saat tampil di depan umum....