Ngunduh Mantu Digelar Tanpa Sound System

  • Bagikan
SEDIH: Wagimin dan suasana acara tasyakuran ngunduh mantu putranya, kemarin. (SIROJUL MUNIR/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEDIH: Wagimin dan suasana acara tasyakuran ngunduh mantu putranya, kemarin. (SIROJUL MUNIR/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KECELAKAN mobil Avanza yang ditabrak KA Argo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta membuat keluarga Wagimin, 56, warga Dusun Ketanggan RT 1 RW 8 Desa Katong, Kecamatan Toroh terpukul. Sebab, keempat korban tewas adalah rombongan dari keluarga besannya. Rencananya, kemarin memang akan digelar tasyakuran ngundul mantu putranya Achmad Chosim, 24, yang menikahi Azkiya Adzimatiur, 20, warga Perumahan Dinar Mas, Meteseh, Tembalang.

Akibat adanya musibah itu, acara yang sedianya untuk penerimaan tamu dan kenalan antar keluarga berubah jadi duka. Meski demikian, acara tetap dilanjutkan meski dengan rangkaian sederhana. Keluarga tidak menyalakan sound system dan hanya memasang tenda dan kursi. Saat mendengar satu dari empat mobil rombongan pengantin mengalami kecelakaan, Wagimin langsung shock.

”Saat mendengar ada kabar itu, saya langsung tidak percaya, dan rasanya hati sedih tidak karuan,” kata Wagimin.

Kecelakaan tersebut menjadikan keluarga dari kedua mempelai harus pasrah. Di mana semua rombongan yang ikut adalah masih saudara semua.  ”Semuanya masih saudara besan di Semarang, dan ada yang teman dan tetangga yang ikut. Kami di sini masih menunggu untuk proses evakuasi dan dipulangkan ke rumah duka,” ujarnya.

Dia merasa bersyukur anaknya, menantu dan besannya bisa selamat. Sebab, ikut rombongan mobil depan. Sedangkan yang kecelakaan adalah mobil rombongan paling belakang. Dijelaskan, anaknya sudah melangsungkan pernikahan pada Jumat (12/5) lalu di Masjid Baitussalam Puri Dinar Mas Semarang. Kemudian pada Sabtu (13/5) lalu, digelar tasyakuran di rumah mempelai perempuan di Puri Dinar Mas Semarang.

”Sebenarnya rombongan ini datang untuk tasyakuran nikah di rumah kami setelah sepasar. Istilahnya ngunduh mantu. Tetapi pas acara malah ada kejadian kecelakaan. Saya hanya bisa mendoakan semoga keluarga bisa diberikan ketabahan,” ucapnya sedih.

Narto, salah satu warga Desa Katong, Kecamatan Toroh mengaku, kecelakaan di perlintasan KA tanpa palang pintu itu terjadi tidak hanya sekali. Dia mengatakan, setahun lalu juga ada truk engkel tertabrak KA hingga truknya nyangkut di jembatan.  ”Saat itu, sopir truk juga meninggal dunia. Warga sudah meminta jalan tersebut diberi palang pintu, karena lalu lintasnya ramai dan posisinya hanya 500 meter dari Stasiun Sedadi,” harapnya. (mun/jpg/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *