28 C
Semarang
Jumat, 11 Juni 2021

Pelaku Terduga Teroris Asal Semarang Bertambah

SEMARANG – Jumlah terduga teroris dari Kota Semarang yang tewas bertambah lagi. Pasca adu tembak dengan aparat Polda Jateng dan Densus 88 di Desa Siwalan, Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (8/4) lalu. Yakni, selain Satria Aditama, 19, warga Jalan Taman Karonsih II/1130 RT 05 RW 04, Ngaliyan, terdapat satu lagi yang beralamat dari Semarang Utara.

”Data terbaru dari empat terduga teroris itu, satu dari Batang, satu dari Kendal dan dua dari Kota Semarang. Satu tinggal di Ngaliyan dan satunya di Semarang Utara,” kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Djarod Padakova, Senin (10/4) kemarin.

Djarod menjelaskan bahwa para keluarga dari empat terduga teroris yang berasal dari Jawa Tengah tersebut, sengaja diberangkatkan ke Surabaya untuk mencocokkan data identitas. Mereka diberangkatkan dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian Senin (10/4) kemarin. ”Ke Surabaya untuk memastikan, anggota keluarga atau tidak. Nanti kalau benar, ya jenazahnya dibawa,” katanya.

Kemarin pagi, imbuhnya, keluarga pelaku yang berasal dari Semarang menggunakan kereta dikawal anggota Polrestabes Semarang. Keluarga pelaku dari Batang dan Kendal, kemarin malam sudah berangkat memakai kendaraan dengan pengawalan juga.

Perlu diketahui, empat pelaku yang sudah diidentifikasi adalah Satria Aditama warga Jalan Taman Karonsih Semarang, Yudistira Rostriprayogi warga Kabupaten Kendal, Endar Prasetyo warga Kabupaten Batang, dan satu orang berinisial RR warga Semarang Utara.

Sebelumnya sempat beredar identitas atas nama Adi Handoko warga Dukuh Limbangan, Kabupaten Batang. Namun saat didatangi, ternyata pemilik nama sudah meninggal 2015 silam. Sementara itu, terkait pelaku berinisial RR, kepolisian belum menjelaskan lebih detail. ”Itu KTP (atas nama Adi Handoko) milik kakaknya salah satu pelaku yang sudah meninggal dikarenakan sakit tifus,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Subdit VI Keamanan Negara Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah, AKBP Sukandar mengatakan anggota masih di lapangan melakukan penelusuran. Data terbaru, sejauh ini masih empat orang pelaku terduga teroris yang tewas di Jenu. ”Iya masih empat. Kalau Semarang Utara itu kan data dari gantinya yang Batang. Data dari Batang, orangnya Semarang Utara. Informasinya seperti itu,” katanya.

Menanggapi adanya teroris di Jawa Tengah, pihaknya lebih mengutamakan pencegahan dan bekerja sama dengan instansi terkait. Sedangkan penindakan ini lebih condong ke Densus.

”Kepolisan di wilayah, lebih pada pencegahan bersama Kemenag serta tokoh masyarakat. Terus ormas yang moderat kami ajak bersama-sama memberikan kontra radikal. Itu yang lebih kami kedepankan,” ujarnya.

Sementara itu, pada penelusuran yang dilakukan Jawa Pos Radar Semarang di Semarang Utara, pelaku terduga teroris yang tewas di Jenu Kabupaten Tuban Jawa Timur bersama komplotannya diketahui bernama Riski Rahmat, 22, warga Jalan Kerapu II RT 09 RW 02, Kuningan, Semarang Utara. Bahkan alamat rumah yang sekarang dihuni oleh orang tua pelaku, telah digeledah aparat kepolisian dan Densus 88, pada Senin (10/4) dini hari.

”Iya ada aparat datang ke sini menggeledah alamat rumah tersebut. Betul (Riski Rahmat) warga sini,” ungkap Lurah Kuningan Joko Sumarsono saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Joko menjelaskan, pelaku sebelumnya telah bermasalah dengan warga setempat. Pasalnya, pelaku mengibarkan dan memasang bendera yang diduga aliran sesat di sekitaran tempat ibadah yang berada di depan rumah pelaku. ”Pernah diusir, sekitar tahun 2016 lalu. Memasang bendera yang tidak benar. Terus kalau salat, dia (pelaku, Red) tidak menghadap kiblat dan kakinya berdiri melentang lebar,” jelasnya.

Menurutnya, pelaku Riski Rahmat sebelumnya tidak berbuat aneh-aneh. Dia dipengaruhi oleh seseorang yang sedang dicari aparat kepolisian. Orang tersebut, juga tinggal satu wilayah dengan pelaku Riski Rahmat. ”Sebenarnya ada tiga, termasuk Riski. Memang dulu kakaknya Riski mengikuti aliran ini. Tapi sudah meninggal,” ujarnya.

Sementara itu, rumah Riski Rahmat dihuni orang tuanya bernama Mutiah, 50, dan suaminya, Edi Suprianto, terlihat sangat sederhana. Saat Mutiah ditemui mengakui bahwa yang salah satu pelaku tersebut merupakan anak kandungnya. ”Baru dapat kabar tadi malam, Senin (10/4) sekitar pukul 00.00. Ada polisi yang mendatangi rumah saya, memberikan kabar terkait kejadian di Tuban,” katanya.

Menurutnya, aparat yang mendatangi rumahnya kurang lebih sekitar 20 orang polisi berpakain preman. Mereka melakukan penggeledahan di rumahnya. Namun demikian, tidak ada barang yang dibawa oleh aparat terkait dugaan terorisme. ”Ada sekitar 20 orang, masuk ke rumah dan periksa-periksa, tapi tidak ada yang dibawa,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Mutiah juga mengakui sangat terpukul dan terkejut. Bahkan suaminya telah berangkat ke Surabaya untuk memastikan kebenaran tersebut. Namun kabar yang diperoleh suaminya, membenarkan bahwa yang ikut meninggal adalah anaknya. ”Tadi berangkat sekitar pukul 04.30. Ini sudah sampai sana dan suami saya sudah telepon, katanya benar (Riski),” ujarnya.

Mutiah menambahkan, anaknya yang kedua dari lima bersaudara tersebut meninggalkan rumah pada minggu kemarin dengan alasan mencari kerja. Bahkan, ke luar rumah juga membawa motor yang setiap harinya dipakai oleh Riski. ”Meninggalkan rumah itu Jumat kemarin. Tahu-tahu sore pukul 7 malam, motornya dikembalikan temannya ke sini,” pungkasnya. (mha/ida/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here