31 C
Semarang
Rabu, 12 Mei 2021

Tanggul Laut Siap Dibangun

Sekaligus Jadi Jalan Tol Semarang-Demak

SEMARANG – Salah satu megaproyek penanganan banjir dan rob di Kota Semarang yang segera dibangun pada 2017 ini adalah tanggul laut sepanjang pantai Semarang-Demak. Tanggul laut tersebut didesain multifungsi sekaligus menjadi Jalan Tol Semarang-Demak.

Pemetaan dan persiapan tahap awal, termasuk Detail Engineering Design (DED) pembangunan tanggul laut sekaligus Jalan Tol Semarang-Demak ini telah rampung. Posisi tanggul laut ini nanti berada di tepi pantai sepanjang Semarang – Demak. Proyek ini kerja sama Pemkot Semarang dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

”Persiapan awal sudah selesai, pelaksanaannya tahun ini (2017). Tanggul laut ini berfungsi ganda, selain untuk penanggulangan banjir dan rob juga sekaligus menjadi Jalan Tol Semarang-Demak,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminuddin, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dikatakannya, untuk penanganan rob bekerja sama dengan pemerintah pusat, perencanaan dan pemetaan saat ini sudah final. ”Terakhir, sudah dirapatkan di Kementerian Pekerjaan Umum dipimpin oleh Dirjen Bina Marga, BBWS  dan Direktorat Air. Saya sendiri hadir,” ujarnya.

Iswar menjelaskan, dalam rapat itu telah diputuskan bahwa tanggul laut ini harus segera terbangun mengikuti Trase Jalan Tol Semarang-Demak. ”Jadi, Jalan Tol Semarang-Demak itu nanti sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut,” katanya.

Sebanyak tiga kelurahan di Kecamatan Genuk Kota Semarang terkena dampak proyek pembangunan tanggul laut Jalan Tol Semarang-Demak. Ketiganya adalah Kelurahan Terboyo Kulon, Kelurahan Terboyo Wetan dan Kelurahan Trimulyo.

Proyek pembangunan jalan tol Semarang-Demak ini direncanakan membutuhkan lahan 1.887.000 meter persegi, dengan panjang 24 kilometer. Pembangunan akan dibagi menjadi dua seksi, yakni Seksi I Kota Semarang dan Seksi II Kabupaten Demak.

Di Seksi I Kota Semarang, meliputi Kecamatan Genuk, yang berada di sejumlah kelurahan, seperti Kelurahan Trimulyo, Terboyo Wetan, dan Terboyo Kulon. Sedangkan Seksi II di Kabupaten Demak meliputi empat kecamatan, yakni Kecamatan Sayung meliputi Desa Sriwulan, Bedono, Purwosari, Sidogemah, Sayung, Loireng, dan Tambakroto; Kecamatan Karangtengah meliputi Desa Batu, Wonokerto, Kedunguter, Dukun, Karangsari, Pulosari, dan Grogol; Kecamatan Wonosalam meliputi Desa Karangrejo, Wonosalam, dan Kendaldoyong, serta Kecamatan Demak di Kelurahan Kadilangu.

Anggaran pemerintah pusat untuk proyek pembangunan tanggul laut dan Jalan Tol Semarang-Demak ini kurang lebih Rp 9 triliun. ”Konstruksi jalan tol ini nanti berupa tanggul laut. Anggarannya masuk investasi jalan tol Semarang-Demak. Dalam pembangunan ini, kami pertama menangani kaitan permasalahan sosial dan pembebasan lahan,” bebernya.

Iswar menjelaskan, pembangunan tanggul laut sekaligus jalan tol Semarang-Demak itu menjadi salah satu program penanganan rob di wilayah Semarang bagian timur. Ada tiga penyelesaian pembangunan, selain tanggul laut Jalan Tol-Semarang Demak, ada pembangunan normalisasi Kali Tenggang dan Kali Sringin.

”Tenggang dan Sringin sekarang sudah kontrak, sudah mulai dikerjakan oleh teman-teman dari pemerintah pusat melalui BBWS. Bedakan dulu antara penanganan rob dan banjir. Itu untuk penanganan rob,” katanya.

Sedangkan program untuk penanganan banjir yang berasal dari dataran tinggi atau akibat curah hujan, adalah pembangunan normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT). ”Mulai 2017 ini sudah dilelangkan. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas Sungai Banjir Kanal Timur,” ujarnya.

Proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur, kata dia, saat ini tahap proses penyusunan rencana pelelangan yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat. ”Semua sudah berjalan. Termasuk penyelesaian kendala-kendala seperti adanya perlintasan rel kerata api yang melintas di atas Sungai BKT semua sudah dikoordinasi. Semuanya dibiayai oleh pemerintah pusat melalui BBWS,” katanya.

Dikatakan, banjir yang datang dari wilayah dataran tinggi saat ini memang masih cukup besar debitnya. Sehingga pada tahun-tahun mendatang, pihaknya berencana membangun embung-embung. ”Lokasi-lokasi embungnya ada banyak titik dan sudah masuk rencana tata ruang wilayah. Tahun ini kami akan membangun satu embung di wilayah Semarang bagian barat. Tepatnya di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen,” terangnya.

Selain itu, pihaknya sedang melakukan kajian terkait penempatan embung-embung berikutnya. Hingga 2021, persoalan banjir dan rob, sedikit demi sedikit akan bisa diselesaikan. ”Saya kira sejauh ini sudah banyak perubahan lebih bagus, misalnya setelah pembangunan Pompa Kali Semarang selesai, bisa kita melihat di beberapa wilayah di kawasan Semarang Utara sudah terbebas dari rob. Tanah Mas dan lain sebagainya, ada perubahan sangat besar daripada lima-enam tahun yang lalu. Betapa dulu kawasan Semarang Utara seringkali terendam rob,” katanya.

Termasuk penutupan Kali Banger sejauh ini dinilai mampu mengatasi persoalan rob di Semarang bagian tengah. Menurutnya, persoalan rob saat ini hanya terjadi di wilayah Semarang bagian timur saja. Maka setelah beberapa proyek pembangunan, seperti tanggul laut jalan tol Semarang-Demak, normalisasi Banjir Kanal Timur, Sringin dan Tenggang diselesaikan, pihaknya yakin Kota Semarang akan mampu menuntaskan persoalan rob dan banjir.

Sedangkan untuk permasalahan banjir di wilayah Semarang bagian barat, dilakukan normalisasi Sungai Bringin dan pembangunan embung. Lebih lanjut, kata dia, setelah semua infrastruktur tersebut selesai terbangun, baik tanggul laut, Tenggang, Sringin, BKT, Kali Banger, Sungai Bringin, termasuk embung-embung, pihaknya akan melakukan evaluasi kapasitas daya tampungnya. ”Maka PR pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana saluran sekunder atau drainase-drainase dilakukan normalisasi,” ujarnya.

Pihaknya juga mengaku akan mempelajari kondisi daya tampung saluran sekunder. ”Kalau sudah tidak terjadi banjir, berarti sudah aman. Kalau masih terjadi banjir, maka hal itu menunjukkan adanya saluran sekunder yang harus diperbaiki. Untuk perawatan saluran sekunder ini kurang lebih hampir Rp 100 miliar,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan, semestinya Jalan Tol Semarang – Demak tersebut akan dilakukan pembangunan oleh pemerintah pusat pada 2017 ini. Tetapi berdasarkan hasil koordinasi akhir antara Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Kabupaten Demak, maupun dengan pemerintah pusat, kemudian dibuat skenario lain. ”Bahwa ini tidak hanya dibuat jalan tol saja, tetapi jalan tol yang juga berfungsi sebagai tanggul laut. Akhirnya digeser ke lebih utara, tidak di titik daratan Semarang-Demak seperti semula. Nanti jalan tol itu sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Dikatakannya, pembangunan tanggul laut sekaligus jalan tol ini ditargetkan dimulai pembangunan fisik awal 2018 mendatang. ”Direncanakan pembangunan butuh waktu dua tahun, sehingga akhir 2019 sudah selesai,” ujarnya.

Hendi juga menjelaskan bahwa penanganan banjir dan rob di Semarang bagian timur secara keseluruhan tidak berbicara terkait masterplan lagi. ”Tapi sudah action, jadi hari ini dengan bantuan pemerintah pusat, kami sudah melakukan pembangunan-pembangunan. Misalnya, tiga embung, yakni Trimulyo, Karangroto dan Kaligawe-Sawah Besar. Peninggian parapet di Kali Tenggang dan Kali Sringin juga sudah mulai dilakukan. Juli nanti akan dilaksanakan lelang normalisasi Banjir Kanal Timur. Kalau itu selesai sampai dua-tiga tahun anggaran, target kami 2019 banjir di wilayah Semarang timur ini akan selesai dan tuntas,” katanya optimistis.

Selain itu, lanjut Hendi, secara keseluruhan ada tiga hal persoalan yang harus diselesaikan ke depan. Selain masalah penyelesaian banjir dan rob, persoalan selanjutnya adalah kemiskinan maupun pengangguran, dan kemacetan. Salah satu strategi yang dilakukan, pihaknya akan mengubah skema anggaran di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk tahun depan. ”Sebab, anggaran tahun ini lebih besar di Bina Marga untuk pembangunan jalan. Maka tahun depan akan kami balik. Di wilayah drainase dan pengairan akan lebih besar dari anggaran pembangunan jalan. Karena jalan sudah relatif lebih baik, sedangkan saluran penataan sistem drainase harus kami sempurnakan supaya menuju 2019 tanpa rob, bisa tercapai,” bebernya.  (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here