32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Bisa Tahan 2 Minggu, tanpa Mengurangi Kualitas Rasa

Wenny Sulistiowati Temukan Inovasi Lunpia Vakum Pertama

Tak dimungkiri, akulturasi Tionghoa dan Jawa sedemikian lekat di daratan Pulau Jawa. Termasuk di Kota Semarang. Bukan hanya kesenian dan kebudayaan, tapi juga kuliner atau makanan. Wenny Sulistiowati, adalah salah satu penerus keturunan yang terus melakukan inovasi kuliner hasil akulturasi Tionghoa-Jawa ini. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

KEBERADAAN keturunan Tionghoa yang membaur menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, termasuk di Semarang, cukup membawa pengaruh besar di berbagai bidang. Baik bidang kesenian dan kebudayaan maupun perdagangan, termasuk kuliner atau makanan. Tanpa disadari terjadilah proses akulturasi atau percampuran dua kebudayaan Tionghoa-Jawa di tengah masyarakat sekarang.

Bahkan makanan hasil akulturasi tersebut menjadi khas, karena hanya ada di kota tersebut. Misalnya, makanan lunpia atau sering juga disebut lumpia atau loenpia, adalah hasil akulturasi kebudayaan Tionghoa-Jawa yang bahkan menjadi makanan khas Kota Semarang.

Kuliner produk akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa ini terus diinovasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di era sekarang. Lunpia terdiri atas lembaran tipis tepung gandum yang dijadikan sebagai pembungkus isian yang umumnya adalah rebung, telur, sayuran segar, daging, atau makanan laut.

Keturunan Tionghoa, Wenny Sulistiowati Hartono, adalah salah satu generasi muda yang aktif berinovasi atas akulturasi itu. Terutama kuliner lunpia. Orang luar kota pun mengenal akrab apa makanan khas di Kota Semarang, lunpia lah salah satunya. ”Maka menjadi kuliner khas di Kota Semarang, lunpia ini sudah semestinya dipertahankan,” kata Wenny kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Menurut owner Kampoeng Semarang ini, lunpia tetap saja perlu terus dilakukan inovasi, karena tuntutan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat sekarang. Sehingga lunpia tetap memiliki daya tarik. Ia pun menciptakan terobosan baru berupa Lunpia Basah Vakum. Tentu terobosan itu tidak muncul begitu saja. Terobosan tersebut merupakan hasil riset dan eksperimen yang dilakukan berbulan-bulan.

”Saya dulu menilai, ketika sedang makan lunpia seringkali ada rasa eneg. Saya terus meneliti bahan apa yang menyebabkan eneg, kemudian bahan itu dikurangi. Saya melihat, banyak orang luar kota yang membeli, tapi kenapa lunpia tidak praktis langsung bisa dibawa dan tahan lama. Bisa dimakan keesokan harinya,” ujarnya.

Ia pun berinovasi dengan menciptakan Lunpia Basah Vakum berbentuk modern packaging atau kemasan modern.

”Orang luar kota bisa membawa oleh-oleh secara praktis dan tahan lama. Termasuk tanpa mengurangi kualitas rasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Dia mengklaim, temuan jenis basah vakum ini kali pertama di Indonesia. Dilengkapi cabai, daun brambang, acar, dan saus putih bergula pasir, hasil uji laboratorium hasil eksperimen itu mampu bertahan hingga dua hari. ”Tapi kalau di dalam lemari es ataupun freezer bisa tahan dua minggu. Saya juga menguji kepadatan, karena biasanya kalau orang makan lunpia dengan cara dipotong banyak yang ambrol,” ujarnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here