33 C
Semarang
Kamis, 2 Juli 2020

Menelisik Peredaran Narkoba di Kalangan Mahasiswa Semarang

Penjualnya Mahasiswa, Pesta Ganja di Kamar Kos

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

Kehidupan mahasiswa rentan terhadap peredaran narkoba. Apalagi mereka yang tinggal di rumah kos dan jauh dari pantauan orang tua. Jawa Pos Radar Semarang mencoba menelisik peredaran narkoba di kalangan mahasiswa di Semarang. Berikut laporannya.

HIDUP jauh dari keluarga, ditambah dengan tugas-tugas kuliah menumpuk, membuat sejumlah mahasiswa menghabiskan waktu senggangnya untuk menghibur diri. Salah satu cara melepaskan penat yang kerap dilakukan oleh para mahasiswa adalah mendatangi tempat hiburan malam, kafe, menenggak minuman keras hingga mengonsumsi narkoba.

Di kawasan Tembalang, bertebaran rumah kos khusus mahasiswa. Nah, di antara rumah kos itu, terutama kos pria, kerap dijadikan tempat pesta miras dan ganja oleh para mahasiswa. Koran ini pun bertemu RS, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) salah satu perguruan tinggi negeri di kawasan tersebut. RS mengaku kerap berpesta miras hingga mengonsumsi ganja di kamar kosnya.

”Minum-minum itu sudah jadi hal yang biasa. Bagi saya itu biasa, karena minuman keras sendiri kan tidak dilarang,” ujar RS yang meminta merahasiakan alamat kosnya dengan alasan demi keamanan.

Tidak hanya di kamar kosnya, RS juga kerap kali melakukan pesta miras di kos milik temannya. Sekali pesta, ia dan kawan-kawannya bisa menghabiskan sampai enam botol. Minuman yang biasa dikonsumsi mulai anggur merah, vodka, whisky, hingga tequilla.

”Tidak tentu sih, tapi setiap bulan pasti kita minum- minum. Kalau seminggu sekali sih sudah pasti dalam sebulan, tergantung teman- teman saya juga, biasanya kadang mereka bawa dari rumah juga. Paling sedikit dua botol untuk dua orang, terkadang ada gele (ganja) juga,” katanya.

Setiap kali pesta miras, temannya kerap kali membawa ganja untuk ikut dinikmati bersama. Meski jarang, RS juga kerap ikut rekannya itu untuk mengisap satu sampai dua linting ganja. RS menuturkan, dirinya memiliki teman kos yang merupakan penjual ganja. Rekannya itu, tutur dia, selalu memiliki stok dan tak segan untuk berbagi apabila ada teman kos yang ingin mencicipi. Sayangnya, ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang, temannya itu menolak diwawancarai.

Adanya peredaran ganja di kalangan mahasiswa di Tembalang juga diakui AF, yang telah menyelesaikan kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) salah satu PTN pada pertengahan 2016 lalu. AF mengaku selalu mengonsumsi ganja setiap harinya selama masih kos di Tembalang. Pesta miras juga bukan merupakan hal asing lagi bagi AF yang pernah ngekos selama 5 tahun.

”Sebulan bisa tiga sampai lima kali pesta. Tapi, jarang pesta minum sama gele. Biasanya minum ya minum, gele ya gele. Kalau minum-minum biasanya anggur merah, ciu, JW (Johny Walker, Red), whisky sama congyang. Kalau gele mah setiap hari. Sehari paling nggak sebatang. Kalau tidak ada teman ya saya pakai sendiri, ujar AF kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat berpesta ganja, AF bisa bersama lima hingga delapan orang temannya. Masing-masing mengisap dua sampai tiga batang. AF sediri selalu punya persediaan untuk konsumsinya selama sebulan.

”Karena saya konsumsi setiap hari, jadi setiap bulan selalu ada stok di kamar kos. Sekarang mah sudah jarang, main ke Semarang juga cuma mampir. Main ke teman yang belum lulus. Kalau stok sebulan biasanya segaris (satu ons, Red,) itu cukup buat konsumsi satu bulan. Kalau sendiri mah saya irit, sehari satu batang sudah cukup. Yang boros itu kalau lagi ramai-ramai,  itu pun kita selalu punya barang masing-masing,” akunya.

Di kalangan mahasiswa, menurut AF, pesta miras dan ganja sudah bukan hal yang tabu lagi. Meskipun lebih sering mengadakan pesta di rumah kosnya, AF sendiri juga kerap datang ketika dirinya diundang ke tempat kos temannya, namun masih sekitar Tembalang. Tidak hanya di kamar kos, ia juga sering memakai narkoba di luar kos. ”Misalnya, saat nonton gigs (pentas musik, Red),” kata AF.

Meski berstatus mahasiswa dan belum berpenghasilan, tidak menghentikan AF untuk mengonsumsi ganja. Ia kerap membeli satu ons ganja seharga Rp 350 ribu-Rp 400 ribu. ”Segaris itu Rp 350 ribuan. Kadang-kadang kalau barangnya susah, bisa naik harganya. Kalau dihitung-hitung sih sama saja seperti beli minuman, malah lebih murah kayaknya. Mabuknya juga lebih enak,” tuturnya sambil tersenyum.

AF menuturkan, tidak sulit untuk memperoleh minuman keras maupun ganja di kawasan kampus Tembalang. Minuman keras seperti ciu, congyang sampai anggur merah banyak dijual bebas di warung-warung yang ada sangat dekat dengan lingkungan mahasiswa. Ia sendiri hafal lokasi warung yang menjual miras.

RS juga memberikan jawaban yang sama dengan AF ketika ditanya soal miras. ”Di Tembalang mah banyak yang jualan. Kalau cari anggur merah, ciu, congyang, banyak di daerah Gondang, Tembalang. Di Banyumanik juga ada, tepatnya di dekat Terminal Banyumanik,” jelasnya.

Sedangkan untuk mendapatkan ganja, AF mengaku  punya cukup banyak kenalan para pengedar. ”Banyak pengedar ganja di Tembalang. Kebanyakan anak kuliahan juga. Yang nggak kuliah malah saya nggak tahu. Setidaknya saya kenal 10 penjualnya. Kebanyakan sih pada bawa barang dari Jakarta,” katanya.

Tidak hanya ganja, AF juga membeberkan soal tembakau sintesis gorila. Tembakau sintesis ini merupakan tembakau yang dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, sehingga efek yang dihasilkan layaknya mengisap ganja.

”Yang sintesis ada juga, tapi saya lebih prefer natural sih. Soalnya yang sintesis bikin bego dan efeknya itu malah merusak. Sudah pernah ada teman yang nyoba buat itu, tapi gagal. Dicampur bahan kimia apa juga, saya lupa,” bebernya.

BI, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  salah satu PTN di Tembalang juga merupakan mahasiswa yang gemar mengisap ganja. BI mengaku sudah mengenal ganja sejak dirinya masih duduk di bangku SMP di tempat asalnya, Jakarta. Hampir setiap hari, ia mengonsumsi ganja ketika duduk di bangku kuliah pada 2012. Namun setelah memasuki  semester akhir, membuat BI mengurangi aktivitasnya berpesta ganja dan minuman keras.

”Minum-minum mah sudah jarang saya, paling kalau diajak teman aja. Kalau gele gak sesering dulu sih, paling sekarang seminggu dua kali. Kalau dulu waktu awal-awal sampai pertengahan kuliah sering banget. Dulu setiap hari nggak pernah berhenti, satu setengah tahun kaya gitu. Kalau make ya paling sering di kamar kos. Kadang juga dibawa ke alam terbuka,” bebernya.

Rumah kos BI juga kerap dijadikan tempat pesta miras dan ganja bersama AF. BI selalu punya stok ganja yang disimpan untuk konsumsinya sehari-hari. Sampai sekarang BI mengaku masih menyimpan stok ganja untuk konsumsinya, meski sudah tak sesering awal kuliah dulu.

Tak hanya itu, pada 2012, BI pernah menjadi penjual barang haram tersebut. Ia menjajakan kepada mahasiswa tertentu, biasanya teman dekatnya. ”Pernah dulu jadi bandar, ya nggak besar sih. Saya jual ke teman-teman dekat saja yang sudah kenal. Nggak berani lah jual sama yang nggak kenal, barangnya biasanya saya bawa dari rumah di Jakarta,” katanya.

BI mengakui, tidak semua efek yang ditimbulkan oleh ganja itu buruk. Ia sendiri sudah pernah membaca dan mendengar tentang efek-efek baik yang dapat ditimbulkan oleh tanaman hijau berdaun tujuh ini. ”Rasanya itu jadi nggak mikir beban. Ya bikin rileks, santai, tenang, nggak mikir apa-apa. Selain itu banyak banget manfaatnya. Ada juga yang bikin nggak males ngapa-ngapain. Tapi itu juga tergantung si pemakainya juga. Kalau buat saya sih bikin gak males,” ujarnya.

AF menambahkan, dirinya mengonsumsi ganja dengan dalih bisa membuatnya lebih fokus. Selain itu, ia menilai bahwa ganja sangat membantu orang apabila ingin melepas stres atau bahkan susah tidur. AF mengakui, lingkungan kosnya tidak pernah ada razia narkoba, baik oleh warga maupun kepolisian. Sekalipun ada razia, ia sudah tahu bagaimana menyimpan ganja yang aman.

”Saya mah pakainya selalu main bersih. Saya juga tahu antisipasi kalo ada razia. Ibaratnya, sebelah kamar saya saja tidak tahu kalau saya nyimpan dan pakai ganja,” katanya.

Mahasiswa mantan pecandu narkoba, M. Hayat, mengaku, saat masih mengonsumsi narkoba, dalam dua minggu sekali ia bisa menghabiskan uang hingga Rp 600 ribu, yang dipergunakan untuk membeli obat-obatan terlarang. Ia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui kedua orang tuanya maupun kerabat dekatnya.

Sejumlah narkoba yang kerap dikonsumsi Hayat, di antaranya, pil Trihexyphindyl (trihex) seharga Rp 12 ribu-Rp 20 ribu berisi 4 hingga 6 butir, serta ganja (cimeng) seharga Rp 250 ribu-Rp 350 ribu yang dikemas dalam kotak dan sudah dilinting seperti rokok berisi 20 linting.

Selain itu, pil Code 15 atau obat anjing seharga Rp 15 ribu-Rp 20 ribu berisi 8 butir, obat label G atau Antimo sebutir seharga Rp 1.000 dikonsumsi 10 butir sekaligus, pil Riklona atau pil buto ijo (BI) sebutir seharga Rp 20 ribu-Rp 30 ribu, yang terakhir adalah sabu-sabu seharga Rp 600 ribu per gram.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Kaligawe, Semarang ini mengaku bisa menjadi pecandu narkoba awalnya dari lingkungan pergaulan, yang diawali dari kebiasaan nongkrong-nongkrong dan minum-minum, perlahan-lahan mulai konsumsi narkoba, apalagi saat itu usianya baru SMP kali pertama mengenal narkoba. Setelah mengonsumsi narkoba, ia mengaku bisa merasakan seperti tidak sadar, emosi bertambah fly atau mabuk. Sehingga hidupnya terasa nyaman dan enjoy. Namun demikian ia mengaku tidak sampai menggunakan narkoba melalui jarum suntik. ”Satu paket ganja atau sabu biasanya saya gunakan 1 minggu. Cuma paling sering yang dikonsumsi adalah ganja,” sebutnya.

Adapun lokasi yang sering digunakan untuk membeli barang haram tersebut pertama ‎di daerah Hasanudin, Semarang, tepatnya di warung kucingan daerah Perbalan. Transaksi dilakukan sekitar pukul 21.00, dilakukan seorang diri, namun demikian penjualnya hanya bersedia ditemui kalau sudah kenal.

”Transaksinya langsung ke lokasi, jadi kalau penjualnya tidak ada, saya menunggu dulu, penjualnya namanya Y,‎ tapi biasanya menunggu sekitar 30 menit langsung ketemu,” ungkapnya.

Untuk tempat transaksi kedua, lanjut Hayat, di Palang Rel, Bagetayu, langsung dengan seorang kurir berinisial A‎. Dari informasi yang diketahuinya, A juga mengenal banyak penjual dan bandar narkoba. Hanya saja kepada si A, Hayat lebih sering membeli narkoba jenis pil Buto Ijo, trihex dan ganja.

”Saat transaksi kadang juga ada yang pakai kode-kode gitu, biar aman. Tapi ada juga yang langsung, biasanya kodenya seperti code 15, kuning, BI, dan sebagainya,” sebutnya.

Hayat mengaku mulai berhenti mengonsumsi narkoba setelah sadar melihat keterpurukan ekonomi kedua orang tua dan nasihat dari pacarnya. Ia perlahan-lahan mulai belajar agama, bahkan pernah masuk pondok pesantren di daerah Magelang. Selain itu, ia juga sering bertemu habib-habib (ulama besar) di Masjid Kauman Semarang, hingga kebiasaannya mengonsumsi narkoba hilang dengan sendirinya.

”Setelah 4 bulan berhenti mengonsumsi narkoba, teman-teman kampung saya masih sering ngajak pakai narkoba lagi, tapi saya tolak. Teman-teman saya itu rata-rata sudah berumah tangga,” katanya.

Peredaran narkoba juga terjadi di kalangan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Semarang Timur. Salah satu mahasiswa, sebut saja Indro, mengaku sering bertransaksi narkoba di dekat kampung Petelan, Semarang Timur. Untuk bertransaksi, diakuinya, semua menggunakan kode-kode khusus, yang biasanya dilakukan sendiri oleh dirinya ketimbang menggunakan jasa kurir. Ia mengaku saat masih menjadi pecandu sering mengonsumsi narkoba jenis sabu bersama oknum pejabat.

Namun demikian, saat ini, ia sudah meninggalkan kebiasaan mengonsumsi narkoba tersebut sejak 3 tahun lalu. Ia sempat terinspirasi dari kisah para senior pendahulunya di kampus, sehingga perlahan-lahan bisa lari dari barang haram tersebut. Dari kisah yang diperoleh, para seniornya di kampus juga sempat mendirikan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) peduli bahaya narkoba. Seniornya itu sempat menjadi pecandu kemudian insyaf.

”Jadi, UKM peduli bahaya narkoba di kampus dari cerita yang saya dengar memang didirikan oleh mantan pecandu yang sudah insyaf, termasuk mantan ketua angkatan 1 sekaligus pendirinya saat ini sudah meninggal akibat ketergantungan narkoba, tapi beliau menginspirasi saya, agar bisa lari dari jeratan narkoba,” ungkapnya.

Indro berharap seluruh generasi muda termasuk para mahasiswa jangan sampai menyentuh apalagi mengonsumsi narkoba, termasuk minuman keras, yang bisa menjadi pemicu awal mendekati narkoba. Ia berharap hanya ia yang menjadi korban, sehingga tidak ada lagi korban-korban lain.

Menurutnya, menjadi korban narkoba sungguh menyakitkan apalagi sampai ketergantungan. ”Narkoba musuh bersama, jangan jauhi para pecandu, dekati mereka dan ajak untuk meninggalkan narkoba, tapi semua harus dilakukan perlahan-lahan, khususnya keluarga harus ada dan selalu mendampingi, bukan menyalahkan,” katanya. (tim/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Konya

Oleh: Dahlan Iskan Saya baca puisi lagi. Juga puisi  lama. Kali ini di Konya. Di pedalaman Turki. Di halaman makam Maulana Rumi. Yang juga museumnya. Suhu...

Tingkatkan Kesigapan KSB

SEMARANG- Menghadapi musim penghujan dan melatih kesigapan dalam menangani bencana, sejumlah kelompok siaga bencana menggelar latihan penyelamatan di Waduk Jatibarang, belum lama ini. Ketua Flood...

Rusak, Aspal Jalan Kaligawe Diganti Baru

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 24 Semarang, Demak dan Trengguli melakukan pekerjaan pengelupasan aspal...

Jelang Purnatugas, Naik Pangkat

WONOSOBO - Sebanyak empat personel Polres Wonosobo menerima pengaugerahan kenaikan pangkat 1 tingkat lebih tinggi. Penganugerahan kenaikan pangkat ini merupakan wujud penghargaan Polres Wonosobo...

Konversi Nilai Masih Diburu

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Dinas pendidikan (Disdik) Surakarta menjadwalkan konversi nilai prestasi atau piagam kejuaraan pada penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2018 pada Senin-Sabtu...

Hindari Bahan Kimia, Olah Tumbuhan Jadi Cat Air

RADARSEMARANG.COM - Sekelompok mahasiswa ini berpikir bagaimana agar anak-anak bisa bermain cat tanpa menggunakan bahan kimia. LantasmMereka melakukan eksperimen tumbuh-tumbuhan diolah menjadi cat air....