33 C
Semarang
Jumat, 7 Agustus 2020

Mahal, Nelayan Kesulitan Beli Noncantrang

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG – Pemberlakuan larangan penggunaan alat tangkap cantrang diminta diundur lagi. Pasalnya, hingga saat ini nelayan masih kesulitan beralih menggunakan alat tangkap noncantrang dengan alasan biaya.

Anggota Komisi IV DPR RI Agustina Wilujeng mengatakan aturan yang diberlakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tersebut bertujuan menjaga keberlangsungan terumbu karang dan ikan. Namun, dampaknya membuat nelayan tidak berani melaut. ”Ribuan nelayan di Muara Angke, Jakarta memilih tidak melaut karena takut ditangkap. Di Bangka juga begitu, banyak nelayan ditangkap karena memakai cantrang,” ujarnya dalam acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang digelar di Panti Marhaen, Semarang, Jumat (14/4).

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini mengakui jika penggunaan cantrang memang telah dilakukan dua kali masa toleransi. Yaitu, pada 2016, dan kedua 1 Januari-30 Juni 2017. Dengan berakhirnya masa tolerasi maka nelayan cantrang tak akan bisa melaut per 1 Juli 2017 nanti.

Anggota Badan Pengkajian MPR RI ini berharap pemerintah memberikan bantuan kapal dan alat tangkap baru sebagai pengganti jika aturan itu diterapkan Juli nanti. Menurutnya, saat ini sudah ada bantuan dari pemerintah pada nelayan, namun jumlahnya belum sebanding dengan nelayan cantrang yang dipaksa berganti alat tangkap. Sementara jika masyarakat membeli alat tangkap sendiri harganya cukup tinggi, mencapai Rp 1 miliar-Rp 2 miliar.

”Kalau memang tak ada rencana mencabut (peraturan), maka kami minta diperpanjang lagi masa toleransinya. Sampai pemerintah siap memberikan solusi,” kata Agustina dalam acara yang dikemas sosialisasi dan seminar kebangsaan ”Bineka Tunggal Ika sebagai Perekat Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara” tersebut.

Menurutnya, selain nelayan tak bisa melaut, aturan tersebut juga menimbulkan efek domino lain. Yaitu berkurangnya pasokan ikan, ancaman gizi buruk akibat rendahnya konsumsi ikan, hingga meningkatnya jumlah pengangguran.

Meski tuntutan masyarakat untuk memperpanjang masa toleransi ini besar, namun dia mengingatkan agar disampaikan secara baik. Dia menekankan, sebagai bangsa yang ber Bhinneka Tunggal Ika, mesti saling menghargai. Jangan sampai saling menghina dan merendahkan.

Menurutnya, kini banyak nilai-nilai masyarakat yang mulai luntur. Misalnya budaya gotong royong yang menurun karena pandangan materialistis masyarakat. Ia juga mencontohkan, betapa mudahnya orang saling menghujat di media sosial karena perbedaan. Mengampanyekan sikap kebencian pada kelompok tertentu bahkan menyinggung soal suku, agama, dan ras.

”Sangat berbahaya jika hal seperti itu dibiarkan. Semangat kebangsaan harus terus dijaga, karena semenjak NKRI berdiri, telah terdiri dari beragam perbedaan latar belakang penduduk Indonesia,” katanya. (ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Dorong Pemberdayaan Perempuan dengan Ekonomi Kreatif

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak perlu melibatkan masyarakat. Sebab, potensi kaum perempuan di Kota Semarang, utamanya di bidang ekonomi kreatif cukup...

Migrasi Sistem, SIPP PN Macet

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Humas Pengadilan Negeri (PN) Semarang, M Sainal akui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN belum bisa maksimal memberikan kemudahan informasi bagi para pencari...

Jeeva Jayalalithaa

Jeevajothi sudah lama move on. Di kota yang jauh: Thanjavur. Jauh dari konglomerat restoran itu: Rajagopal. Yang menginginkannya jadi istri ketiga. Yang lalu membunuh...

Pengguna Ayla Kumpul di Salatiga

SALATIGA - Ratusan pengguna mobil Daihatsu Ayla mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) ke-2 Ayla Community yang dilakukan di lapangan Tlogo Resort, Tuntang Kabupaten Semarang, akhir...

Dubes untuk Rusia Motivasi Pelajar

PURWOREJO—Untuk mencapai kesuksesan, harus berani kerja keras dan pantang menyerah. Selain itu, harus berani berorganisasi. Pengalaman berorganisasi menjadi pendukung untuk mencapai kesuksesan. Penegasan itu disampaikan...

Pernah Diremehkan

RADARSEMARANG.COM - Churriyatul Aziziyah tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan Fisika Universitas PGRI Semarang (Upgris). Bermodal kecantikan dan followers di media sosial, saat ini, ia...