Api Abadi Bersanding dengan Air Suci

  • Bagikan
PENERANGAN : Sejumlah biksu membawa api abadi Mrapen ke dalam Candi Mendut sebelum diarak menuju Candi Borobudur hari ini. (MUHTAR LUTFI/Radar Kedu)
PENERANGAN : Sejumlah biksu membawa api abadi Mrapen ke dalam Candi Mendut sebelum diarak menuju Candi Borobudur hari ini. (MUHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Api abadi dari pegunungan Mrapen Kabupaten Grobogan akhirnya tiba di Candi Mendut, Selasa (9/5) sore. Api ini kemudian disemayamkan bersandingan dengan air Suci yang sehari sebelumnya sudah didatangkan dari Umbul Jumprit Temanggung.

Api abadi yang dibawa oleh para bikhu ini tiba di candi Buddha tertua itu sekitar pukul 15.00 WIB. Api abadi yang dinyalakan di obor besar dibawa menggunakan mobil bak terbuka dengan pengawalan polisi lalu lintas.

Setibanya di Candi Mendut, api kemudian dibawa oleh para Dewan Sangha dan pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Api disambut umat lalu diletakkan di altar bawah Candi Mendut.

Para tokoh umat Buddha dan pimpinan Majelis secara bergantian menyalakan lilin di pelataran dengan api abadi tersebut. Setelah dinyalakan, mereka menggelar sembahyang.

Api kemudian dibawa berkeliling candi sebanyak tiga kali searah jarum jam. “Api disemayamkan di dalam Candi Mendut bersama air berkah yang sehari sebelumnya sudah disakralkan dan disemayamkan,” kata Ketua Umum DPP Walubi Hartati Murdaya.

Ketua Dewan Kehormatan Sangha Walubi Biksu Tadisa Paramita Mahastavira menjelaskan, api melambangkan hati yang terang. Ketika manusia dalam kesusahan, itu karena hati manusia gelap, tidak tahu mana yang baik dan buruk. “Api sebagai simbol penerangan dan harapan disandingkan dengan air yang menyimbolkan kesuburan, kerendahan hati,” katanya.

Setelah api abadi dan air berkah yang telah disakralkan di dalam Candi Mendut, selanjutnya pada hari ini (10/9) sekitar pukul 14.30 WIB, ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia akan mengikuti prosesi kirab Waisak 2561 BE tahun 2017. Umat Buddha akan menempuh jarak sekitar 3,5 km mulai Candi Mendut melewati kawasan Candi Pawon hingga zona 1 Candi Borobudur.

Sementara itu, selama prosesi Waisak 2561 BE/2017 di Candi Mendut dan Borobudur, sejumlah jalur akan dialihkan. Masyarakat diminta untuk menghindari sejumlah jalur yang menjadi rute prosesi Waisak.

Kasatlantas Polres Magelang AKP Didi Dewantoro mengatakan, Polres Magelang akan melakukan rekayasa pengalihan jalur lalu lintas selama dua hari, yakni pada Rabu (10/5) dan Kamis (11/5).

Khusus bus pariwisata dari arah Jogjakarta, jalur pertigaan Palbapang akan ditutup total. Arus lalu lintas nantinya akan dilewatkan satu arah melewati pertigaan Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Untuk kendaraan pribadi roda empat, masih bisa melintasi pertigaan Palbapang namun akan dialihkan di simpang tiga Dusun Cabean, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid. Sedangkan untuk kendaraan yang berasal dari arah Purworejo, bisa melewati simpang tiga Dusun Kujon, Desa Borobudur menuju pintu 8. Simpang tiga Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur dan simpang tiga pertigaan Terminal Borobudur nantinya akan ditutup.

“Kita arahkan satu titik melalui pintu 8 semua untuk masuk ke Candi Borobudur karena prosesi puncak perayaan Waisak nanti jalan kaki. Untuk itu, kami mengimbau kepada para penyedia jasa wisata yang akan menuju ke Candi Borobudur pada tanggal 10 dan 11 Mei 2017 agar lewat simpang tiga Blondo,” kata Didi. (vie/ton)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *