BUDIDAYA JAMUR : Timotius Setiyawan menunjukkan bibit jamur tiram. (Zain zainudin/radar kedu)
BUDIDAYA JAMUR : Timotius Setiyawan menunjukkan bibit jamur tiram. (Zain zainudin/radar kedu)

WONOSOBO – Alam Wonosobo yang sejuk dan lembab berpotensi untuk ditanami aneka jamur. Terutama untuk jamur tiram, kuping dan kancing. Melihat potensi itu, seorang instruktur pertanian dan transmigrasi Provinsi Jateng, Timotius Setiyawan, menyayangkan jika tidak dimanfaatkan masyarakat.

Ketiga jenis jamur tersebut mudah dikembangkan di alam seperti Wonosobo. Yakni masuk kategori dataran sedang-tinggi (lebih dari 700 mdpl). Bagi pelaku usaha jamur kategori pemula lebih disarankan untuk membudidaya jamur tiram.

“Terserah saja. Kalau mau budidaya jamur kuping atau kancing karena alasan harga jual lebih mahal, silakan. Cuma saran saya jamur tiram dulu,” ujar dia usai mengisi pelatihan budidaya jamur di Desa Tlogojati, Kamis (13/4).

Alasan tersebut ia lontarkan mengingat pasar jamur kuping dan kancing belum sebesar jamur tiram. Jamur kuping butuh diolah menjadi makanan siap saji baru dijual, sementara jamur kancing segmentasi pasarnya masih terlalu sempit, hotel dan restoran.

Mengenai jamur tiram, selain proses budidaya mudah, pasarnya luas. Budidaya jamur tiram juga tidak butuh biaya banyak. Terlebih, jika bag log-nya membuat sendiri, tidak membeli jadi.

Disampaikan, pelaku usaha umumnya terkendal pada modal untuk bag log. Jika bag log diproduksi sendiri potensi untungnya akan lebih besar. “Rata-rata satu bag log menghasilkan 6-7 ons atau 4-5 ons selama masa panen 4 bulan. Kalau sekilonya Rp 6 ribu – Rp 8 ribu, lumayankan dengan modal segitu,” pungkasnya. (cr2/lis)