SAAT bangsa ini sedang belajar berdemokrasi yang benar, ada saja oknum yang tidak bertanggung jawab mengacaukan tatanan ideal bangsa ini dengan menyebar hoax sebagai wahana untuk memperkeruh suasana dan membenturkan berbagai opini agar kondisi yang sebelumnya kondusif menjadi keruh dengan munculnya rasa ketidakpercayaan terhadap satu sama lain dalam berbagai bidang kehidupan.

Kejadian tersebut jika dibiarkan terus-menerus tentu bisa menjadi semakin besar, tidak terkontrol, dan tidak terarah, serta tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap bangsa yang bisa menimbulkan konflik horizontal dengan puncak akibat terjadinya disintegrasi bangsa di negara tercinta Indonesia ini.

Ketidakpercayaan publik, benturan horizontal dengan mengangkat isu SARA dan disintegrasi bangsa itulah yang diinginkan oknum penyebar berita hoax di bumi pertiwi penuh damai ini. Lebih parah lagi, adanya hoax, berita palsu tersebu apabila sudah menjangkiti dan tumbuh berkembang di masyarakat bisa mengakibatkan munculnya budaya baru yang sifatnya penuh kemunafikan dan kepalsuan.

Namun, hemat penulis jika kita sadar dan mau berpikir lebih jauh, adanya berita hoax dengan segala ancamannya tersebut bisa menjadi salah satu bentuk pelajaran, bentuk pendidikan bagi kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Hoax sebagai salah satu wujud pendidikan karakter? Mengapa tidak. Tentu kita sering mendengar pepatah “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Seperti itulah yang tengah terjadi di negara tercinta ini. Berbagai pengalaman yang terjadi akhir-akhir ini bisa kita jadikan sebagai pendidikan bagi kita semua.

Berbagai pengalaman yang menimpa bangsa ini bisa kita jadikan sebagai sarana belajar bagi kita semua, mulai dari elemen siswa sampai masyarakat. Tentu proses belajar tersebut sesuai dengan tingkat usia mereka. Proses belajar tersebut juga sesuai dengan tingkat kedewasaan mereka. Tidak mungkin seorang siswa sekolah dasar menanggapi hoax akan sama dengan siswa sekolah menengah, tidak mungkin pula siswa sekolah menengah menanggapinya sama dengan mahasiswa, begitu juga mahasiswa tidak mungkin sama dengan cara menanggapi yang dilakukan oleh masyarakat.

Karena itu, meski masing-masing tingkatan usia berbeda cara menanggapi dan berbeda pula proses pendidikan yang dialaminya, namun kedewasaan berpikir tetap menjadi ukuran utama dalam keberhasilan proses pendidikan yang melibatkan pemecahan masalah terkait hoax ini.

Selain itu, kemampuan sosial atau kemampuan individu untuk berinteraksi terhadap lingkungan juga sangat diperlukan dalam proses belajar menanggapi dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan hoax tersebut. Selain agar tidak terjadi malapraktik dalam pergaulan sosial, sesungguhnya segala perilaku yang dilakukan antara tingkat usia yang satu dengan yang lain dan antar tingkat lingkungan sosial saling mempengaruhi satu sama lain.

Seperti yang disampaikan Wirosardjono bahwa bentuk-bentuk perilaku sosial itu merupakan hasil tiruan dan bentuk adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang ada.(Mohammad Asrori,2009:117). Sehingga dari pendapat tersebut, bisa kita ambil kesimpulan bahwa bentuk tanggapan yang dilakukan oleh lingkungan masyarakat bisa mempengaruhi bentuk tanggapan yang dilakukan oleh lingkungan masyarakat di pendidikan menengah, begitu pula tindakan yang dilakukan masyarakat di lingkungan pendidikan menengah juga akan mempengaruhi tindakan yang diambil masyarakat pendidikan dasar.

Sehingga jika kita tidak sadar dan mengabaikan cara positif dalam menyikapi hoax, bukan tidak mungkin sikap tersebut bisa menimbulkan budaya baru yang di dalamnya nihil kedewasaan pikir dan sikap serta mengabaikan unsur kepribadian dan keluhuran dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dan akibatnya pasti banyak generasi penerus bangsa yang gagap dan timpang serta minim pengalaman dalam berinteraksi dan melewati proses pendidikan pemecahan masalah di semua lini kehidupan dalam bermasyarakat.

Maka dari itu, keteladanan masyarakat dalam menyikapi hoax sangat diperlukan oleh kita semua. Selain sebagai salah satu bentuk proses pendidikan, keteladanan yang positif juga merupakan bentuk interaksi positif yang bisa membentuk budaya positif bangsa guna menangkal hoax di segala lini kehidupan.

Kita semua sudah tahu, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan kaya akan nilai-nilai budaya dan karakter positif bangsa. Karena itu, sudah menjadi kewajiban  bagi kita semua untuk menjaga nilai-nilai budaya tersebut. Jangan sampai budaya positif yang sudah membudaya tersebut hancur gara-gara hoax. Dan jangan sampai pula persatuan dan kesatuan bangsa ini mudah dipecah dibelah dengan berita hoax yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut.

Sehingga sudah menjadi kewajiban kita semua untuk belajar dan meningkatkan kepekaan kita terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita, agar kita mampu bersikap selektif dalam memperoleh berita serta agar kita juga mampu bersikap dewasa dalam menanggapi  dan menyikapi adanya hoax yang ada di sekeliling kita.

Kemudian, sebagai lingkungan masyarakat pembelajar yang berkarakter positif, marilah kita selalu belajar agar mampu menangkal berita hoax dan mampu menyikapi dengan bijak segala berita yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan agar kita mampu menginspirasi generasi penerus bangsa menjadi generasi yang cerdas, bermoral serta unggul dalam karya yang peka terhadap majemuknya bangsa ini.

Karena itu, berdasar uraian di atas, sudah sangat jelas jika kita mampu menyikapi hoax dengan baik. Hoax yang sedang menjadi “tokoh utama” berbagai bidang di tanah air bisa dijadikan sebagai sumber belajar. Bisa kita jadikan sarana pembelajaran untuk semakin dewasa, untuk semakin memperbanyak dan meningkatkan karakter positif kita.

Karakter positif seperti sabar, cermat, menghargai orang lain, kemudian nasionalime, pantang menyerah, religius dan karakter positif lainnya jelas sekali muncul saat kita mampu menyikapi berita hoax dengan bijak dan dewasa.

Sehingga Indonesia yang beradab dan bermoral dengan segala kemajemukanya tetap terjaga serta kebhinekaan yang ada di negara kita mampu menjadi potensi bangsa yang menguntungkan dan mampu menjadi aset bangsa dalam menangkal disintegrasi bangsa untuk lebih membentuk bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bersatu dan lebih baik. Amin… semoga. (*)