32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Pacaran Cukup di Tangga, Lamaran Hanya Beda Lantai

Cinta Bersemi di Rumah Susun ternyata bukan hanya judul film. Di dunia nyata pun fenomena ini kerap terjadi. Termasuk di sejumlah rumah susun sewa (rusunawa) di Kota Semarang.

KISAH asmara kaum Adam dan Hawa memang bisa terjadi di mana saja. Termasuk di rumah susun.  Akibat sering bertemu di kompleks rusun, bisa jadi pasangan beda jenis sesama penghuni rusun memendam rasa cinta, hingga akhirnya berujung di kursi pelaminan. Ini seperti yang dialami pasangan Christine  Susilowati, 19, dan Toni Setiawan, 25, yang tinggal di Rusunawa Kaligawe, Gayamsari. Awalnya, Christine dan Toni sama-sama menghuni Rusunawa Blok B, namun beda lantai.

“Suami saya dulu tinggalnya di lantai 2, sedangkan saya lantai 3. Kenalnya tahun 2012 waktu pertama kali tinggal di sini. Terus pacarannya cuma setahun langsung menikah, gitu Mas,” kata Christine yang kini sudah dikaruniai seorang anak berusia 3 tahun.

Ia menceritakan, kisah cintanya dengan suami hampir sama dengan anak muda lainnya. Awal mula berkenalan saling bertukar nomor telepon genggam. Dari telepon genggam membuatnya lebih mudah untuk berkomunikasi. Kemudian sering bertemu dan nongkrong bersama bila ada waktu luang.

“Kenalnya di lantai bawah, terus dia (suami, Red) minta nomor saya. Ya aku kasih. Tapi, kok dia lama ndak menghubungi. Malah teman-temannya yang SMS saya. Eh lama-lama dia ngehubungin juga. Yaudah dia ikut-ikutan suka, terus setelah setahun pacaran kami menikah,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Perempuan kelahiran 16 Januari 1998 ini mengaku,  meski berpacaran dengan sesama penghuni rusun, namun hubungannya dengan Toni sejak awal telah mendapat restu dari kedua orangtua masing-masing. Sebab, selain dirinya,  banyak penghuni rusunawa yang mengalami cinta lokasi (cinlok) dengan tetangga.

“Teman saya banyak yang cinlok juga. Ada di blok G dan blok E, banyak lah. Yang blok G ada dua pasangan. Misalnya si A tinggal di lantai 3 dapat suami lantai 5 atau si B dapat suami yang tinggal di lantai 4. Banyak pokoknya, Mas,” ucap putri bungsu dari tiga bersaudara ini.

Saat masa pacaran, lanjut dia, Christine juga jalan-jalan keluar rusunawa laiknya remaja lainnya. Bila jalan-jalan, ia sering bersama teman-temannya sesama penghuni rusunawa.

“Kalau mau pergi, janjiannya di bawah. SMS dulu, terus nunggu di bawah. Kalau keluar, biasanya muter-muter di Taman Tlogosari. Kita rame-rame. Anak muda di sini kan saling kenal, ya kayak saudaralah,  kenal semua. Jadi, memang sering main bareng,” ujarnya.

Ia menceritakan, suaminya memang menghendaki memiliki pasangan yang dekat. Ia menilai dengan jarak yang dekat, kenyamanan terbentuk. Setiap hari bisa dapat saling bertemu hingga menimbulkan rasa keyakinan tersendiri untuk melanjutkan hubungan yang lebih jauh.

“Pacaran sekompleks dengan waktu pacaran sama yang sebelumnya berbeda. Kalau sekompleks tidak perlu jauh-jauh. Hemat juga. Bahkan suami saya bilang halah golek pacar kok adoh-adoh, mendingan golek sing cedak-cedak (halah cari pacar  kok yang jauh-jauh, yang dekat-dekat saja ada),” katanya sambil tersenyum.

Dan setelah berpacaran setahun, ia dilamar Toni. Lamarannya pun dilakukan di rusunawa tersebut. “Pokoknya serba hemat. Karena melamarnya tinggal naik dari lantai 2 ke lantai 3,” kenangnya.

Ia mengaku bersedia dinikahi Toni karena merasa nyaman. Apalagi sebelum menikah setiap hari ia sudah dekat dan sering bertemu dengan pujaan hatinya tersebut. Saat ini, pasangan Christine dan Toni sudah dikaruniai seorang putra bernama Davian Putra Setiawan.

Fenomena cinta lokasi di rumah susun  juga dialami Yuli Widi Hastanto, 47. Ia mengaku kali pertama menempati rumah susun Pekuden pada Agustus 1993. Saat itu, ia masih kuliah di Akpelni.  “Saat itu, saya kos di situ (Rusun Pekunden), tepatnya di lantai 4 sebelahnya Pak RT. Masih kuliah di Akpelni, yang waktu itu kampusnya dekat kantor PMI Bulu,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setiap harinya, sepulang dari kampusnya, pria yang akrab disapa Yuli itu selalu bermain bersama warga. Hingga akhirnya dia berkenalan dengan Ari Susianti, putri Ketua RT di lantai 3. “Waktu itu, dia (Ari Susianti) masih SMA. Karena sering bertemu itu, akhirnya timbul perasaan gimana gitu,” ucap warga asli Boyolali ini sambil tersenyum.

Yuli yang tergolong pemuda supel dan mudah bergaul dengan lingkungan sekitar pun tak sulit menaklukkan hati Ari. Setelah melakukan PDKT (pendekatan) selama setahun, akhirnya dia resmi memacari Ari, yang akhirnya menjadi istrinya sekarang. Ia mengaku nembak Ari pada 14 Agustus 1994 “Usia saya sama istri terpaut  tujuh tahun. Saya selalu ingat tanggal jadiannya sampai sekarang,” katanya.

Yuli masih ingat betul tempat favoritnya setiap kali bertemu dengan pujaan hatinya itu. Yakni, di anak tangga lantai 3 Rusun Pekunden.  “Dulu kan belum ramai seperti sekarang. Kalau ngobrol biasanya di pojokan lantai 3 antara blok B dan Blok A. Di situ ada kursi, duduk-duduk di situ. Pacaran di situ. Sering dicandaain sama teman-teman juga,” kenangnya.

Menurut Yuli, banyak kenangan suka dan duka dalam menjalin asmara dengan sesama penghuni rusun. Bahkan ia sempat berpacaran hingga 8 tahun, sebelum akhirnya melamar wanita pujaannya itu. “Saya pacaran sampai 8 tahun. Mulai kuliah  lalu saya berlayar sekitar dua tahuan. Pernikahan tertunda karena istri saya itu menunggu kakaknya menikah dulu,” jelasnya.

Keduanya akhirnya menikah pada 2002. Resepsi pernikahan digelar di rumah susun, tepatnya di lantai bawah yang dulunya dipakai untuk lapangan badminton.  “Kami menikah 4 Oktober 2002. Saat itu saya sudah berusia 33 tahun, kalau istri saya masih 27 tahun. Saya pacaran mulai usia 25 tahun,” katanya.

Diakuinya, pada saat menikah, keduanya telah memiliki penghasilan sendiri-sendiri. Saat ini, Yuli telah dikaruniai tiga anak. Anak pertama bernama Artanto Satria Zulfikar, kelahiran 2 Juli 2003, duduk di bangku kelas VIII SMP. Sedangkan anak kedua, Artanti Najwa Salsabila, kelahiran 21 Mei 2007, saat ini masih duduk di kelas 4 SD.  “Ketiga Artanto Dafa Sabilillah, kelahiran 10 Agustus 2008. Sekarang kami tetap tinggal di rumah susun Pekunden,” ujarnya. (mg30/mha/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here