31 C
Semarang
Jumat, 14 Mei 2021

Larung Gunungan Nasi di Waduk Jatibarang

SEMARANG – Sejumlah hasil bumi dilarung oleh warga yang tergabung dalam Kelompok Darma Wisata (Pokdarwis) Suka Makmur dalam acara Nyadran Waduk Jatibarang, Kelurahan Kandri, Gunungpati, Semarang, Kamis (11/5) kemarin. Kegiatan tersebut sebagai bentuk kearifan lokal desa wisata tersebut.

”Kita kan dulunya petani, setelah ada waduk ini kita dari petani alih profesi sebagai kelompok sadar wisata, dan berprofesi jadi pemilik perahu wisata. Jadi, kalau dulu kita nyadran di sawah, sekarang di Waduk Jatibarang,” ujar Sekretaris Pokdarwis Suka Makmur Widodo saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela acara.

Widodo mengatakan, penyelenggaraan acara ini juga salah satunya dalam rangka menyambut Ramadan. Dengan itu, masyarakat Kota Semarang maupun wisatawan jadi tahu tentang adanya Waduk Jatibarang. Beberapa yang dilarung antara lain hasil bumi, gunungan nasi dan beragam palawija.

”Kita juga sekalian promosi untuk meningkatkan jumlah pengunjung dan menaikkan perekonomian warga yang ada di sini. Ya, itulah juga salah satu alasan kami melakukan ritual nyadran,” katanya.

Ratusan warga dari berbagai kalangan tumpah ruah memadati kawasan Waduk Jatibarang yang telah disediakan tratak, dan sejumlah kursi oleh panitia pelaksana nyadran. Tak hanya itu, tersedia penganan yang siap dimakan oleh para pengunjung mulai dari kuliner utama hingga jajanan pasar. Gunungan nasi dan hasil bumi yang sudah dilarung juga menjadi rebutan warga.

Budayawan asal Muntilan, Joyoprono, juga turut hadir dalam acara tersebut. Joyoprono merupakan orang pertama yang membuka waduk ini pada 1985, dan menjadi pemimpin doa dalam prosesi pelarungan.

”Tujuan acara ini untuk menghormati dan memohon izin leluhur di waduk dan tapak tilas Sunan Kalijaga. Manfaatnya nanti bisa buat wisata budaya para warga,” terangnya.

Acara kemarin menarik perhatian ribuan warga yang menikmati libur Hari Waisak. Salah satunya Nur Indah, 37, warga Sampangan, yang datang ke Waduk Jatibarang bersama keluarganya. Ia mengaku menikmati penyelenggaraan acara tersebut sebagai wujud nguri-uri budaya.

”Kita penting untuk tahu melestarikan kota mengikuti di mana kita berdiri di situ adat kita junjung. Kalau nyadran biasa kan untuk masing-masing keluarga, ini juga sekaligus untuk mempromosikan wisata yang ada di Semarang,” katanya.

Pengunjung lain, Nuva Alfianti, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Semarang asal Jepara ini mengaku senang dapat berpartisipasi dalam ritual nyadran di tengah waduk tersebut. ”Nyadran di sini berbeda dengan di tempat asal saya, Jepara,” ucapnya. (tsa/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here