33 C
Semarang
Senin, 28 September 2020

Geliat Driver Ojek Perempuan di Kota Semarang

Rela Berhenti Jadi Pramuniaga, Pilih Jadi Driver Go-Jek

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

Dulu driver ojek hanya didominasi kaum pria. Namun kini kaum hawa pun banyak yang menekuni pekerjaan ini. Apalagi setelah marak ojek berbasis aplikasi alias ojek online.

DULU, orang mungkin malu menjadi tukang ojek. Hanya orang-orang tertentu saja yang menjalaninya. Kini, setelah marak ojek online, driver ojek telah menjadi profesi baru yang banyak diminati warga. Bahkan kini lebih dari 5.000 driver ojek online beroperasi di Kota Semarang. Di antara para pengojek itu adalah kaum perempuan.

Salah satunya Dekawati Kusuma Dewi. Gadis 23 tahun ini menjadi dirver Go-Jek sejak Oktober 2016. Bahkan, dara kelahiran Magelang 4 Agustus 1994 ini rela keluar dari pekerjaan lamanya sebagai pramuniaga di salah satu toko di Kota Atlas demi menekuni profesinya ini. Alasannya, tidak lain karena hasil yang menggiurkan.

Deka –sapaan akrabnya—mengaku, dalam sehari  bisa 11 sampai 12 kali mengantarkan penumpang. Penghasilannya bisa sampai Rp 160 ribu per hari. Jumlah penghasilan itu, menurutnya, turun dibanding saat awal bergabung dengan Go-Jek, karena ada kebijakan dari manajemen yang menurunkan besarnya bonus, dan ongkos kirim makanan (Go Food).

“Tadinya saya kerja di toko. Rasanya kok bosen, karena pekerjaannya menjemukan. Lalu saya diajak  ibu saya gabung di Go-Jek. Kebetulan ibu saya sudah bergabung lebih dulu,” kenang mahasiswi Fakultas Psikologi kelas sore Universitas Semarang (USM) ini.

Setelah bergabung Go-Jek, Deka harus bisa membagi waktu antara jam bekerja dan kuliah. “Biasanya jam 10.00 pagi sampai 15.00 sore narik Go-Jek. Setelah itu, saya siap-siap kuliah. Mulai jam 17.00 saya kuliah sampai malam,” jelasnya.

Sejauh ini, Deka mengaku senang menggeluti profesi sebagai pengemudi ojek online. Bahkan saat ditanya suka-dukanya menjadi driver Go-Jek, Deka menyebut lebih banyak sukanya. Meski dirinya perempuan, hingga kini belum pernah mendapat penumpang laki-laki yang jahil.

Alhamdulilah, aku belum pernah menghadapi pelanggan yang jahil. Dukanya cuma kalau hujan, orderan gak menentu. Ambil order jaraknya jauh-jauh, belum lagi kalau ada orderan palsu ditelepon gak bisa,” katanya.

Diakui, beberapa kali dia mendapat pelanggan penumpang pria malah sungkan bila Deka harus mengemudi di depan. Alhasil, penumpangnya itu menawarkan diri untuk mengemudi di depan, sementara dirinya membonceng di belakang.

“Malah pelanggan yang sungkan ke aku kalau tak boncengin. Pernah pelanggan minta yang di depan, saya yang dielakang. Dan itu ndak cuma sekali, udah sering, Mas, hehehe. Seingetku aku pernah diboncengin pelanggan dari Jalan Erlangga Tengah sampai Stasiun Poncol,” kenangnya sambil tersenyum.

Driver ojek cewek lainnya, Lailatun Nadhiroh dari Ekonomis Ojek (Kojek) Semarang,  mengaku, memiliki pengalaman sangat menyenangkan dan seru selama menjadi tukang ojek. Misalnya, ia pernah kesasar saat mengantar penumpangnya. Hal itu lantaran si penumpang lupa dengan alamatnya. “Saya harus muter-muter lama, karena penumpang saya lupa alamatnya,” katanya.

Ia juga pernah diminta penumpang ibu-ibu untuk membawa belanjaan yang cukup banyak. Meski kerepotan, penumpangnya itu tak membantu.

Alhamdulillah kalau digodain belum pernah, yang ada justru diramahin sama mas penumpang, jadi enjoy saja selama menjadi driver wanita,”ujar mahasiswi semester 4 jurusan PG-PAUD Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini.

Namun demikian, gadis yang akrab disapa Lala ini mengaku tidak pernah terbesit menjadi seorang driver ojek. Awalnya, ia mendaftar hanya iseng. Setelah diterima dan dicoba, ternyata menyenangkan dan bisa menghasilkan uang. Bahkan, hasil ojeknya  bisa digunakan untuk menambah biaya kuliah.

“Kalau di Kojek kerjanya fleksibel, dan tidak menyita waktu kuliah maupun kegiatan saya di kampus. Keluarga saya juga tidak mempermasalahkan. Kalau teman-teman kos maupun kuliah justru malah penasaran keasyikan ngojek, sehingga sering minta diceritakan kisah-kisahnya,”aku gadis asal Pati ini.

Dalam sebulan, ia bisa mendapatkan 25 penumpang. Lala sendiri bergabung dengan Kojek sejak September 2016 lalu. “Selama menjadi driver, baru 3 kali saya mendapat penumpang cowok. Lainnya cewek semua. Saya mendapat penumpang cowok tidak sengaja. Sebab, nama orang yang order di admin Kojek  seperti nama cewek.  Setelah saya jemput, ternyata cowok, tapi penumpangnya baik semua,”ungkapnya.

Ditanya pendapatan yang diterima menjadi driver Kojek, Lala mengatakan penghasilannya dipotong 10 persen untuk Kojek setiap harinya. Uang tersebut dimasukkan ke kas dan digunakan untuk promosi, garansi untuk penumpang, dan pernah juga untuk membeli masker, minuman, dan mawar yang dibagikan saat hari Valentine

“Kalau untuk pendapatan masih kecil, sekitar Rp 400 ribu sebulan. Kalau driver cowok bisa sampai Rp 2 juta. Apalagi aku nggak setiap hari ambil ordernya, bahkan kadang seminggu off,” ujarnya. (mg30/jks/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

RADARSEMARANG.COM - PERKEMBANGAN teknologi menuju era digitalisasi sudah merambah ke bidang pendidikan. Siswa dengan istilah “anak zaman now” tidak dapat lepas dari teknologi. Hampir...