28 C
Semarang
Minggu, 13 Juni 2021

Prihatin, ”Ayam Kampus” via Online

PAKAR Teknologi Informasi (TI) Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Dr Sholicul Huda MKom, menyebut, ada beberapa alasan mengapa prostitusi online marak kembali. ”Pengguna medsos (media sosial) jumlahnya meningkat sekitar 140 persen per tahun. Sehingga pengguna medsos dipandang sebagai pangsa pasar yang menggiurkan,” kata Sholicul Huda kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Biasanya, kata dia, penawaran bisnis esekesek via online dilakukan dengan cara mengirim informasi secara simultan kepada pengguna medsos.

”Salah kirim juga sering terjadi, misalnya menawarkan jasa ini pada ibu-ibu atau remaja putri. Namun kesalahan tersebut dianggap tidak masalah, karena pengguna medsos yang berminatlah yang menghubungi nomor WA (WhatsApp) maupun akun Facebook penyedia jasa ini,” bebernya.

Selain itu, sesuai dengan pengenaan UU ITE pasal 27 terkait larangan penggunaan media elektronik untuk pelacuran, perlu barang bukti yang kuat. ”Penyidik harus bisa membuktikan kapan dilakukan transaksi, di mana dan media apa yang digunakan. Selain itu, juga harus ada saksi yang menyaksikan prostitusi tersebut terjadi,” ujarnya.

Dalam kasus prostitusi online, yang bisa dijerat hukum adalah mucikarinya. Ini yang membuat polisi harus bermodal besar kalau ingin menangkap mucikari kelas kakap. ”Sampai saat ini, para pelaku prostitusi online menganggap ini media yang aman untuk operasi mereka,” ujar Huda.

Setidaknya, lanjut dia, polisi harus memperoleh informasi awal, kemudian dianalisis untuk menentukan siapa mucikarinya? Untuk menjerat dengan UU ITE, biasanya polisi kesulitan untuk menunjukkan keabsahan barang bukti. ”Bisa, akan tetapi butuh perjuangan keras dan butuh waktu lama. Jika barang bukti berupa handphone, polisi harus bisa menunjukkan lokasi menggunakan handphone, nomor handphone yang dipakai, dan transaksi yang terjadi di handphone tersebut. Pembuktian tersebut perlu digital forensik dan validasi dari operator selulernya,” bebernya.

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here