31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Pedagang Buku Stadion Diponegoro Akan Digusur

SEMARANG – Sedikitnya 50 pedagang buku di sekitar Stadion Diponegoro Jalan Stadion Timur, Semarang Timur  akan digusur. Hal ini menyusul rencana Kodam IV/Diponegoro selaku pemilik lahan yang akan menyerahkan pengelolaan Stadion Diponegoro kepada investor. Tentu saja, rencana penggusuran itu membuat para pedagang resah. Apalagi belum jelas mereka akan pindah ke mana.

”Belum tahu nanti pindah di mana, tapi kami berharap ada solusi terbaik,” kata salah satu pedagang buku, Koko, 50, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (7/5).

Dia mengakui para pedagang buku kebingungan, karena khawatir para pedagang nantinya akan berpencar. Pasalnya, keberadaan pedagang buku di tempat itu sudah ada sejak sekitar 1980. Bahkan pasar buku legendaris ini telah menjadi ikon Kota Semarang.

”Selama ini, toko buku di kawasan sini telah menjadi jujukan bagi para pemburu buku bekas maupun baru di Kota Semarang. Baik pelajar, mahasiswa, maupun pencinta buku bacaan,” ujarnya.

Keresahaan para pedagang buku yang keberadaannya terancam punah ini sedikit terobati setelah pihak Dinas Perdagangan Kota Semarang, turun tangan. ”Beberapa hari lalu, kami mendapat tawaran beberapa alternatif tempat pindah untuk para pedagang buku. Sehingga ini membuat kami sedikit lebih tenang, prinsipnya kami bersedia pindah,” katanya.

Dinas Perdagangan menawarkan tiga pasar yang bisa dipilih untuk menampung para pedagang buku bekas tersebut. Yakni, Pasar Peterongan, Pasar Sampangan, dan Pasar Bulu. Namun para pedagang buku saat ini belum memutuskan pindah di pasar mana.

”Kami masih melakukan survei terlebih dahulu. Di Pasar Peterongan, lapaknya agak kecil. Di Pasar Bulu, sebagian sudah ditempati pedagang buku dari Johar. Sedangkan Pasar Sampangan masih dalam survei,” katanya.

Dia mengaku, tidak ada masalah di mana pun akan dipindah. Tetapi ia berharap agar kepindahaan ini ada kesepakatan dengan seluruh pedagang buku di kawasan Stadion Diponegoro. Artinya, pedagang harus kompak dan sepakat terpusat di satu tempat, bukan berpencar. Sebab, pasar buku bekas ini sudah memiliki ciri khas kuat.

”Keberadaan pedagang satu dengan pedagang lainnya saling melengkapi koleksi buku. Sehingga saya berharap pedagang buku Stadion Diponegoro ini tetap dalam satu areal,” ujarnya.
Wakil Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar Buku Stadion Diponegoro, Tanjung Arif Himawan, mengakui keberadaan pasar buku di kawasan tersebut selama ini memang minim perhatian dari pemerintah dalam hal pengembangan.

”Saya berjualan di sini sudah 18 tahun, tapi pemerintah tidak pernah memperhatikan terhadap pasar buku ini. Terutama untuk pengembangan, misalnya penguatan sumber daya manusia (SDM) bagi para penjual buku. Selama ini pemerintah hanya mengurusi penarikan retribusi saja,” keluhnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, membenarkan, pihaknya menawarkan pilihan kepada puluhan pedagang buku di Stadion Diponegoro untuk pindah. ”Bisa ditempatkan di Pasar Peterongan,  Pasar Sampangan, dan Pasar Bulu. Jumlah pedagang buku di Stadion Diponegoro ini kurang lebih 50 pedagang. Mereka menyambut baik,” katanya.

Menurut Fajar, penempatan pedagang buku Stadion Diponegoro ini justru menjadi prioritas. Sebab, banyak kios-kios menganggur di sejumlah pasar yang ditinggalkan pedagang. Keberadaan pedagang buku ini selain memiliki ciri khas, juga akan lebih menghidupkan kondisi pasar tradisional. ”Tinggal menyesuaikan waktu saja, kemungkinan sebelum Ramadan sudah bisa pindah,” harapnya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here