MEJENG DULU: Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Catur Gatot Efendi (kiri) memimpin langsung kegiatan Operasi Patuh Candi 2017 di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (11/5) kemarin. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEJENG DULU: Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Catur Gatot Efendi (kiri) memimpin langsung kegiatan Operasi Patuh Candi 2017 di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (11/5) kemarin. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas dinilai masih rendah. Terbukti, masih banyaknya pengendara roda dua maupun roda empat yang terjaring Operasi Patuh Candi 2017, Kamis (11/5) kemarin. Dalam operasi sehari itu, polisi menindak sebanyak 422 pengendara motor dan mobil. Pelanggaran terbanyak didominasi kelengkapan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Jumlah tersebut merupakan giat operasi yang digelar secara serentak Satuan Lalu Lintas Polrestabes Semarang di empat lokasi, kemarin. Empat titik lokasi tersebut, yakni Jalan Letjend Suprapto dengan jumlah penindakan E-Tilang 102 pelanggar. Terdiri atas pelanggaran STNK sebanyak 69, Surat Izin Mengemudi (SIM) berjumlah 29, dan kategori ranmor 4 sepeda motor.

Di lokasi Sam Poo Kong menindak sebanyak 89 pelanggar, terdiri atas 67 pelanggaran STNK dan 22 kelengkapan SIM. Di Jalan WR Supratman menindak 60 pelanggar, terdiri atas  50 kelengkapan STNK, SIM 8, dan ranmor 2 sepeda motor. Pada hari yang sama, razia juga digelar di Jalan Arteri Soekarno-Hatta, jumlah penilangan sebanyak 171 lembar. Terdiri atas tilang STNK 135 lembar, SIM sebanyak 33, dan ranmor 3 sepeda motor.

”Semua pengendara yang melanggar kita tindak tegas. Kita berikan E-Tilang (surat tilang) lembaran warna biru,” ungkap Kasat Lantas Polrestabes Semarang AKBP Catur Gatot Efendi saat memimpin Operasi Patuh Candi 2017 di Jalan Arteri Soekarno-Hatta kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/5).

Catur mengatakan, Operasi Patuh Candi 2017 digelar sejak 9 hingga 22 Mei 2017 mendatang. Sasaran dari kegiatan ini semua kendaraan baik roda dua, roda tiga maupun roda empat.

”Banyak sasarannya roda dua menggunakan knalpot tidak standar (brong), tidak bisa menunjukkan kelengkapan surat, dan tidak memakai helm. Jadi, kita periksa semuanya,” katanya.

Titik sasaran operasi berada di lokasi jalan yang rawan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Menurutnya, lokasi yang rawan pelanggaran adalah Jalan Pamularsih dan Jalan Majapahit. Sedangkan yang rawan kecelakaan berada di Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Kaligawe yang banyak dilewati kendaraan kecil maupun besar.

”Itu yang menjadi prioritas kita. Lokasi yang menjadi aksi balap liar juga menjadi atensi kita. Jadi, Operasi Patuh ini semua tempat yang di situ rawan. Waktunya juga fleksibel, bisa dilakukan 24 jam,” bebernya.

Menanggapi jumlah pelanggaran pada 2017 ini dibandingkan 2016, Catur mengatakan seiring dengan peningkatan populasi kendaraan, tidak menutup kemungkinan jumlah pelanggaran juga meningkat. Namun demikian, pihaknya dengan tegas berkomitmen melakukan tindakan tegas bagi pengendara yang melanggar aturan tertib lalu lintas. ”Memang terlihat masih banyak pelanggaran, utamanya pengendara roda dua. Baik kelengkapan STNK maupun SIM. Tak hanya itu, sejumlah remaja dan anak-anak  masih kedapatan tidak mengenakan helm,” ujarnya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seni Aji menambahkan, Operasi Patuh selalu digelar beberapa saat menjelang puasa sekaligus untuk pengamanan Operasi Ketupat saat arus mudik dan balik Lebaran. Karenanya, dilakukan Operasi Patuh untuk cipta kondisi agar saat pelaksanaan puasa dan Hari Raya Idul Fitri berjalan lancar.

”Kami mengimbau kepada masyarakat luas, tertib berlalu lintas dan patuh hukum harus terus dilakukan setiap harinya. Patuh dan tertib ini juga diharapkan tidak hanya dilakukan pada saat adanya operasi-operasi yang digelar oleh pihak kepolisian,” tegasnya. (mha/aro/ce1)