32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Kenang Perjuangan Pemuda Magelang Tempo Dulu

MAGELANG- Pengunjung Magelang Tempo Doeloe (MTD) antusias menonton drama Fragmen Perdjoeangan Kemerdekaan Repoeblik Indonesia yang dipentaskan Komunitas ‘Magelang Kembali’ di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (14/5). Drama yang mengambil setting awal masa kemerdekaan di Kota Magelang, diramaikan dengan petasan yang diibaratkan sebagai suara senapan dan bom.

Fragmen sejarah ini mengambil latar waktu bulan September 1945 saat berita proklamasi kemerdekaan sampai di Kota Magelang. Para pemuda merasa sudah merdeka dan ingin merebut markas tentara Jepang. Suasana semakin panas ketika ada pemuda Magelang yang dianiaya serdadu Jepang. Sekelompok pemuda langsung mendatangi markas tentara Jepang dan terjadi baku tembak.

Suasana memanas ketika tentara Sekutu datang ke Kota Magelang dengan tujuan memegang kendali keamanan. Namun, Sekutu ternyata membebaskan tentara Belanda yang ditahan Jepang. Tindakan tersebut memicu kemarahan para pemuda Kota Magelang dan tentara rakyat. Mereka kemudian menyerang markas tentara sekutu. Terjadi baku tembak yang mengakibatkan jatuh banyak korban di pihak laskar Republik Indonesia.

Pelaksana kegiatan dari Komunitas Magelang Kembali, Slamet Hidayat menjelaskan, mereka sengaja memakai petasan dan kembang api agar tercipta suasana perang. “Agar pengunjung bisa merasakan suasana perang sesungguhnya,” beber Slamet.

Salah satu pengunjung, Nadya, siswa kelas V SDN 4 Magelang, mengaku penasaran dengan drama perjuangan. “Saya jadi tahu suasana perang zaman dahulu seperti itu. Ini menjadi pelajaran sejarah buat saya,” aku Nadya.

Sementara pengunjung lainnya, Wiwik, guru TK Islam Magelang mengaku senang dengan pementasan drama sejarah perjuangan. “Ini sarat dengan pendidikan, event ini sangat bermanfaat dan memberi pemahaman tentang sejarah dan suasana Kota Magelang tempo dulu,” ucap Wiwik.

Fragmen Perdjoeangan Kemerdekaan Repoeblik Indonesia merupakan salah satu rangkaian acara Magelang Tempo Doeloe, yang dilaksanakan 12-14 Mei. Rangkaian kegiatan banyak mengusung tema masa lalu. Sebanyak 76 stand yang memamerkan barang-barang tempo dulu seperti sepeda onthel kuno, uang kuno, dolanan anak, dan masih banyak lainnya.

Ketua Panitia Magelang Tempo Doeloe Herry Nurjianto mengatakan, tujuan pameran adalah untuk memberikan pemahaman, pengetahuan, dan sarana pendidikan kepada masyarakat terutama generasi muda akan pentingnya pengenalan sejarah. “Ini juga sebagai upaya melestarikan budaya bangsa terutama sejarah yang pernah ada di Kota Magelang. Sehingga akan terbentuk rasa kebanggaan, rasa memiliki dan melindungi budaya bangsa,” tandas Herry.

Tema pameran kali ini adalah ‘De Passar’, yaitu tentang pasar tradisional. Pasar sudah ada sejak zaman kolonial Belanda di Indonesia. Kota Magelang, menurut Herry, sejak zaman dahulu sudah memiliki pasar seperti Pasar Rejowinangun, Pasar Ngasem, Pasar Kebonpolo, Pasar Ampera. “Dia pasar tradisional, gambaran humanisme sungguh terasa. Kita dapat menemukan rasa toleransi, kerukunan dan saling tolong menolong antarsesama pedagang dan pembeli,” beber Herry. (cr3/ton)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here