33 C
Semarang
Kamis, 4 Juni 2020

Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah

Terpana Lihat Gigi dan Pedang Nabi di Topkapi

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Istanbul, kota terbesar di Turki sejak dulu memiliki daya tarik yang kuat. Di masa lalu, posisinya yang strategis di antara benua Asia dan Eropa menjadi rebutan untuk dikuasai. Kota ini pernah menjadi ibukota empat kekaisaran. Hingga kini, daya pikat Istanbul tak hilang. Peninggalan sejarah dinasti yang pernah berkuasa merupakan kekuatan utama pariwisata.

RICKY FITRIYANTO

USAI menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci bersama Ar-Bani Tour and Travel 19-27 Maret lalu, saya dan beberapa jamaah melanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Dari 31 jamaah yang diberangkatkan biro umrah yang berkantor di Jalan Pamularsih Raya 104 Semarang itu, 8 di antaranya lanjut ke Turki, dan 4 jamaah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Selebihnya para jamaah pulang ke Tanah Air.

Suhu 7 derajat celcius menyambut kami saat tiba di Ataturk International Airport, Istanbul. Persis seperti yang tertera pada aplikasi pengukur suhu di smartphone. Saya sempat membukanya di Prince Mohammed bin Abdulaziz International Airport, Madinah. Perjalanan Madinah-Istanbul menempuh waktu 4 jam.

Meski memasuki musim semi dan salju sudah mencair, cuaca tetap dingin. Jaket tebal yang sudah disiapkan pun buru-buru dipakai. Di bandara, Ibrahim, guide lokal berbahasa Indonesia menjemput. Pria yang akrab disapa Baim tersebut lantas mengajak kami naik ke minibus Mercy Sprinter untuk menuju kota.

Sambil tersenyum melihat kami yang menggigil kedinginan, dia menjelaskan cuaca hari itu memang cukup dingin karena sinar matahari tak muncul. Tapi itu belum seberapa. ”Jika kalian datang pada Januari lalu, Istanbul diguyur hujan salju selama 20 hari. Suhu udara mencapai minus 20 derajat celcius,” kata guide berwajah bule ini.

Kami langsung ngilu membayangkannya. Dia menambahkan, saat itu tebal lapisan salju mencapai 60 sentimeter. Warga pun tak bisa beraktivitas karena jalan raya tertutup salju. Sekolah juga diliburkan.

Sambil mendengarkan penjelasan Baim, kami menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Baim mengatakan kami sedang berada di Istanbul bagian Eropa. Kota yang dulu bernama Konstantinopel ini memang sekilas mirip kota-kota lain di Eropa. Seperti London atau Paris. Setidaknya dilihat dari tata kotanya yang rapi, transportasi umum yang canggih dengan armada baru, hingga mobil-mobil keluaran Eropa yang berseliweran.

Baru beberapa menit berada di Istanbul, kami sudah terpesona. Di tengah kota, di antara bangunan-bangunan modern, ada tembok benteng pertahanan Konstantinopel. Tembok untuk menahan gempuran musuh tersebut masih berdiri kokoh sepanjang 22 km. Mobil berjalan lagi dan Selat Bosphorus terlihat di sisi kanan. Selat inilah yang memisahkan Istanbul bagian Eropa dan Asia.

Destinasi pertama kami adalah Masjid Ayyub atau Eyup Sultan Camii. Tak sekadar masjid, di kompleks ini terdapat Makam Abu Ayub Al Anshari, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Bangunan di daerah Golden Horn ini merupakan Masjid Ottoman pertama yang dibangun di Istanbul oleh Sultan Mehmet II pada 1458. Sultan membangun masjid itu sebagai penghormatan kepada Abu Ayub Al Anshari yang datang dalam rangka penaklukan Konstantinopel yang pertama.

Sultan Mehmet II yang bergelar Muhammad Al Fatih menaklukkan Istanbul yang saat itu dikuasai Kekaisaran Romawi Timur dengan membawa 80 ribu prajurit.

Baim mengatakan mereka datang ke Istanbul salah satunya karena sabda Nabi Muhammad SAW. Yaitu ”Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam, pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin, pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (HR Ahmad bin Hanbal Al Musnad).

Baim yang juga menguasai bahasa Inggris dan Spanyol tersebut lantas mempersilakan kami untuk salat Duhur di masjid ini. Saat mengambil air wudu, wow, dinginnya bukan main. ”Harus kumpulkan tenaga dulu untuk menahan dinginnya air,” ujar Lea Milisia, salah seorang anggota rombongan kami sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

Di kompleks Makam Abu Ayub Al Anshari, banyak pengunjung yang berziarah. Keistimewaan lainnya, masjid ini menjadi tempat penobatan semua Sultan Ottoman.

Destinasi berikutnya Blue Mosque. Lokasinya berada di kawasan Kota Tua yang menjadi pusat turisme. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Ahmet I (1603-1617) dengan arsitektur yang terinspirasi Hagia Sophia, bangunan di seberangnya.

Disebut Blue Mosque karena interiornya banyak dihiasi keramik warna biru. Orang bilang warna birunya berkilauan seperti air laut yang tertimpa sinar matahari. ”Keramik-keramik ini cukup mahal. Kalau tidak percaya, coba lepas satu dan dijual di pasar Eropa, pasti dihargai mahal sekali,” jelas Baim.

Selain interior yang mewah dengan lampu gantung ukuran besar, bagian luar masjid juga istimewa. Kubah-kubah besar dengan 6 menara tinggi berujung lancip. Blue Mosque menjadi salah satu ikon pariwisata Istanbul.

Masih di kawasan Kota Tua, rombongan bergeser ke Hippodrome of Constantinople. Jejak sejarah era Bizantium ini dulunya area balap kuda dan gladiator. Tempat menonton pertarungan antara manusia lawan manusia atau melawan binatang buas. Persis seperti di film ”Gladiator” yang dibintangi Russell Crowe.

Pada masa lalu, area ini berkapasitas 1.000 penonton dan dipenuhi patung dewa dan kaisar. Kini yang tersisa hanya 3 monumen. Yaitu pilar Serpentine Column dari kuil Apollo di Delphi, Yunani, Obelisk Thutmosis III dari kuil Karnak, Mesir, dan Obelisk Constantine. Obelisk Thutmosis III terpaksa dipotong karena panjangnya melebihi panjang kapal saat akan dibawa dari Mesir ke Istanbul.

Perjalanan kami sore itu diakhiri dengan kunjungan ke Topkapi Palace. Topkapi merupakan Istana Kesultanan Ottoman yang dibangun sejak penaklukan Konstantinopel pada 1453. Dari total masa kekuasaan Dinasti Utsmaniyah selama 624 tahun, Topkapi menjadi pusat pemerintahan dan istana para sultan selama 380 tahun.

Yang istimewa dari tempat ini, selain saksi sejarah kejayaan Dinasti Ottoman, di dalamnya terdapat amanat suci alias benda-benda peninggalan para nabi yang disimpan. Ya, Topkapi menjadi museum dari barang-barang yang jarang ditemukan di tempat lain tersebut.

Koleksi berharga tersebut ada di balik pintu lapisan ketiga Istana Topkapi yang di atasnya terukir kaligrafi kalimat syahadat. Saya terpana melihat koleksinya. Di antaranya gigi Nabi Muhammad SAW yang tanggal saat Perang Uhud. Ada juga janggut, pedang, panah, stempel, dan surat Rasulullah.

Di ruangan lain, ada pedang Nabi Daud AS, dan tongkat Nabi Musa AS yang digunakan untuk membelah laut saat dikejar pasukan Firaun. Ada pula kunci Kabah, pintu lama Kabah, dan penutup Hajar Aswad yang terbuat dari emas.

Semua barang berharga tersebut sebagian besar dibawa dari Arab Saudi ke Istanbul. Sebab Istanbul di masa lalu merupakan ibu kota wilayah kekuasaan Dinasti Ottoman. Kekhalifahan Islam terakhir tersebut di puncak kejayaannya memiliki wilayah kekuasaan separo dunia.

Sayang, pengunjung tidak diperbolehkan memotret seluruh koleksi di dalam museum. Setiap ruangan dijaga polisi. Mereka memastikan keamanan benda-benda tersebut selama 24 jam. Kamera CCTV juga di mana-mana. Wisatawan yang berniat mencuri-curi foto pun dijamin nyalinya ciut. Yang menambah syahdu suasana adalah lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan langsung oleh qari secara bergantian. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak zaman dulu. (*/aro/bersambung/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Sudah 275 Kecamatan Kekeringan

SEMARANG - Kekeringan telah meluas hingga 275 kecamatan di 30 kabupaten/kota di Jateng. Pemprov Jateng pun telah menyiapkan 2.000 tangki air bersih untuk menyuplai...

Awas, Ada Penipuan Bermodus Pemblokiran Rekening BCA

JawaPos.com - Nasabah BCA tengah menjadi sasaran pembuat hoax yang bermotif penipuan. Pesan itu berupa pemberitahuan pem­blokiran rekening dan kartu ATM/kredit. Penipuan tersebut sengaja ingin...

Sempat Viral, Tak Ada Tindakan

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Pemandangan Rawa Pening dicemari sampah yang menumpuk di samping Jembatan Tuntang. Kondisi tersebut dikeluhkan warga dan pengendara. Bahkan keberadaan sampah tersebut...

Ulama Besar Syiria Doakan Ganjar-Yasin

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Rektor Universitas Ahmad Kaftaro Damascus Syaikh Muhammad Syarif As Showaf mengunjungi posko Santri Gayeng di Semarang, Rabu (14/3). Ulama berpengaruh Syiria...

Posisi Arogansi Bisa dari Golongan Profesi 

Oleh: Dahlan Iskan  Inilah pelajaran dari Asia Sentinel. Untuk profesi wartawan. Atau profesi apa pun. Asia Sentinel tidak malu. Untuk minta maaf. Pada ‘korban’ tulisannya. Kali...

Guru Ngaji Jadi Kurir Sabu

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dua warga Solo ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah terkait kasus narkotika. Ironisnya, salah satu tersangka adalah seorang...