33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Udinus Rutin Gelar Tes Urine

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

KEPALA Hubungan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Agus Triyono mengatakan, Udinus memiliki langkah-langkah strategis untuk mencegah mahasiswa terlibat narkoba. ”Udinus telah melakukan langkah-langkah strategis di antaranya dengan konsep program ’Udinus Berteman’. Konsep ini diusung secara internal dan eksternal. Internal, bekerja sama dengan semua civitas akademika dan unit-unit yang ada untuk melakukan perang terhadap narkoba,” katanya.

Pihaknya juga melakukan sosialisasi dan kampanye dengan atribut bahaya narkoba dan penggunaannya. Pemasangan atribut-atribut bebas narkoba dan menunjukkan tanpa narkoba hebat berkarya. ”Selain itu juga membentuk komunitas peduli dan bahaya narkoba dengan nama Satgas Narkoba di kampus untuk bersama-sama pihak kampus melakukan monitoring peredaran narkoba,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sedangkan secara eksternal, lanjut Agus, Udinus bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah untuk menggerakkan dan membantu program dalam rangka membantu Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba (P4DN). Kegiatan yang dilakukan dengan menggelar operasi atau sidak (inspeksi mendadak) tes urine rutin setiap 2 hingga 3 bulan sekali di kampus.

”Tes urine tersebut dilakukan untuk semua kalangan. Mulai dari mahasiswa, karyawan, hingga dosen dan pejabat. Tes dilakukan acak pagi siang dan malam, juga bekerja sama dengan aparat berwajib,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, aktivitas kegiatan di areal kampus dilakukan pembatasan waktu malam hingga pukul 23.00. Sehingga setelah jam itu, tidak ada aktivitas mahasiswa di dalam kampus. ”Konsep berteman dengan mahasiswa diusung untuk memiliki awareness terhadap kampus dan masa depan mahasiswa itu sendiri,” bebernya.

Dikatakannya, konsep ini diambil untuk memaknai bahwa berteman sejati adalah teman yang peka dan peduli terhadap rekannya untuk tidak terjebak dalam bahaya narkoba. Tetapi mendukung untuk berkarya meraih cita-cita bersama. ”Ini tidak mudah memang, tapi Udinus berusaha mewujudkannya. Makanya Udinus ingin terus menambah teman dari mana saja untuk mendukung ’Udinus Berteman’ yang peduli dan bebas narkoba,” terangnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan, Udinus juga terus memberi ruang bagi mahasiswa baik secara akademis maupun nonakademis untuk mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan kampus bekerja sama dengan aktivis di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro Undip, Dr Hedi Pudjo Santosa MSi mengatakan, sebagian mahasiswa menganggap wajar mengonsumsi miras maupun narkoba. Padahal apabila dilihat dari sisi kewajaran sebagai seorang intelektual, hal itu dinilai sangat tabu.

Menurut Hedi, ada dua faktor mahasiswa terjerumus pada kebiasaan buruk mengonsumsi miras dan narkoba. Pertama, karena adanya perubahan gaya hidup. Kedua, tuntutan untuk berprestasi membuat seorang mahasiswa cenderung berada dalam tekanan.

”Mahasiswa cenderung mengalami social stress, di mana mahasiswa tersebut berada dalam tekanan dari segala macam tuntutan. Mulai tuntutan IPK tinggi, lulus tepat waktu, cumlaude, tuntutan orang tua dan sebagainya. Akhirnya, mahasiswa tersebut melakukan hal-hal tertentu untuk melampiaskan rasa stresnya. Salah satunya dengan mengonsumsi miras ataupun narkoba. Hal ini juga disebabkan mental mahasiswa yang tidak cukup kuat untuk menghadapi tekanan tersebut,” beber Hedi Pudjo Santosa  kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hedi juga menyoroti faktor lingkungan memegang peranan penting dalam membentuk gaya hidup  mahasiswa. Seseorang cenderung lebih memilih untuk berada di lingkungan yang dia anggap memberi kenyamanan dan kenikmatan.

Dia juga menjelaskan, keluarga berperan penting bagi seseorang untuk membentuk gaya hidupnya, terlebih lagi mahasiswa perantauan yang jauh dari orang tua. ”Komunikasi yang baik dan rutin dari keluarga diperlukan baik untuk meringankan rasa stres dari mahasiswa tersebut, sekaligus bentuk pengawasan dari orang tua kepada anaknya,” katanya.

Selain itu, Hedi juga menilai saat ini sudah ada kelonggaran norma di masyarakat. ”Kalau dulu mahasiswa selalu diantar dan rutin dikunjungi oleh orang tuanya di kos. Pemilik rumah kos juga memberi pengawasan yang ketat. Tapi sekarang sudah longgar, yang penting tidak membuat kegaduhan,” beber Wakil Dekan I FISIP Undip yang mengurusi bidang akademik ini.

Di FISIP Undip sendiri, lanjut dia, memiliki peraturan tegas untuk mahasiswa yang terbukti mengedarkan narkoba akan dikeluarkan dan dicabut statusnya. Selain itu, pihaknya selalu melibatkan orang tua mahasiswa agar dapat mengetahui langsung kegiatan perkuliahan putra-putrinya, termasuk jika anaknya memiliki masalah akademik, seperti sering membolos kuliah.

”Saya sekarang sedang mengembangkannya, nanti orang tua bisa login di Simaweb (website akademik Undip) jadi nanti orang tua bisa memantau langsung dan mengetahui apabila anaknya memiliki masalah di dalam perkuliahannya, karena sebagian besar masalah di akademik sendiri juga karena kurangnya pengawasan orang tua,” pungkasnya. (amu/mg25/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

227 Hektare Aset KAI Belum Disertifikat

MAGELANG - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Jogjakarta meminta warga menaati peraturan sewa. Jika ada oknum tertentu yang menarik uang sewa aset...

Jalur Selatan Masih Sepi

KEBUMEN – Memasuki H – 4 Lebaran, belum tampak peningkatan arus lalu lintas yang meningkat secara signifikan di jalur selatan Pulau Jawa. Kondisi ini...

Seribu Khataman Seribu Khafidzah

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Ribuan muslimat NU kemarin menggelar zikir bersama di Alun-Alun Kota Demak. Selain berzikir, kegiatan ini juga diwarnai dengan mengkhatamkan Alquran 30 juz...

Golkar Ditinggal PDIP

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Partai Golkar ditinggal PDIP dalam kontestasi Pilgub Jateng, 2018 mendatang. Sebab, hingga pendaftaran paslon Ganjar Pranowo-Taj Yasin, Selasa (9/1) siang kemarin,...

Setahun, Urus E-KTP Belum Jadi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dinas Kependukkan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) menjadi instansi dengan pelayanan terburuk di Pemkot Semarang. Hal ini berdasarkan survei pelayanan publik yang...

Bayar Saksi di TPS, Butuh Rp 1,5 M

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Saat coblosan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng, 27 Juni mendatang paslon Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen perlu menggelontorkan dana yang sangat besar. Anggaran itu untuk...