Konser Batal, Penggemar Afgan Lapor Polisi

1106
TERTIPU KONSER: Karlina Kusumaningrum menunjukkan tiket konser Afgan saat melapor di SPKT Polrestabes Semarang, kemarin. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERTIPU KONSER: Karlina Kusumaningrum menunjukkan tiket konser Afgan saat melapor di SPKT Polrestabes Semarang, kemarin. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Puluhan penggemar penyanyi Afgan Syahreza, Selasa (25/4) kemarin, mengadu ke Mapolrestabes Semarang. Pengaduan itu dilakukan para fans Afghan setelah konser musik penyanyi berusia 28 tahun tersebut dibatalkan oleh penyelenggara.

Perwakilan 67 Afganisme —sebutan penggemar Afgan—mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPK) Polrestabes Semarang untuk melaporkan Wiyani Shinta Dewi, 45, pengelola event organizer (EO) Pratama Jaya Sentosa (PJS) selaku penyelenggara konser.

Salah seorang perwakilan Afganisme, Karlina Kusumaningrum, 26, menjelaskan, konser Afgan seharusnya digelar Sabtu (15/4) lalu di Krakatau Ballroom Hotel Horison Semarang. Namun, menurut dia, konser tersebut dibatalkan dan baru diberitahukan beberapa saat sebelum pertunjukan tersebut seharusnya digelar.

”Dibatalkan pada hari itu, kemudian dijanjikan pengembalian uang tiket pada 17 April,” ujar warga Gang Semeru, Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati itu kepada Jawa Pos Radar Semarang saat melapor di SPKT Polrestabes Semarang.

Selain itu, lanjut dia, pihak penyelenggara juga tidak menjelaskan secara detail penyebab pembatalan itu. Janji pengembalian uang tiket itu, lanjut dia, juga tidak dipenuhi. Padahal, para fans Afgan tersebut sudah membeli tiket yang harganya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 900 ribu per orang. ”Kerugian total kalau dihitung sekitar Rp 83,837 juta,” ujarnya.

Menurut Nana—panggilan akrab wanita berjilbab itu, para penggemar Afgan sempat mencari terlapor ke rumah kontrakannya di Taman Adenia II Perumahan Graha Padma, Krapyak, Semarang Barat untuk meminta ganti rugi. Namun  terlapor sudah tidak tinggal lagi di alamat tersebut. Karena itu, para Afganisme mengadukan Wiyani ke polisi.

Dijelaskan, dalam konser tunggal Afgan bertajuk ’Afgan Live In Semarang 2017’ itu, informasinya pihak panitia menyiapkan 1.500 lembar tiket dengan harga bervariasi. Tiket kursi VVIP seharga Rp 900 ribu, VIP Rp 750 ribu, A1 seharga Rp 600 ribu, A2 sebesar Rp 400 ribu dan Festival dihargai Rp 200 ribu. Nana sendiri sempat membeli empat lembar tiket total seharga Rp 3 juta. ”Janjinya mau dikembalikan, tapi tidak dikembalikan. Diduga uangnya sudah dibawa kabur dia (Wiyani, Red),” ungkap Nana.

Korban lain, Steven,  45, mengaku sempat membeli tiket dua lembar, satunya seharga Rp 900 ribu. Namun tiba-tiba acara dibatalkan tanpa alasan yang jelas. ”Alasan dia, konser dibatalkan karena total tiket sebanyak itu hanya laku terjual 120 tiket, bilangnya jauh di bawah target,” ungkap Koordinator Afganisme, warga Puri Anjasmoro ini yang ikut mendampingi Nana saat melapor.

Steven mengaku sempat jengkel, karena saat tiket yang sudah dikantongi akan ditukarkan sebelum konser dimulai, ternyata justru dibatalkan. ”Jadi, tahunya dibatalkan ya pas hari H. Sabtu siang penonton datang ke Horison mau menukarkan tiket. Tapi malah ada presscon pembatalan,” ungkapnya.

Menurutnya, saat pihak penyelenggara membatalkan konser tersebut juga sangat mendadak. Saat pembatalan tersebut, pihak Wiyani menjanjikan sanggup mengganti uang tiket penonton di Hotel Horison Lantai II pada Senin (17/4) lalu.  ”Janji itu akan mengembalikan uang pergantian kerugian tiket, transportasi, dan akomodasi kepada penonton yang telah telanjur membeli tiket,” ujarnya.

Namun pada Senin lalu, puluhan penggemar Afgan yang datang ke Hotel Horison untuk meminta pengembalian uang tiket harus gigit jari. Mereka  hanya ditemui salah satu personel PJS yang memberitahukan realisasi pergantian kerugian tiket diundur pada Kamis (20/4) di tempat yang sama. Namun para pemilik tiket yang datang lagi menagih janji kembali kecewa lantaran Wiyani tidak berada di lokasi tersebut. ”Hari Kamisnya tidak ada seorang pun dari PJS di lokasi. Kami tunggu juga tidak ada yang datang sama sekali,” ucapnya kesal.

Hal itu semakin membuat mereka tidak percaya lagi kepada EO tersebut, dan sepakat mengadukan kasus penipuan itu ke polisi. Mereka menilai PJS merupakan EO bodong alias abal-abal. ”Kami juga sudah mencari alamat rumahnya. Sampai kita berbagi tugas menelusuri kebaradaan rumahnya, ternyata alamat tinggalnya di Perumahan Graha Padma, Krapyak Semarang Barat,” jelasnya.

Meskipun lega menemukan alamat terlapor, pihaknya kembali dibuat kesal. Sebab, rumah itu sudah tidak ditempati Wiyani. Bahkan informasi yang diperolehnya dari warga sekitar, rumah mewah yang ditinggali Wiyani bukan milik pribadi, namun hanya mengontrak.

”Saya tanyakan kepada warga sekitar, ternyata dia (Wiyani) ngontrak bulanan. Bahkan, anaknya yang sekolah SMA di Pamularsih juga sudah tidak ada. Mungkin sudah diajak pergi dia. Padahal ini kan masih ujian,” terangnya.

Steven menambahkan, pihak manajer Afgan juga telah mendatangi Polrestabes Semarang terkait buntut dari kasus ini. Menurutnya, sesuai kesepakatan, dalam pertunjukan tersebut pihak PJS membayar sebesar Rp 170 juta. Namun demikian, pihak penyelenggara juga tidak menyerahkan uang kepada manajer Afgan.

”Tadi manajer Afgan, Pak Antoni juga melapor ke sini. Dia tidak dibayar, padahal sudah ada perjanjian hitam di atas putih. Nilainya Rp 170 juta,” terangnya.

Salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Wiyani sebelumnya juga pernah terlibat kasus serupa. Menurut sepengetahuannya, wanita yang masih buron tersebut pernah melakukan kasus dugaan penipuan uang katering pernikahan sebesar Rp 17 juta.

”Janjinya mau dikembalikan, tapi sampai sekarang juga tidak dikembalikan. Dia (Wiyani) juga terlibat kasus penipuan uang milik Kelenteng Sam Poo Kong. Saya kira untuk kasus penipuan konser Afgan ini, jumlah kerugiannya bisa bertambah. Informasinya, tiket yang terjual mencapai 400 lebar,” katanya.

Berdasarkan data perekaman e-KTP yang dikeluarkan Dispendukcapil Kota Semarang pada 13 Desember 2016 yang dibawa oleh pelapor menyebutkan, terlapor Wiyani Sinta Dewi, kelahiran Jakarta, 28 Oktober 1972. Pada data e-KTP, Wiyani beralamat di Jalan Gayamsari Selatan RT 03 RW 03 Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang.

Pelapor juga membawa berkas atas nama Yuditya Pratama, kelahiran Depok 10-07-1988 yang diduga suami terlapor. Laki-laki ini beralamat tinggal sama dengan Wiyani, yakni Jalan Gayamsari Selatan RT 03 RW 03 Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang.

Kasubag Humas Polrestabes Semarang Kompol Suwarna mengatakan, kasus yang telah dilaporkan tersebut akan ditindaklanjuti. Menurutnya, pelaku akan dijerat pasal penipuan.  ”Akan kita tindaklanjuti semua pelaporan dari para korban. Ini masuk kasus penipuan,” katanya. (mha/aro/ce1)