33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

Stasiun Bersejarah Jadi Gudang Tembakau

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

TEMANGGUNG- Stasiun Parakan Temanggung yang dibangun pada zaman kolonial Hindia Belanda mempunyai nilai historis dan strategis pada masanya. Stasiun tersebut beroperasi sejak tahun 1907 hingga 1973. Dari 1973 hingga sekarang stasiun tersebut sudah tidak berfungsi lagi.

“Saat ini, stasiun tersebut digunakan untuk gudang tembakau. Selain itu juga digunakan tempat tinggal beberapa warga,” ucap Sejarawan Parakan Sutrisno Murtiyoso saat menjadi narasumber seminar kesejarahan yang digelar mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) di gedung eks Kawedanan Parakan, Kamis (18/5).

Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI) itu membeber, pada masa kolonial, stasiun Parakan memiliki fasilitas lengkap. Meliputi gudang, dipo kereta api dan lokomotif. Di masa revolusi 1945-1950 stasiun Parakan memiliki peran sentral dalam terbentuknya Satuan Pelajar Temanggung yang terkenal dengan Barisan Pemuda Temanggung (BPT).

“Pada saat itu, diperuntukkan sebagai tempat pasokan alutsista bagi BPT. Selain itu, pada masa itu, stasiun banyak diperuntukkan untuk mengangkut komoditi-komoditi ekspor yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Parakan berkembang pesat,” ucapnya.

Pria yang kini menjadi Dosen Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta ini melanjutkan, pada era penjajahan Jepang, fungsi kereta lebih untuk kepentingan angkut penumpang, di samping juga tetap untuk mengangkut komoditi hasil bumi. Sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan para pejuang seperti Laskar Hizbullah Parakan guna menghadapi upaya agresi militer Belanda di Jogjakarta.

Stasiun Parakan sempat dibumihanguskan oleh para pejuang sebagai taktik agar Belanda tidak mengusai objek-objek vital. Akibatnya, Stasiun Parakan sempat dipugar pada bagian atapnya pada tahun 1950. “Stasiun ini, masih ramai hingga tahun 1970-an, tak berselang lama pada tahun 1973 stasiun resmi ditutup seiring ditutupnya jalur dari Secang, karena penumpang yang turun drastis,” ucapnya.

Pegiat Cagar Budaya Jawa Tengah Widya Wijayanti menuturkan, stasiun Parakan bisa masuk dalam status bangunan cagar budaya. Mengingat, stasiun tersebut berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki gaya suatu masa. “Jika dilihat dari arsitektur, bangunan eks Stasiun Parakan memiliki kombinasi gaya arsitektur antara gaya tradisional dan gaya kolonial Eropa,” jelasnya.

Didik Nuryanto dari Dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung menuturkan, pada 2016, Kota Parakan ditetapkan sebagai Kota Pusaka. Salah satu yang ditonjolkan adalah eks bangunan Stasiun Parakan. “Kami juga telah mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan bahwa eks Bangunan Stasiun Parakan bisa ditetapkan lewat SK (Surat Keputusan) menjadi cagar budaya,” ungkapnya. (san/ton)

Berita sebelumyaDewan Soroti Masalah Kemiskinan
Berita berikutnyaKebanjiran Poster

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

DPC Dukung Penuh Sikap SBY

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Semarang mendukung penuh pelaporan Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Bareskrim Polri terkait pencemaran...

Rest Area Tol Wajib Ada Produk Daerah

RADARSEMARANG.COM, SLAWI –Rest area di sepanjang jalan tol Trans Jawa diminta menyediakan tempat untuk menampung Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Diprioritaskan, UMKM itu menjual...

Antisipasi Overload, Bangun 5 Sub TPA

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Tempat pembuangan akhir (TPA) Randu Kuning Tegalsari terancam overload. Untuk mengatasinya, Pemerintah Kabupaten Batang akan membangun sub TPA dengan sistem modern di...

Gelar Pameran Kearsipan

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga Selasa (24/7) lusa mengadakan Pameran Kearsipan Kota Salatiga untuk ke-8 kalinya. Kegiatan ini mengambil tema...

Sebarkan Hoax, Didenda Rp 1 M

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito meminta warga bijaksana dalam menggunakan media sosial (medsos). Ia tak mau, ada penyalahgunaan yang membuat kerugian,...

Atlet Gulat Jateng Bidik Target Olimpiade

SEMARANG - Atlet Gulat Jawa Tengah diminta untuk tidak hanya puas dengan prestasi tingkat provinsi ataupun nasional. Mereka harus berani bercita-cita menjadi juara di...