33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Cinta Kasih untuk Menjaga Keberagaman

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

MUNGKID- Peringatan Tri Suci Waisak 2561 BE/2017 telah selesai digelar hingga Kamis (11/5) pagi di pelataran Candi Agung Borobudur Kabupaten Magelang. Dalam prosesi mengenang peristiwa suci Sidharta Gautama itu, umat Buddha diminta untuk terus menebarkan cinta kasih kepada seluruh umat.

Dalam ceramahnya di detik-detik Waisak, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bikkhu Subhapanno Mahathera menuturkan, cinta kasih adalah suatu kekuatan untuk memelihara menyatukan umat manusia, khususnya di Indonesia, dalam sebuah keberagaman yang sesungguhnya. Dia menyebut , dengan cinta kasih maka terciptalah kebahagiaan hidup, kehidupan menjadi lebih cerah dan lebih luhur. Cinta kasih merupakan suatu pengharapan kesejahteraan dan kedamaian lahir batin, bagi semua makhluk hidup, tanpa adanya sekat apapun.

“Hal terpenting adalah menerima perbedaan, karena merupakan kebutuhan bersama. Perbedaan yang ada, bukanlah penghalang untuk hidup dalam persaudaraan dan persatuan. Selama ini, persaudaraan retak, karena disebabkan perbedaan yang dipermasalahkan,” ungkapnya.

Perbedaan itu sejatinya telah dijunjung tinggi oleh Mpu Tantular pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di kerajaan Majapahit abad ke-14 silam. Mpu Tantular sebagai pujangga sastra Jawa ternama yang begitu menghargai perbedaan.

DEMI INDONESIA : Sejumlah wisatawan ikut menerbangkan lampion di puncak acara Waisak 2561BE/2017 di pelataran Candi Borobudur, Rabu (10/5) malam. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
DEMI INDONESIA : Sejumlah wisatawan ikut menerbangkan lampion di puncak acara Waisak 2561BE/2017 di pelataran Candi Borobudur, Rabu (10/5) malam. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

“Sebagai bukti, salah satu syair memuat kalimat “Bhineka Tunggal Ika’ yang kini menjadi semboyan NKRI. Semboyan ini adalah pemelihara kebersamaan rakyat Indonesia sejak ratusan tahun lalu, hingga masa kini,” tukasnya.

Hal itu kembali ditegaskan oleh Bante Panyavaro Mahathera. Dia menuturkan kebhinekaan tidak hanya dijaga dengan undang-undang dan toleransi belaka, namun perlu cinta kasih. Cinta kasih yang keluar dari hari nurani manusia, tidak hanya menghargai perbedaan tapi menerima dengan tulus perbedaan itu sendiri.

“Tidak sesuatu yang sama di dunia ini. Anak kembar saja ada bedanya. Perbedaan adalah the truth, kasunyatan (kenyataan), keniscyaan. Karena itu, hargai perbedaan tapi juga menerima perbedaan,” ucap Panyavaro.

Menurutnya, Buddha selalu memandang, apapun gejolak-gejolak yang muncul sebenarnya berasal dari mental manusia. Pada saat mental, pikiran, tidak bisa dikendalikan maka akan muncul sikap yang menimbulkan masalah sosial.

Perayaan Waisak 2561 BE/2017 di Candi Borobudur ditutup dengan ritual pradaksina oleh para biksu dan umat dengan mengelilingi candi tiga kali searah jarum jam. (vie/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Muhammadiyah Tolak Intoleransi

MAGELANG - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Magelang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan organisasi otonom Kemuhammadiyahan melakukan taaruf ke Mapolres Magelang Kota, Selasa (24/1)...

Operasikan 1 Kereta Tambahan

SEMARANG – Mengantasipasi lonjakan penumpang pada libur panjang akhir pekan ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 Semarang mengoperasikan satu kereta api (KA)...

Pernikahan Anak di Jateng Masih Tinggi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Pernikahan anak di bawah umur, meski berisiko tinggi, masih sangat tinggi di Jateng. Terbukti, tahun 2016 lalu ada sekitar 30.000 pengajuan nikah di bawah...

Olah Menu Nusantara dengan Konsep Western

Bertepatan dengan tahun kedua berdirinya Nestcology sejak 2015 lalu, kafé ini menawarkan konsep baru dan sejumlah varian menu dengan tema Gastroversity. Kafé yang berada...

Loenpia Jazz 2018 Digelar di Hutan Tinjomoyo

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Perhelatan musik Jazz tahunan Kota Semarang, Loenpia Jazz 2018 kembali digelar. Mengusung tema besar Unity in Diversity, gelaran musik Jazz ini...

Diponegoro School of Nation

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip menggelar Diponegoro School of Nation, 19-22 Oktober 2017 di PP-PAUDNI Regional II Ungaran, Kabupaten Semarang. Acara diisi symposium tokoh...