Pubersitas, Pembelajaran Kreatif di Sekolah

spot_img

SEKOLAH kejuruan merupakan bentuk dari pendidikan profesi yang memiliki penjenjangan dengan masing-masing tugas yang berbeda. Sekolah menengah kejuruan mempunyai tugas sebagai para eksekutor di mana lulusannya lebih menitikberatkan pada kompetensi yang dikaitkan dengan dunia kerja yang didasarkan pada knowledge base economy.

Untuk menjawab tuntutan knowledge base economy, diperlukan manusia dengan kualitas kreatif, produktif dan kompetitif. Salah satu mata pelajaran di sekolah menengah kejuruan yang mendukung keterserapan di dunia kerja dan menjawab tuntutan knowledge base economy adalah mata pelajaran produktif.

Keberadaan SMK dalam menyiapkan tenaga kerja terlatih sangat membantu dunia usaha, akan tetapi belum semua lulusan SMK bisa memenuhi kebutuhan dunia kerja sesuai dengan kompetensi bidang keahlian yang dimilikinya. Hal itu dikarenakan belum semua lulusan SMK memiliki kesiapan kerja yang matang, sehingga masih banyak lulusan SMK yang menganggur.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Febuari 2013, jumlah pengangguran terbuka yang ada di Indonesia menunjukkan angka sebesar 7.170.523. Jumlah pengangguran terbuka untuk tidak/belum pernah sekolah sebesar 109.865, belum/tidak tamat SD sebesar 513.534, lulusan SD sebesar 1.421.653, lulus SLTP sebesar 1.822.395, lulusan SLTA Umum sebesar 1.841.545, lulusan SLTA Kejuruan sebesar 847.052, lulusan Diploma I,II,III/Akademi sebesar 192.762, lulusan Universitas sebesar 421.717.

Dari data di atas jumlah pengangguran yang berasal dari lulusan SMK cukup tinggi. Hal ini sejalan dengan kritik Balitbang Depdiknas bahwa tamatan SMK dikritik karena tidak luwes menyesuaikan diri terhadap perubahan di tempat kerja, hanya memiliki ketrampilan tunggal atau spesifik yang cepat usang, tidak mudah dilatih ulang, mobilitas kerja lamban, dan tidak mampu mengembangkan dirinya.

Berdasarkan kajian penulis, salah satu faktor yang menyebabkan tidak terserapnya siswa di dunia kerja adalah karena tingkat pencapaian kompetensi siswa yang belum maksimal. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi tersebut, antara lain input akademik siswa SMK yang rendah, sarana dan prasarana yang belum lengkap, serta pembelajaran yang kurang memacu siswa dalam menyelesaikan masalah.  Permasalahan hasil belajar yang rendah perlu segera diatasi. Salah satu upaya yang dilakukan penulis adalah menerapkan Pubersitas.

Belajar dan pembelajaran adalah proses interaksi dua arah yang melibatkan pendidik dan peserta didik, sehingga terjadi perubahan perilaku pada peserta didik tersebut. Menurut Morgan, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Dengan demikian, belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan.

Terlebih untuk siswa SMK, belajar bukan hanya sebatas teori, namun harus dapat mempraktikkan dari teori yang telah didapatkan. Karena menurut Finch dan Crunkilton, kompetensi berarti penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi untuk menunjang keberhasilan. Sebagai upaya untuk menciptakan pembelajaran tersebut, guru dapat menggali potensi siswa dengan mendesain pembelajaran inovatif, yang dapat meningkatkan kompetensi dan karakter siswa, yakni “Pubersitas.” Pubersitas merupakan akronim dari  Penguatan Kompetensi Buku Pintar Pelajar Kompetisi dan Komunitas Berbagi.

Baca juga:   Guru BK Berperan Atasi Kejenuhan Siswa selama Pembelajaran Jarak Jauh

Kenapa menggunakan desain pembelajaran Pubersitas? Ada dua alasan yang mendasari. Pertama, mempercepat penguasaan kompetensi dan siswa merasakan manfaat dari ilmu yang dipelajari dengan berbagi kepada orang lain.  Hal ini sejalan dengan Bobbi de Porter dan Mike Hernacki (2002) bahwa segala sesuatu yang ingin Anda kerjakan harus menjanjikan manfaat bagi Anda atau anda tidak akan termotivasi untuk melakukannya. Kedua, meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk berkompetisi dalam mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.

Implementasi dari strategi yang diuraikan di atas adalah penggunaan metode dan media pembelajaran yang menarik. Sehingga peserta didik akan termotivasi dalam proses belajar mengajar, serta peserta didik akan semakin memiliki rasa tanggung jawab dalam belajar dan pada akhirnya hasil yang dicapai juga akan maksimal.

Pubersitas dilaksanakan dalam empat tahap. Pertama, penguatan kompetensi melalui media pembelajaran yang menarik. Kedua, penggunaan Buku Pintar Pelajar. Buku ini memuat rekaman lengkap proses belajar siswa di kelas, meliputi presensi, nilai, tugas, lembar observasi, job sheet praktik, proyek dan refleksi siswa serta guru.

Ketiga, inovasi belajar selanjutnya adalah meningkatkan karakter siswa melalui pelaksanaan kompetisi. Kompetisi dibuat dalam dua tahap, yakni kompetisi antarsiswa dan kompetisi antarsekolah. Kompetisi antarsiswa dibuat dalam kemasan Multimedia Award dan dilaksanakan setiap akhir semester. Dalam Multimedia Award ini dipertandingkan lomba untuk mata pelajaran produktif dan semua siswa wajib mengikuti. Pemenang diambil tiap-tiap kelas dengan karya terbaik.

Keempat, Pubersitas diakhiri dengan komunitas berbagi. Karakter yang ditanamkan kepada siswa adalah setiap ilmu yang didapat harus bermanfaat untuk orang banyak. Komunitas berbagi ini dibuat dalam bentuk Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL). PjBL adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

PjBL merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Mengingat tiap-tiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, PjBL memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif.

Baca juga:   Solusi Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa dengan Pembelajaran SOLE

PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. PjBL dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep Pendidikan Berbasis Produksi yang dikembangkan di SMK. SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan kompetensi terstandar yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang masing-masing. Dengan pembelajaran berbasis produksi peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja.  PjBL yang penulis lakukan adalah membuat website sekolah di Kota Semarang dan sekitarnya, sekaligus memberikan pelatihan menjadi admin pada operator sekolah. Pembuatan website sekolah ini sangat mendukung program pemerintah untuk memberikan akses informasi kepada masyarakat.

Hasil yang Dicapai

Pembelajaran melalui media yang tepat dan efektif menjadikan siswa lebih menikmati pembelajaran, sehingga kompetensi akan mudah  tercapai dan karakter positif akan tercipta. Penerapan Pubersitas yang telah diimplementasikan di SMK Negeri 8 Semarang mampu meningkatkan kemampuan atau kompetensi siswa dalam penguasaan materi pembelajaran produktif, terutama dalam meningkatkan kemampuan membuat website.

Penggunaan buku pintar mampu mengontrol aktivitas belajar siswa mulai dari presensi kehadiran, presensi tugas, presensi ujian dan presensi remidial. Hal ini dikarenakan kemandirian dalam belajar terkadang sulit dilaksanakan karena gangguan dari lingkungan baik itu dalam rumah maupun luar rumah, sehingga siswa dapat fokus dalam belajar dan guru dapat mengarahkan siswa belajar. Buku ini juga bermanfaat bagi orang tua untuk memantau perkembangan prestasi belajar anaknya karena buku ini dibawa oleh siswa dan harus mendapatkan tanda tangan dari orang tua untuk lembar observasi ibadah.

Pelaksanaan kompetisi dalam bentuk Multimedia Award memacu siswa untuk belajar menghasilkan karya terbaik. Melalui Multimedia Award meningkatkan karakter kompetisi antar siswa dan mampu menghasilkan juara di berbagai lomba antar sekolah

Penerapan Pubersitas mampu menginspirasi teman-teman guru untuk menerapkan pembelajaran inovatif. Hal ini terlihat dari  banyaknya permintaan guru   untuk    ikut     dalam  kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menyelenggarakan lesson study dan mengikuti pelatihan yang penulis selenggarakan dengan  melibatkan siswa.(*/aro)

Author

Populer

Lainnya