33 C
Semarang
Jumat, 10 Juli 2020

Butuh Mata Pelajaran Religiusitas Indonesia

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

SALATIGA – Berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini, merupakan akibat dari tidak solidnya pendidikan nasional. Selain itu juga disebabkan terlalu kuatnya solidaritas terhadap identitas kesukuan.

Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Prof John A Titaley saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar nasional memperingati Hari Pendidikan Nasional, Rabu (10/5) pagi di Balairung Universitas. Dalam seminar yang mengangkat tema “Keberagaman dalam Pendidikan di Indonesia” ini John menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional yang diselenggarakan tidak membuat anak Indonesia menjadi orang Indonesia dengan identitas Indonesia.

“Bagaimana tidak, sebab utama keadaaan ini adalah dijadikannya mata pelajaran agama, terutama agama-agama dunia seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu menjadi mata pelajaran dan mata kuliah wajib,” tuturnya.

Padahal yang seharusnya diwajibkan, ditegaskan John, adalah mata pelajaran religiusitas Indonesia di mana dapat dimaknai bahwa setiap warga negara Indonesia tidak hanya setara di hadapan hukum Indonesia, tetapi juga setara dan sama di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Masih menurut John, untuk maju sebagai suatu bangsa maka sistem pendidikan nasional haruslah bersumber pada identitas bangsa Indonesia bukan identitas kesukuan.

Pembicara lainnya Ahmad Munjid dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Jogjakarta mengungkapkan, pelajaran agama yang diberikan secara monoreligiusitas bukanlah hal yang cocok dengan keberagaman Indonesia. Munjid menyarankan untuk mengubah model sistem pendidikan dari monoreligiusitas menjadi pengajaran interreligiusitas sehingga keberagaman dapat tercapai.

Budayawan FX Mudji Sutrisno dalam paparannya mengungkapkan bahwa kehidupan di Indonesia adalah maha beragam dan merupakan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, kehidupan yang beragam ini perlu dikembangkan melalui jalan kebudayaan yang memanusiakan manusia. “Berbeda agama namun tetap dalam satu religiusitas, satu keimanan yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa,” imbuhnya. (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pemkab Semarang Terima Penghargaan WTN

UNGARAN – Kabupaten Semarang mendapat penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) kategori Lalu Lintas Kota Sedang, dari Kementerian Perhubungan. Piala penghargaan diserahkan langsung oleh Direktur...

Optimalkan Penyaluran dengan KUR Klaster

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah dan DIJ, tahun ini akan mengembangkan Kredit Usaha Rakyat  (KUR) klaster. Yakni penyaluran KUR...

Dorong Dusun Lebih Mandiri

BANDUNGAN – Tiga kultivator atau mesin pertanian untuk mengolah tanah diberikan kepada tiga dusun di Desa Jetis Kecamatan Bandungan. Ketiga Dusun tersebut adalah Dusun...

Utamakan Transparansi Anggaran Desa

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Transparansi penggunaan APBDes 2017 menjadi prioritas tersendiri bagi Pemdes Bakalrejo, Kecamatan Susukan. Kepala Desa Bakalrejo, Abdullah mengungkapkan transparansi itu penting sebagaimana...

Ketika Bayu Ahmad Kembangkan Bisnis Carica

Menuju sukses, tidak mudah bagi pelaku usaha. Butuh keberanian, keuletan, dan segudang inovasi produk. Itu saja tidak cukup. Itulah yang dilakoni Bayu Ahmad, owner...

Mohammad Nuh Luncurkan Tiga Buku di Usia 60 Tahun

Sudah lebih dari setengah abad usia Mohammad Nuh. Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu pun bertekad menebus sisa usia dengan melakukan kebaikan yang menyentuh...