Pelaku Ekonomi Kreatif Kesulitan Akses Perbankan

  • Bagikan

SEMARANG – Pelaku ekonomi kreatif masih kesulitan mendapatkan akses permodalan dari perbankan. Pasalnya, bidang usaha mereka terbilang tidak tampak, tapi bisa dirasakan.

“Ekonomi kreatif itu kan aset utamanya kekayaan intelektual. Sesuatu yang tidak nampak, tapi bisa dirasakan. Sementara perbankan, hanya bisa mengucurkan kredit lewat analisis yang sifatnya harus kelihatan,” ucap Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo dalam Sharia Banking for Creative Business Matching di Gedung Wisma Perdamaian Semarang, Kamis (11/5/2017).

Dia mengakui, kekayaan intelektual memang tidak bisa digunakan sebagai jaminan, tapi bisa menjadi salah satu alat pengelola risiko. Perbankan harus bisa membedakan antara pelaku ekonomi kreatif yang punya brand, atau yang tidak. Di sini, Bekraf hanya sebagai perantara atau mempertemukan saja. Mengenai kebijakan berapa besaran kredit yang dikucurkan untuk pengusaha ekonomi kreatif, diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing perbankan.

Karena itu, Bekraf coba menjembatani pelaku ekomoni kreatif dengan perbankan syariah untuk membantu pengembangan usaha. Dalam gelaran itu, pihaknya mempertemukan 200 pelaku ekonomi kreatif dari Semarang dan sekitarnya dengan 9 perbankan syariah. 200 pengusaha itu sengaja dipilih atas berbagai pertimbangan. Seperti sudah tergabung dalam salah satu komunitas dari 16 subsektor ekonomi kreatif, memiliki brand, bukan pedagang tapi pemilik usaha kreatif, dan usia usaha kurang lebih satu tahun.

“Kami hanya bisa mencomblangi saja karena sejak awal Bekraf tidak didesain untuk menyalurkan dana sendiri. Nanti malah tumpang tindih karena sudah ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari pemerintah,” terangnya.

Meski begitu, pihaknya mengaku telah menyediakan anggaran Rp 10 miliar sebagai bantuan permodalan. Bantuan permodalan itu untuk start up yang pencairannya harus dengan skema khusus. Yaitu lewat kompetisi bisnis.

Deputi Direktur Pengembangan Produk dan Edukasi Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Setiawan Budi Utomo menambahkan, pelaku usaha ekonomi kreatif sengaja dipertemukan dengan bank syariah. Sebab, tumbuh kembang perbankan syariah harus seiring dengan sektor riil. “Saya melihat sektor riil ini tidak bertentangan dengan usaha ekonomi kreatif. Seperti fashion, musik, makanan halal, dan lain sebagainya,” ucapnya.

Gelaran itu juga dihadiri anggota Komisi X DPR RI Yayuk Basuki, Pakar Ekomomi Syariah Ahmad Gozali, General Manager Retail Bisnis Panin Dubay Syariah Herwan Jefri, dan pelaku ekonomi kreatif sukses pemilik Batik Trusmi Cirebon Sally Giovanny. (amh/ap)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *