Pengusaha Butuh Proses untuk Naik Kelas

967
SUKA BERORGANISASI : Arnaz saat menghadiri sebuah acara. Sejak kecil dia suka berorganisasi.

Arnaz Agung Andrarasmara adalah sosok yang cukup konsen di bidang organisasi kepemudaan maupun pengusaha.  Di dunia usaha pun, nyaris semua usaha yang pernah dibangunnya bisa disebut sukses. Tapi siapa sangka, Arnaz mengaku tidak pernah sedikit pun bermimpi jadi pengusaha saat masih kecil. Dia justru merasa, menjadi pengusaha itu karena ‘terjebak situasi’.

Dulu, Arnaz sebenarnya sudah cukup mapan tinggal di Jakarta. Penghasilanya bisa dibilang cukup untuk hidup sehari-hari. Dia pun sempat punya niat fokus meniti kariernya tersebut dan tinggal di Jakarta. Sayang, sang istri, Andriyani yang bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Semarang menolak diajak ke Jakarta karena masih ingin mengajar di Kota Semarang. “Akhirnya saya yang ngalah, pulang ke Semarang. Waktu itu, saya bingung mau kerja apa,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak kalah akal, pria kelahiran Semarang, 6 Juni 1976 ini mencoba mencari potensi yang dimiliki. Yaitu punya banyak jaringan karena memang masa mudanya hobi mengikuti berbagai organisasi. Dari situ, Arnaz pun memilih untuk menjadi wirausaha. “Jadi ini semacam kecelakaan. Saya memang tidak pernah punya niat untuk menjadi pengusaha,” ucapnya.

Menurutnya, modal awal untuk menjadi pengusaha itu bukan segepok rupiah. Tapi jaringan. Kebetulan, Arnaz punya banyak jaringan yang dibangun dari hobinya berorganisasi. “Modal awal memulai usaha itu kan dari jaringan. Kebetulan sejak SD, saya suka berorganisasi. Dari OSIS, Senat hingga kepramukaan ,” ucapnya.

Pengalaman berorganisasi itu juga mencetak Arnaz dalam mengatasi permasalahan. Dia yang kerap ditunjuk menjadi ketua organisasi, akhirnya menjadi sebuah kawah candradimuka belajar mencari solusi, mengatasi masalah, mengenal karakter orang lain hingga cara membangun dan merawat jaringan. Juga seabrek pengalaman lain yang bisa dimanfaatkan di dunia usaha.

Arnaz resmi membuka usaha kali pertama tahun 2006. Saat itu, dia menggeluti bidang farmasi dan konstruksi. Bidang usaha itu pun bukan kehendaknya. Karena menurutnya, bidang usaha sangat dipengaruhi faktor lingkungan. “Kalau dulu saya berada di lingkungan jual ponsel, ya saya jual ponsel. Ndilalah saya berada di perdagangan farmasi dan konstruksi ya ikut usaha bidang tersebut” terangnya.

Meski tergolong terpaksa, Arnaz tetap serius menjalankannya. Dia membangun komitmen bisnis agar usahanya tetap berjalan mulus seperti yang semestinya. Awalnya, memang mengalami banyak benturan. Termasuk mengalami kerugian yang cukup besar. Sekitar Rp 20 juta. “Waktu itu nangisnya tiga hari tiga malam,” katanya.

Dari berbagai benturan itu, mental usaha Arnaz justru semakin terbentuk. Menjadikan pengalaman menjadi senjata untuk menghadapi tantangan yang berada di depannya. Makin lama, dia jadi lebih paham seluk beluk di dunia usaha, terutama dalam membangun manajemen risiko. Mencari solusi untuk meminimalkan kerugian yang kemungkinan akan terjadi. Hingga akhirnya mengelola apotek di Jakarta. “Dari situ, saya bisa merambah ke usaha lain,” katanya.

Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari perjalanan Arnaz dalam membangun usaha. Yang dia yakini, seorang pengusaha harus lihai dalam membaca situasi. Jangan pernah punya obsesi langsung ingin menjadi kaya. Semua harus dirintis dari nol. “Bisnis itu bukan politik praktis. Pengusaha butuh proses naik kelas. Seperti anak sekolah, harus kelas 1 dulu baru kelas 2, kelas 3, dan seterusnya. Kalau dari kelas 1 ingin langsung ke kelas 6, malah nggak bisa berhasil,” paparnya.

Baginya, bisnis dijalankan dengan kerja keras. Menjaga komitmen, mau mendengarkan masukan orang lain meski terasa pedas didengar, hingga mampu ngemong orang lain. Arnaz selalu memegang empat kunci itu hingga saat ini menjadi pengusaha sukses.

Uang, bagi Arnaz, bukan modal utama dalam memulai usaha. Jika ada calon pengusaha yang merasa terbentur ketika ingin memulai usaha, Arnaz mengklaim, dia tidak punya bakat jadi pengusaha. “Menjadi pengusaha memang tidak mudah. Tapi kalau sudah mengeluh terbentur uang untuk modal, berarti dia nggak cocok jadi pengusaha,” katanya.

Usaha butuh jaringan yang didukung good relationship dan good communication. Pengusaha juga perlu kritis terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan. Perfeksionis kadang diperlukan seorang pengusaha. Terutama dalam merinci keluar masuknya uang.

Arnaz mengaku sudah biasa detil dalam menggunakan uang sejak masih usia remaja. Setelah ibunya meninggal, dia harus mengelola uang dari sang ayah yang saat itu masih jadi tentara. “Jadi kalau ayah ngedrop uang, langsung saya catat jumlahnya berapa. Pas belanja kebutuhan rumah juga dicatat. Beli cabai berapa, bayar listrik berapa, pokoknya nritik. Nritik itu bukan pelit. Ini justru membuat saya bisa membedakan mana kebutuhan pribadi dan perusahaan. Biar nggak tumpang tindih,” tegasnya. (ajie mahendra/ric)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. saya devi pusponingtyas,email saya devipusponingtyas@gmail.com.anak saya kembar dan kembaran nya arra saya pengusaha blm seberhasil anda diceraikan suami krn salah satunya anak…sekarang kembarannya yang saya bawa sedih krn dipisahkan dr kembarannya yg blm pernah dtemui dan merasa arana kembarannya.anak saya jg ikut merby sekelas dgn arana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here