32 C
Semarang
Selasa, 15 Juni 2021

Pasar Banyumanik Jadi Tempat Hunian, Pasar Manyaran Tutup

Fakta menyedihkan di sejumlah pasar tradisional adalah adanya ribuan kios yang mangkrak, lantaran ditinggalkan pedagangnya. Sebagian beralasan, karena dagangan tidak laku dan sepi pembeli. Bahkan sejumlah pasar tradisional, kondisinya mengenaskan karena hanya ditempati oleh segelintir pedagang. Ironisnya, sejumlah pasar malah justru dijadikan tempat hunian atau tempat tinggal warga. 

PASAR Banyumanik dilengkapi sebanyak 48 kios, namun hanya 19 kios yang masih aktif beroperasi dan membayar retribusi. Lainnya mangkrak menjadi gudang dan sebagian dijadikan tempat hunian. Bahkan, dihuni oleh para pengamen dan gelandangan maupun penghuni yang merupakan pedagang di pasar tersebut. Sebanyak 19 kios yang aktif itu pun kebanyakan bukan pedagang pasar, melainkan para biro jasa penyedia tiket bus alias calo tiket bus.

Baca Juga :

Kepala Pasar Banyumanik Fauzi mengaku tidak bisa berbuat banyak atas kondisi Pasar Banyumanik yang hidup segan mati tak mau ini. ”Kondisinya seperti ini. Kebanyakan dihuni biro jasa. Lainnya ada pedagang makanan dan minuman, bakso, kebutuhan pokok sembako ada dua pedagang, pedagang sayur dua orang, serta pedagang ikan dan kelapa. Total yang masih aktif bayar retribusi sebanyak 19 pedagang,” kata Fauzi ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dia tak membantah bila sebagian kios bagian belakang ditempati warga untuk hunian atau tempat tinggal. Saat ini, pihaknya mengaku masih melakukan sosialisasi agar kios-kios tersebut tidak ditempati. ”Kami sudah melarang pengamen maupun gelandangan yang berupaya menjadikan kios-kios pasar dijadikan tempat tinggalnya,” katanya.

Tetapi sebagian warga yang menempati sejumlah kios tersebut memang pedagang di pasar. ”Alasannya daripada pulang ke rumahnya jauh, mereka menginap di kios pasar. Sedangkan beberapa kios menganggur dan dijadikan gudang. Di dalamnya sudah kosong, rata-rata ukuran kios 3×3 meter persegi,” katanya.

Menurutnya, kondisi memprihatinkan yang terjadi di Pasar Banyumanik sudah berlangsung lama. Awalnya memang kondisi pasar sepi, sehingga dagangan milik pedagang tidak laku. Hal itu menyebabkan pedagang gulung tikar dan berupaya mencari usaha lain di luar pasar. ”Masalahnya berantai, mulai minimnya modal untuk pengembangan sehingga menyebabkan barang dagangan kurang komplet yang diperparah minimnya pengunjung yang mau datang. Ada yang dagangannya dikompleti, ternyata tidak laku, sehingga rugi banyak,” katanya.

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here