MANGKRAK: Pembangunan Pasar Johar yang terancam molor akibat belum cairnya bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 100 miliar. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Pembangunan Pasar Johar yang terancam molor akibat belum cairnya bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 100 miliar. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tersendatnya dana bantuan untuk pembangunan Pasar Johar dari pemerintah pusat saat ini menjadi kendala terbesar Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Saat ini, pemkot hanya memiliki persediaan dana Rp 50 miliar dari target anggaran yang dibutuhkan Rp 700 miliar.

Sedangkan dana bantuan yang diandalkan dari pemerintah pusat tak jelas kapan bisa direalisasikan. Meski demikian, Pemkot Semarang menyatakan akan tetap berupaya merealisasikan pembangunan Pasar Johar, karena sesuai rencana pembangunan dimulai 2017 ini. Saat ini, pihak Pemkot Semarang masih berusaha mencari solusi atas masalah ini.

Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, Agus Riyanto, mengatakan, pembangunan Pasar Johar telah terencana dan akan dimulai tahun ini. ”Tetapi kami baru menganggarkan Rp 50 miliar, dari hasil perencanaan anggaran yang dibutuhkan Rp 700 miliar,” kata Agus, Rabu (10/5).
Pihaknya tentu masih mengharapkan adanya bantuan keuangan dari pemerintah pusat dan provinsi sebagaimana komitmen dari awal mengenai rencana pembangunan Pasar Johar ini. ”Pak Wali (Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi) masih mencoba melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat. Besok Jumat rencananya Pak Wali akan presentasi kepada Menteri Keuangan. Setelah itu, tinggal menunggu realisasi bantuan dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Dikatakan Agus, pembangunan Pasar Johar membutuhkan anggaran sangat besar. Sehingga pembangunan Pasar Johar tidak memungkinkan jika hanya dibiayai menggunakan APBD Kota Semarang.

”Secara realistis, kemampuan anggaran daerah ini kan terbatas, APBD kan digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Kalau ada bantuan anggaran sebagian dari pemerintah pusat dan provinsi, maka sesuai yang direncanakan pembangunan diperkirakan butuh waktu 4 tahun,” katanya.
Dengan total anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 700 miliar, maka akan membutuhkan waktu cukup lama jika hanya mengandalkan APBD Kota Semarang. ”Pembangunan tersebut nantinya akan meliputi penguatan cagar budaya, pembangunan pasar dan pemulihan alun-alun depan Masjid Agung Semarang. Jika tanpa bantuan, bisa (molor) hingga 7 tahun. Tapi kalau ada bantuan mungkin dari pusat, juga sebagian dari provinsi itu bisa kami rencanakan mungkin dua, tiga sampai empat tahun maksimal,” katanya.

Dana yang ada saat ini, yakni Rp 50 miliar, kata Agus, akan digunakan pembangunan penguatan kawasan Pasar Johar cagar budaya atau heritage. ”Tahun ini, Rp 50 miliar untuk memperkuat bangunan heritage dulu,” ujarnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan, tahun ini pembangunan Pasar Johar harus bisa dilaksanakan sesuai rencana. ”Soal anggaran sebagaimana yang sudah pernah ada komitmen, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, harus bisa segera didorong untuk direalisasikan. Hingga 2017 ini, pemerintah pusat belum menganggarkan,” katanya.

Karena itu, DPRD Kota Semarang mendorong Pemkot Semarang agar terus melakukan koordinasi dengan pemerintah terkait. Pihaknya menyatakan, siap melakukan pendampingan agar sebisa mungkin bantuan anggaran pembangunan Pasar Johar ini bisa direalisasikan.

”Kami dorong agar Komisi V bisa menganggarkan, pemkot harus komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan dan Komisi V, agar bantuan tersebut bisa turun,” ujarnya.

Sebelumnya, Detail Engineering Design (DED) Pasar Johar Semarang yang rencana semula dibangun 6 lantai sempat menjadi perdebatan sengit karena diprotes oleh para pedagang. Pedagang meminta Pasar Johar dibangun 3 lantai saja. Tetapi hasil final atas perundingan dengan melibatkan berbagai pihak, akhirnya DED Pasar Johar disepakati akan dibangun 4 lantai. Selain itu juga dilakukan revisi penataan ulang bangunan lain di kawasan tersebut.

Sesuai hasil revisi perubahan DED baru, untuk alun-alun memiliki luas 10.000 meter persegi/1 hektare. Di bawah alun-alun, sebagian digunakan untuk lahan parkir dan sebagian lagi digunakan untuk pedagang. Sedangkan Johar Selatan dibangun tiga lantai, ada jarak antara bangunan Johar lama dengan bangunan baru sekitar 5 meter.

Kemudian di Pasar Kanjengan yang sebelumnya dipermasalahkan karena direncanakan pembangunan 6 lantai, diubah menjadi 4 lantai. Peruntukannya, 3 lantai untuk pasar, dan 1 lantai paling atas digunakan sebagai gedung service.

Praktis, rencana pembangunan 6 lantai di Pasar Kanjengan itu dikurangi dua lantai. Sisanya, sebagian dimasukkan atau digabungkan di bangunan Johar Selatan menjadi 3 lantai, dan sebagian lagi dimasukkan di bawah alun-alun. Totalnya, Pasar Johar bangunan baru akan mampu menampung kurang lebih 8.000 pedagang. (amu/aro/ce1)