32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Warga Berharap Jembatan Sunut Diperbaiki

UNGARAN–Warga di wilayah Desa Candirejo berharap agar Pemkab Semarang segera merealisasikan pembangunan Jembatan Sunut di Dusun Sapen. Pasalnya, dengan tewasnya warga setempat beberapa waktu lalu karena terpeleset saat melintas, menjadikan warga takut kembali melintas.

Padahal jembatan tersebut menjadi akses vital, penghubung dua kabupaten sekaligus yaitu Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang. “Kondisinya sangat berbahaya, apalagi saat hujan turun,” ujar Ngatiyem, 37, salahsatu warga Desa Jeragung Kabupaten Demak, Selasa (11/4) kemarin.

Posisi Jembatan Sunut merupakan batas administratif dari dua kabupaten tersebut. Untuk wilayah Kabupaten Demak, Jembatan Sunut masuk ke wilayah Desa Jeragung Karangawen. Sedangkan untuk Kabupaten Semarang, Jembatan Sunut tersebut masuk ke wilayah Desa Candirejo Kecamatan Pringapus. “Kalau hari Kamis, saya biasanya ke Sapen untuk bekerja. Baru lima bulan ini dan pasti lewat jembatan ini,” ujarnya.

Jembatan Sunut memiliki panjang 76 meter dan lebar 1,5 meter dengan ketinggian dari dasar sungai 15 meter. Jembatan terbuat dari balokan kayu yang disusun secara rapi. Namun kurangnya daya tahan kayu akan cuaca, sebagian kayu banyak yang lapuk.

Apalagi saat hujan mengguyur wilayah itu, kondisi jembatan semakin licin. Tidak sedikit warga yang melintas saat hujan jatuh dan terpeleset. Karenanya, Ngatiyem yang kesehariannya bekerja sebagai penagih tersebut enggan pulang di atas pukul 12.00. “Karena takut hujan turun saat sore hari. Tidak hujan saja mengerikan, apalagi hujan, jadinya pasti licin,” ujarnya.

Jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses warga Dusun Sapen dan Dusun Borangan, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, menuju ke pusat desa atau ke pusat Kabupaten Semarang di Ungaran. Kini, jembatan yang menghubungkan ke Dusun Kedungglatik yang mengarah ke Desa Candirejo terisolasi lantaran rusak. “Semoga saja ini segera dibangun,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan warga Jeragung, Asmuni, 57, yang kesehariannya berjualan kerupuk. “Saya sejak tahun 80-an berjualan kerupuk ke Dusun Sapen, Borangan dan Kedungglatik. Tetapi sejak tahun 90-an, jembatan antara Borangan dan Kedungglatik putus, sehingga jualan saya hanya sampai Borangan,” ujarnya.

Dia juga mengatakan untuk menuju Dusun Borangan dari Dusun Sapen, harus melewati jembatan gantung. “Jembatan gantung menuju Dusun Borangan lebih sempit dibanding Jembatan Sunut ini,” katanya.

Warga Dusun Borangan, Muhammad Amin, 41, membenarkan jika warga di desanya harus melewati dua jembatan untuk keluar dari Desa Candirejo menuju ke Ungaran. Amin yang kesehariannya bekerja sebagai guru ini memanfaatkan Jembatan Sunut. “Kalau mau ke Ungaran harus lewat dua jembatan berbahaya ini. Lalu harus memutar dulu ke Karangawen serta Mranggen, Demak untuk menuju ke arah Ungaran,” katanya.

Amin menuturkan warga dua dusun tersebut menggantungkan kebutuhan hidupnya dari ke dua desa di Demak untuk membeli kebutuhannya sehari-hari seperti Sembako. Apabila masuk malam hari, jembatan tersebut gelap gulita karena tidak ada penerangan. “Kami berharap, pemerintah dapat memperbaiki jembatan jadi layak. Karena selama ini, jika ada kerusakan jembatan, warga Sapen dan Borangan yang gotong royong memperbaiki,” ujarnya.

Sekda Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono mengatakan jika Pemkab Semarang telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 700 juta di APBD 2017 untuk perbaikan jembatan tersebut. Perbaikan diharapkan bisa segera terealisasi sehingga membantu akses transportasi warga. “Kalau sudah selesai (lelang), kami berharap tidak ada kendala lagi sehingga perbaikan bisa terealisasi secepatnya,” kata Sekda yang akrab disapa Soni ini. (ewb/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here