25 C
Semarang
Jumat, 11 Juni 2021

Berharap Bahaya Narkoba Jadi Ekstrakurikuler

SEMARANG – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah terus menggencarkan upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba. Utamanya pada generasi muda yang rentan terprovokasi menggunakan barang haram tersebut. Program pencegahan difokuskan pada lingkungan pendidikan, tempat kerja, masyarakat dan lingkungan keluarga.

Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Jateng Susanto menjelaskan peredaran narkoba sekarang ini sudah sangat memprihatinkan lantaran tanpa memandang usia.

”Makanya kita melakukan penyuluhan untuk menghindari penawaran penggunaan narkoba. Penyuluhan kepada pelajar terus kita galakkan agar mereka memahami bentuk zat-zat berbahaya. Sehingga mereka berani menolak tawaran tersebut (memakai narkoba),” tegasnya.

Selama ini pihaknya banyak bekerja sama dengan instansi dan lembaga pendidikan dalam memberi penyuluhan. Hanya saja, beberapa di antaranya putus di tengah jalan. Artinya penyuluhan tersebut tidak berkelanjutan. ”Setiap penyuluhan, misal di sekolah, kita menunjuk satgas atau duta antinarkoba. Kami juga melakukan pengecekan secara berkala terkait peran mereka di lingkungan masing-masing,” terang Suseno.

Memang, sebagian ada yang jalan, namun tak sedikit juga ada yang berhenti di tengah jalan. Artinya setelah mendapat penyuluhan, pihak sekolah tidak melanjutkan. ”Kami berharap penyuluhan antinarkoba ini menjadi ekstrakurikuler. Supaya generasi bangsa ini benar-benar jadi generasi emas tanpa narkoba,” harapnya.

Pihaknya meminta kepada masyarakat agar berperan aktif melapor. Jika ada keluarga yang menjadi pengguna agar berani membawa ke tempat rehabilitasi untuk penyembuhan dari ketergantungan narkoba. ”Kalau memang dia pecandu, kita juga melakukan rehabilitasi dan penyuluhan kepada keluarganya,” terangnya.

Sementara, Kasi Pasca Rehabilitasi BNNP Jateng, Sardiyanto mengungkapkan ada beberapa tahap rehab. Meliputi pasca rehabilitasi rawat inap yang dilakukan di rumah damping. Kemudian pasca rehabilitasi rawat jalan, bersifat mengadakan kegiatan dengan cara mengumpulkan para mantan pecandu untuk mengikuti kegiatan proses pemulihan. Selain itu, juga melakukan kegiatan rehabilitasi di Bapas Semarang yang diikuti oleh para napi penyalahgunaan narkoba.
”Terakhir itu ada rawat lanjut, kita mengunjungi ke rumah mantan para klien yang kita peroleh ini setiap sebulan sekali selama empat bulan. Dalam proses ini ada grup terapi dua kali. Ini untuk mengawasi klien ini masih memakai atau tidak,” katanya.

”Tahun 2016 ada 191 orang, tahun 2017 ada 54 orang yang kita tangani. Itu sudah kita tangani mulai proses awal sampai akhir,” imbuhnya.

Sementara Kepala BNN Jateng Tri Agus Heru Prasetyo sangat prihatin dengan kondisi peredaran narkoba sekarang ini. Ironinya lagi pengendali narkoba sekarang ini merupakan narapidana yang mendekam di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). ”Napi di dalam Lapas justru menjadi pengendali. Ini menjadi ironi. Kami komitmen terus memberantas dan melakukan pencegahan,” tegasnya. (mha/zal/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here