28 C
Semarang
Minggu, 13 Juni 2021

Hendi Geram, Kursi Roda Tak Boleh Dipinjam

SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi geram mendapat keluhan warga di media sosial terkait fasilitas kursi roda di RSUD KRMT Wongsonegoro, Jalan Fatmawati Kota Semarang, tidak boleh dipinjam warga.

Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit tersebut, Selasa (11/4) kemarin. Ini juga menyangkut soal pelayanan RSUD KRMT Wongsonegoro yang banyak dikeluhkan warga melalui media sosial.

Salah satu keluhan yang menyita perhatian Hendi adalah soal fasilitas kursi roda yang terparkir di dekat pos satpam rumah sakit milik pemerintah, tapi tidak boleh dipinjam warga. Selain itu, mengenai keluhan soal lamanya antrean poliklinik RS dan prosedurnya yang ribet.

Kedatangan Hendi sontak membuat para petugas rumah sakit tersebut panik. Mereka kalang kabut untuk merapikan diri dan properti. Dua orang satpam langsung dihampiri untuk dilakukan pengecekan mengenai kursi roda yang dikeluhkan masyarakat. ”Kenapa ini (kursi roda, Red) tidak boleh (dipinjam)?” kata Hendi saat menginterogasi satpam rumah sakit tersebut.

Dua satpam itu hanya bisa terdiam. Mereka berdalih bahwa saat itu sedang tidak bertugas. Hendi pun menjelaskan bila kursi roda tersebut merupakan fasilitas rumah sakit yang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan. ”Ini kursi roda untuk masyarakat, siapa saja boleh meminjam. Jangankan pasien, warga yang mengantar pun kalau mereka membutuhkan, boleh dipinjam,” kata Hendi memberi penjelasan kepada satpam.

Hendi juga memerintahkan kepada para pimpinan RSUD untuk memberikan pengetahuan kepada para satpam. Ia tidak mau melihat kejadian tersebut terulang kembali. ”Saya menerima adanya laporan dari warga melalui Facebook, ada warga tidak izinkan meminjam kursi roda,” katanya.

Sedangkan berdasarkan pengecekan soal antrean panjang di poliklinik, menurut Hendi sudah cukup baik. Mengenai mengapa terjadi antrean panjang, Hendi meminta RSUD segera melakukan perbaikan sistem antrean.

”Semakin nyaman dalam menerima pelayanan kesehatan yang optimal di antaranya dengan memberikan nomor antrean digital secara transparan. Agar masyarakat yakin bahwa Pemkot Semarang benar-benar berkomitmen dan tidak melakukan pungli,” tegasnya.

Hendi mengapresiasi langkah RSUD yang akan segera memasang antrean digital untuk Paviliun Gatot Kaca dan UGD di 2017. Sedangkan terkait panjangnya antrean kamar, Hendi berpendapat bahwa jika ada kamar kosong harus diberikan kepada pasien yang membutuhkan. Sebab, bagaimanapun RSUD ini mempunyai target pendapatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

”Perlu kami apresiasi menghadapi tingginya permintaan kamar guna rawat inap, Dirut RSUD KRMT Wongsonegoro memberikan solusi dengan memasukkan pasien ke kelas yang lebih tinggi terlebih dahulu. Kalau sudah kosong baru dimasukkan ke kelas yang dikehendaki,” katanya.

Lebih lanjut, Hendi meminta seluruh jajaran RSUD meningkatkan pelayanan masyarakat dan membangun capacity building secara maksimal. ”Selalu ingatkan apa saja tugas, pokok, dan fungsi mereka untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

Wakil Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro, Sutrisno memastikan bahwa kejadian masalah kursi roda tidak akan terulang kembali. ”Hal itu terjadi karena ketidaktahuan petugas. Yang bersangkutan adalah satpam baru. Dia belum tahu prosedur dan mekanismenya. Kami pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi,” janjinya.

Saat ini, lanjutnya, RSUD menyediakan fasilitas 20 kursi roda. Semuanya ditaruh di depan dan diperuntukkan bagi masyarakat, pasien maupun warga yang mengantar sanak saudara yang membutuhkan. ”Bahkan jika pasien membutuhkan, satpam akan mengantarkan ke ruangan yang dituju,” katanya. Selanjutnya Hendi melanjutkan sidak ke Puskesmas Candi Lama. Orang nomor satu di Kota Semarang ini mengecek sejumlah ruangan dan pelayanan. Sama seperti tinjauannya di RSUD, Hendi sempat mendengar keluhan di media sosial terkait pelayanan di puskesmas tersebut yang kurang baik. Seperti petugas puskesmas yang galak.

Hendi meminta kepala puskesmas melakukan evaluasi rutin kepada para perawat maupun stafnya untuk selalu memberi pelayanan terbaik. ”Terlepas laporan di medsos itu benar atau tidak, saya selalu mengingatkan agar para staf atau perawat puskesmas bisa melayani dengan baik. Ingat, kita ini pelayan masyarakat, jadi harus bisa memberi pelayanan terbaik,” ujarnya.

Hendi juga menyinggung nomor antrean di Puskesmas Candi Lama yang tidak menggunakan sistem digital. Pemerintah sekarang dituntut masyarakat melayani dengan cepat dan nyaman. Salah satu indikator komitmen, ya nomor antrean harus transparan. Kalau masih manual, nanti muncul anggapan sudah datang duluan, tapi tidak segera diperiksa, pasti ada main-main, ada pungli.

”Nah, salah satu program pemberian nomor urut digital, supaya masyarakat merasa yakin dan terbuka bahwa kami ini melayani dengan baik,” tandasnya. (amu/zal/ida/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here