26 C
Semarang
Senin, 7 Juni 2021

Pengabdian Tanpa Batas Untuk PSIS

Dilahirkan di keluarga yang mencintai sepakbola membuat Djoko Trihadi mendedikasikan dirinya sebagai dokter official klub sepakbola kebanggaan Semarang, PSIS. Ayahnya, merupakan manajer klub lokal di kota kelahirannya, Solo, puluhan tahun silam. Meski begitu, ia tidak lantas secara langsung berdedikasi sebagai pemain lapangan melainkan sebagai dokter yang menangani para punggawa tim Mahesa Jenar.

“Semua berawal ketika saya mulai tinggal di Semarang, saya jadi suporter PSIS,” ungkap pria kelahiran Solo, 21 Agustus 1952 ini. Ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya di Jalan Kelud Utara, Semarang, Djoko menceritakan bagaimana dirinya kini menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari PSIS.

Dia mengaku, meski kelahiran Solo, sama sekali tidak mengerti perkembangan klub sepakbola kota kelahirannya. Hal itu lantaran dirinya yang sudah lama menetap dan menjadi warga Semarang sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Bukan apa-apa, saya lebih lama tinggal di Semarang daripada di Solo, jadi yang saya tahu sampai sekarang perkembangan apa dan bagaimananya hanya PSIS,” ujarnya.

Pria rendah hati ini bercerita, kecintaan pada klub ini telah menimbulkan kedekatan emosional. Menurutnya, apapun yang terjadi, dia akan selalu bersama dan mendampingi PSIS. Sebagai dokter, ia mengaku sangat dekat dengan para pemain. Sebab, itu menjadi modalnya untuk dapat memantau terus kondisi fisik para pemain dan membuatnya lebih mudah untuk memberikan saran serta nasihat bagi mereka.

“Pemain-pemain PSIS sekarang kan hampir seluruhnya masih muda, jadi jiwanya masih sulit untuk dikendalikan. Kalau pendekatannya tidak bener ya mereka tidak akan menghiraukan omongan saya,” terang suami dari Psikolog Tjondrorini ini.

Ia mengaku, kendala menghadapi emosi pemain muda menjadi tantangan baginya sebagai dokter official tim Panser Biru. Meski usianya tak lagi muda, semangatnya dalam mendampingi klub tetap ada. “Bagi saya, PSIS sudah menjadi bagian dari hidup saya. Semua pemain sudah seperti anak sendiri,” ungkap bapak dua anak ini.

Puluhan tahun mengabdikan diri di PSIS, Djoko Trihadi melakukannya secara sukarela dan tanpa pamrih. Ia mengaku, pengabdiannya dalam klub itu murni karena panggilan hati karena sejak menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Diponegoro telah bergabung menjadi Snex –sebutan fans PSIS.

“Saya murni karena mencintai klub ini, kalau tujuan saya cari duit, sebagai dokter spesialis penyakit dalam saja Insya Allah sudah cukup,” ungkap dokter yang semula bercita-cita sebagai pilot ini.

Selama menajdi dokter official klub PSIS, pengalaman telah banyak ia jalani. Djoko menceritakan salah satunya ketika ia sedang berada di mal. “Pernah sekali waktu saya sedang jalan-jalan dengan istri di mal, terus tiba-tiba ada yang teriak, “Pak Djoko dokter PSIS!”, ya saya respon dengan lambaian tangan saja,” katanya tertawa.

Selain itu, pasiennya sebagai dokter penyakit dalam yang kebetulan simpatisan Panser Biru seringkali iseng untuk meminta tiket nonton pertandingan PSIS. “Kalau ada ya saya kasih, itu kan juga biar suporternya makin ramai dan banyak,” tambahnya.

Ia menceritakan keprihatinannya ketika merawat pemain yang cidera diluar jadwal kompetisi. Menurutnya, hal demikian pasti terjadi pada pemain sepakbola ketika sedang off masa kompetisi karena mereka pulang kampung dan bermain di liga antar kampung (tarkam).

“Kalau lagi off kan mereka mudik, dan pasti main di liga tarkam. Tahu sendiri kalau tarkam mainnya kasar karena asal tekel dan sliding, tapi itu kan nggak bisa dibatasi, sudah haknya mereka,” papar pria fans klub Inggris, Manchester United ini.

Ia hanya berharap, klub favoritnya itu bisa terus berkembang dengan banyaknya pemain muda yang memiliki skill mumpuni. Menurutnya, dengan materi pemain seperti ini seharusnya PSIS mampu untuk mencetak banyak prestasi. Namun hal itu juga tidak lepas dari dukungan setiap lininya. (mg26/ric)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here