Mendongeng Yuk…

spot_img

MENGAJAR pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) pada tingkat pendidikan kelompok bermain (KB) dan taman kanak-kanak (TK) bisa dibilang gampang-gampang susah. Di jenjang PAUD ini, guru membutuhkan pengajaran yang menarik dan menyenangkan.

Anak-anak pada usia 1 hingga 6 tahun atau yang disebut gold age tersebut, tahunya hanya ingin bermain dan bermain. Oleh karena itu, guru-guru yang mengajarpun dituntut kreatif dan inovatif, agar anak didik tertarik dan tidak cepat bosan dalam proses belajar di sekolah, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas.

Menurut hemat penulis, banyak cara menjadikan anak-anak tidak cepat bosan dan tertarik mengikuti kegiatan belajar. Salah satunya adalah dengan disisipi atau diselingi dongeng/cerita. Dongeng atau cerita tersebut dikemas dengan cara yang sederhana. Bisa dengan menggunakan alat peraga (gambar, wayang, atau boneka).

Menurut Winda Gunarti, Lilis Suryani dan Azizah Muis (2015) bahwa bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan suatu pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan atau tertulis. Cara penuturan cerita tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga.

Dulu, ketika kita masih kecil, sering kali orang tua bertutur dengan lembut menceritakan kisah-kisah yang menarik untuk penghantar tidur kita. Ibu atau ayah meninabobokan kita dengan cerita-cerita dongeng yang membuat kita tertidur lantaran terlalu asyik mendengarkannya. Ada semacam energi yang menjadikan kita sebagai anak-anak bisa pulas tertidur dalam buaian cerita dongeng.

Ingatan kita masih lekat. Orang tua dengan mudah dapat membuat anak-anaknya bisa terdiam, terpaku, terbius dan terpesona dengan kata-kata yang keluar dari mulut melalui cerita dongeng. Dongeng merupakan salah satu senjata yang ampuh untuk bisa mengajak interaksi antara orang tua dengan sang anak. Anak bisa mendengarkan cerita dongeng dengan seksama, sedangkan orang tua menceritakan dongeng penuh antusias dengan harapan si anak tahu dan paham alur cerita yang ada.

Baca juga:   Penggunaan Google Classroom dalam Pembelajaran Ekonomi

Bahan Cerita

Cerita dongeng dapat dijadikan sebagai wahana pembelajaran di kelas agar anak dapat memiliki imajinasi yang tinggi melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh gurunya. Anak-anak dilatih menggunakan daya pikirnya tentang cerita dongeng sekaligus diajarkan untuk menjadi pendengar yang baik.

Bahan dan isi cerita dongeng pun mudah didapatkan. Mulai dari buku cerita, majalah, TV, dan bahkan dari internet. Namun, alangkah baiknya jika isi cerita bersumber dari pengalaman sehari-hari yang mungkin dialaminya atau hal-hal sederhana yang mudah dicerna dengan nalar berpikir anak. Semua gampang dicari dan diperoleh. Tinggal bagaimana usaha kita mendapatkannya.

Lewat dongeng/cerita, anak didik menjadi senang dan betah belajar bersama gurunya di sekolah. Pada akhirnya, interaksi yang positif antara guru dan anak dapat terjalin sehingga kedekatan guru sebagai orang kedua bagi anak dapat terlaksana dengan baik.

Tentunya kita sebagai pendidik tidak ingin anak-anak didik kita menjadi generasi yang malas, yang hanya terampil dan pandai dalam permainan game (PS) atau gadjet (HP, Ipad dan smartphone), melainkan menjadi anak yang berkarakter, yaitu mempunyai akhlak yang mulia, yang mempunyai perilaku beradab dan tindak tanduk yang terpuji.

Menurut Retno Listyarti (2012:3) bahwa secara teoritis, karakter seseorang dapat diamati dari tiga aspek, yaitu : mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekedar mendidik benar dan salah, tetapi mencakup proses pembiasaan tentang perilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami, merasakan, dan mau berperilaku baik sehingga terbentuklah tabiat yang baik.

Selain hal tersebut di atas, tujuan bercerita menurut Winda Gunarti, Lilis Suryani dan Azizah Muis dalam buku “Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini” adalah untuk: Pertama, mengembangkan kemampuan berbahasa, di antaranya menyimak (listening), juga kemampuan dalam berbicara (speaking) serta menambah kosa kata yang dimilikinya. Dengan bercerita, diharapkan kemampuan anak dapat berkembang dengan baik dan optimal yang meliputi kemampuan berbicara dan kosa kata yang dimilikinya.

Baca juga:   Pembelajaran Sentra dan Lingkaran Membentuk Karakter Siswa PAUD

Kedua, mengembangkan kemampuan berpikirnya karena dengan bercerita, anak diajak untuk memfokuskan perhatian dan berfantasi mengenai jalan cerita serta mengembangkan kemampuan berpikir secara simbolik. Bercerita mengajarkan pada anak untuk bisa selalu fokus pada apa yang ia dengar dan lihat serta dengan bercerita membiasakan anak untuk dapat berfantasi dengan jalan cerita yang disampaikan. Bercerita juga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir tentang hal-hal yang bersifat simbolik (gambar-gambar simbol).

Ketiga, menanamkan pesan-pesan moral yang terkandung dalam cerita yang mengembangkan kemampuan moral dan agama. Dengan bercerita, anak-anak diajarkan untuk bisa mengenal hal-hal yang baik maupun yang tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Seperti konsep benar atau salah, baik atau buruk.

Keempat, mengembangkan kepekaan sosial-emosi anak tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya melalui tuturan cerita yang disampaikan. Dengan bercerita, anak juga dikenalkan tentang kepekaan terhadap lingkungannya mengenai bersosialisasi dengan teman dan bisa mengolah emosi dirinya secara sederhana.

Kelima, melatih daya ingat atau memori anak untuk menerima dan menyimpan informasi. Dengan bercerita, anak-anak diajarkan untuk selalu bisa mengingat informasi apa-apa yang sudah disampaikan dan bisa menyimpannya dalam memori otak mereka.

Keenam, mengembangkan potensi kreatif anak melalui keragaman ide cerita yang dituturkan. Dengan bercerita diharapkan potensi yang ada pada anak dapat terlihat dan untuk selanjutnya dapat dikeluarkan dengan cara-cara yang kreatif.

Lebih lanjut dengan bercerita atau mendongeng anak-anak diajarkan bagaimana menjadi seorang yang berhati baik sekaligus menanamkan nilai-nilai positif bagi kehidupan sehari-hari sehingga anak dalam kehidupannya dapat tumbuh berkembang secara optimal sesuai dengan usianya tanpa ada rekayasa dan paksaan dari orang tua. Jadi, mulai sekarang ayo mendongeng. Mendongeng tidak harus menunggu setiap tanggal 20 Maret saja ketika peringatan Hari Mendongeng Sedunia. Mendongeng yuk… (*/ida)

Author

Populer

Lainnya