Dorong Guru Menulis di Surat Kabar

  • Bagikan

SEMARANGSebesar apapun teori menulis dipelajari, kalau tidak berlatih keras dan membiasakan menuangkan gagasan atau ide ke dalam bentuk tulisan, tetap akan kesulitan menulis. Karena kemampuan menulis, hampir sama dengan berlatih berenang. Teori saja tidak cukup, terpenting adalah praktik. Hal itu diungkapkan Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, Ida Nor Layla saat memberikan materi pelatihan penulisan opini pendidikan di surat kabar yang digelar di aula lantai 1 kantor Jawa Pos Radar Semarang, Jalan Veteran No 55 Semarang, Sabtu (13/5). “Kunci sukses agar bisa menulis adalah yakin bisa menulis, senang menulis dan berusaha keras untuk tetap konsisten menulis,” ujar Ida

Kegiatan tersebut diikuti sedikitnya 72 guru tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK di Jateng. Di antaranya, berasal dari Kota Semarang, Ungaran, Cilacap, Slawi, Pemalang, Pati, Kendal, Demak, Grobogan, Kudus dan Rembang. Acara dibuka  oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto.

“Kegiatan ini untuk memotivasi para guru untuk menulis opini di media cetak. Kebetulan Jawa Pos Radar Semarang memiliki rubrik Untukmu Guruku yang menampung tulisan karya para guru. Sehingga diharapkan para peserta pelatihan bisa mengisi rubrik tersebut, sekaligus untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh dalam pelatihan,” kata Arif Riyanto.

Ia menambahkan, tema opini pendidikan bisa berupa inovasi dalam pembelajaran, hasil riset atau eksperimen guru maupun pengalaman dalam mengajar. “Intinya memang harus berani mencoba menulis dulu. Karena dari tidak biasa, lama-lama akan terbiasa,” ujar pria yang akrab disapa Aro ini.

Pengelola Pusat Pelatihan Guru Jawa Tengah, Ardan Sirajuddin, mengatakan, perlu adanya dukungan serta rangsangan kepada guru untuk melakukan gerakan literasi sekolah melalui artikel yang dibuat oleh guru. “Gerakan literasi ini bisa dalam bentuk opini atau artikel yang memuat ide atau gagasan yang bisa dibaca orang lain atau minimal muridnya. Sehingga tulisan yang dibuat bisa memberikan pencerahan bahkan insiprasi bagi pembacanya,” katanya.

Ia mengakui, jika saat ini para guru seakan enggan menulis, padahal banyak ide atau gagasan yang mereka miliki bisa bermanfaat bagi banyak orang. Rasa enggan menulis tersebut, biasanya karena barbagai kendala. Salah satunya kesibukan dalam mengajar.

“Selain itu banyak yang tidak tahu cara menuangkan hasil pemikirannya melalui tulisan.  Kalau pun sudah coba menulis cenderung kaku dan terlalu ilmiah, sehingga ketika dikirimkan ke media massa tidak bisa dimuat,” ujarnya.

Ardan berharap, setelah mengikuti pelatihan, para guru akan lebih produktif dalam membuat tulisan opini pendidikan, sehingga bisa memberikan manfaat bagi orang lain. “Jika ide dan gagasannya bagus, tentu bisa dimuat di surat kabar. Sehingga menjadi contoh yang baik bagi siswa agar mau menulis,” harapnya.

Agung Setyo Wardhono, Guru Kimia SMAN 1 Gemuh, Kendal, mengatakan, pelatihan tersebut punya manfaat lebih bagi guru yang belum pernah menulis. Ia mengaku mendapatkan kiat-kiat menulis opini yang rencananya akan dijadikan sebagai karya nyata bagi masyarakat luas.

“Selama ini terkendala cara penuangan ide dalam bentuk tulisan. Setelah pelatihan ini, kami diminta untuk mencoba menulis opini dan katanya akan dikoreksi oleh tim Jawa Pos Radar Semarang. Jadi, saya bisa lebih tahu bagaimana cara penulisan yang benar,” ungkapnya. (den/aro)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *