33 C
Semarang
Jumat, 10 Juli 2020

Fenomena Papa Momong, Mama Kerja (Pamong Praja)

Rumah Tangga Bukan Soal Siapa yang Cari Uang

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Sosok suami tak melulu menjadi tulang punggung keluarga. Begitu juga sang istri yang tidak selalu berkutat mengurus anak. Dewasa ini, kaum hawa tak mau kalah dalam urusan mengais rupiah. Di era emansipasi wanita, para mama ikut ubet mencari uang. Bahkan, para papa justru mengalah, harus mengurus anak di rumah. Fenomena ini kerap disebut Pamong Praja, akronim dari Papa Momong Mama Kerja. Seperti apa?

SEMARANG – Bagi budaya timur, khususnya Indonesia, papa sebagai kepala keluarga lazimnya mencari nafkah untuk keluarga. Tapi bukan berarti jika sang mama yang harus mencari nafkah merupakan hal yang tabu. Belakangan, fenomena Pamong Praja sudah menjadi lumrah. Sebab, mereka punya alasan tertentu mengapa memilih jalan Pamong Praja.

Seperti yang dilakoni pasangan yang tinggal di bilangan Kecamatan Ngaliyan, Semarang. Penganut Pamong Praja yang enggan disebutkan identitasnya, atau sebut saja L, boleh dibilang terpaksa melakoni takdir seperti itu. Sang istri, sebut saja S, hanya bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sementara suaminya, sebut saja L, harus mengurus ketiga putrinya. Putri pertama duduk di bangku SMA, kedua di SMP, dan yang terakhir masih mengenyam pendidikan SD.

Kehidupan ekonomi mereka boleh dibilang pas-pasan. Gaji sebagai guru PAUD hanya cukup untuk menyekolahkan ketiga anak mereka. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, pasangan sumi istri ini harus berdagang gorengan yang dititipkan ke angkringan di sekitar tempat tinggal mereka.

Meski begitu, sang istri mengaku nyaman dengan kehidupan keluarganya. Baginya, kehidupan rumah tangga tidak hanya bicara soal rupiah. Menurutnya, kebahagiaan berkeluarga justru bisa melakukan sesuatu bersama-sama.

Dia bercerita, sejak pacaran hingga beberapa tahun pernikahan, sang suami bekerja sebagai kontraktor. Memang gajinya lumayan. Tapi sering dinas keluar kota. “Pas zaman krisis dulu, bosnya kena dampak. Akhirnya dia kena PHK,” beber L.

Tak menyerah begitu saja, suami berusaha melamar di beberapa perusahaan. Sayang, tidak ada yang menerimanya karena alasan umur yang kelewat batas syarat karyawan baru. Karena tidak punya skill khusus, dia pasrah harus betah di rumah. “Malah anak ada yang mengurus. Kebetulan anak-anak lengketnya sama bapaknya,” ujarnya.

Soal pekerjaan rumah, tidak semua dipasrahkan ke suami. Sang istri yang bangun saban adzan Subuh, biasanya mempersiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Sementara sang suami membantu bersih-bersih rumah, atau mencuci pakaian. Setelah itu, suami menyemptkan diri pergi ke pasar untuk belanja aneka kebutuhan rumah.

Sementara sore hari, mereka berdua meracik beberapa jenis gorengan yang nantinya dititipkan ke sejumlah angkringan di sekitar rumah. “Biasanya saya yang goreng, suami yang keliling. Nanti tengah malam, suami mengambil gorengan yang sisa sekaligus uang hasil penjualan,” tuturnya.

Dia mengaku tidak terlalu peduli dengan tetangga yang kadang sinis melihatnya. Dia mengaku kerap menjadi omongan orang-orang di lingkup RT. Tapi baginya tidak masalah, karena Pamong Praja bukan sebuah aib yang harus ditutup-tutupi. “Yang penting kerja halal. Rumah tangga bukan soal siapa yang mencari duit. Saya malah bangga punya suami yang selalu di rumah,” ucapnya.

Wanita berhijab ini meminjam pirinsip orang Jawa, ‘sawang-sinawang’. Sebab, dia mengaku pernah dicurhati teman kerjanya yang kerap ditinggal suami kerja hingga malam hari. “Katanya, anak-anaknya yang dititipkan ke pembantu malah tidak terurus. Sama orang tuanya sendiri jadi kurang dekat. Rumah tangga memang kadang sawang sinawang,” cetusnya.

Hal yang sama dialami oleh AS (bukan nama sebenarnya). AS awalnya seorang wiraswasta yang memiliki grosiran air mineral serta sembako pada tahun 2000-an. Sementara istrinya, K, bekerja di sebuah perusahaan makanan di daerah Tugu. Awalnya, kehidupan mereka sama seperti keluarga pada umumnya. Sang ayah mencari nafkah, sang ibu membantu perekonomian keluarga.

Usaha yang awalnya laris dan menghasilkan pundi-pundi rupiah, lambat laun mengalami kemerosotan. Dampak pelebaran Jalan Gatot Subroto, membuat tokonya kian sepi lantaran akses jalan di depan tokonya selalu dipenuhi kendaraan besar yang kerap macet baik pagi, siang maupun sore hari. Diperparah pegawainya bertindak nakal. Keadaan tersebut membuat tokonya harus gulung tikar. Belum lagi hutang yang ditanggungnya untuk menutup kebutuhan toko selama mengalami kemerosotan kian menumpuk. AS lantas mengontrakkan tokonya untuk melunasi hutang-hutang yang ia miliki. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan pengahasilan maupun tabungan sang istri.

Namun, kebutuhan rumah tangga tidaklah cukup hanya sekedar makan. Mereka harus memenuhi kebutuhan lainnya, seperti biaya sekolah kedua putrinya yang duduk di bangku kelas 3 SMP dan 5 SD. Belum lagi untuk biaya tak terduga seperti berobat maupun sumbangan lainnya. Melihat keadaan tersebut, AS memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan menjadi pegawai di sebuah toko besi milik pemborong. Sayang, tidak berjalan lama lantaran dipecat ketika anak bungsunya sakit selama tiga hari. “Sebenarnya ya malu, namanya suami. Tapi ya gimana lagi, mungkin memang takdirnya begini. Seumuran saya kalau cari kerja ya sudah susah padahal saya itu sarjana geografi. Ya sekarang yang ada di lakoni saja”, jelasnya.

Tidak dipungkiri, permasalahan ekonomi memang menjadi kendala dalam mempertahankan keharmonisan keluarga. K kerap mendengar cibiran dari beberapa pihak terkait statusnya yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga. Namun baginya, keutuhan rumah tangga adalah yang utama terlebih sudah ada dua buah hati yang harus mereka jaga. “Kalau ngurusi omongan orang gak bakal ada habisnya. Sekarang kami santai, apa yang ada dijalani, yang penting keluarga kami sehat dan tidak menyusahkan orang lain. Lagian kalau bapaknya dirumah malah lega anak-anak ada yang jaga, wong malah anak-anak itu lebih dekat dengan bapaknya dari pada saya”, pungkasnya.

Lain halnya dengan warga Tembalang Kota Semarang, Jakaria yang kesehariannya berkecimpung mengurusi perusahaan CV yang berkantor di rumahnya. Bahkan, dia pula yang lebih dominan mengasuh anak-anaknya. Sedangkan sang istri, Erika B bekerja sebagai Kasubag Program pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Demak.

Dia juga mempunyai cara khusus agar hubungan keluarganya tetap harmonis. Menurutnya semua itu tidak lepas dari rasa saling terbuka, saling percaya, saling pengertian, saling menghargai dan menghormati. Selain itu, dalam keluarga butuh saling memuji, senantiasa berunding dalam membuat keputusan yang selalu membuahkan rasa syukur. Bahkan, sesekali memberikan surprise.

“Yang paling penting selalu menjaga rumah tangga dengan beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Kalau keseharian saya saat ini mengurus CV yang berkantor di rumah dan menemani anak di rumah,” kata Jakaria kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (8/4) kemarin.

Ayah dari Ramadiano Rayya Farzana dan Kerryvano Razka Farzana juga mempunyai cara khusus untuk mengasuh kedua anaknya agar tetap mengenal dan patuh terhadap ia dan istrinya. Yakni selalu meluangkan waktu bersama (quality time), terutama setelah istrinya pulang bekerja. “Jadi setelah magrib, TV dan HP dimatikan agar waktu bersama keluarga dan anak bisa maksimal,”ungkapnya.

Karena lebih banyak di rumah, ia selalu memberikan perhatian maksimal bagi kedua anaknya. Selalu menemani bermain bersama, membimbing anak dalam belajar formal dan agama di rumah serta mengantar jemput anak sekolah dan istri bekerja. Selain itu, ia juga selalu memberikan waktu kedua anak untuk menceritakan kegiatannya selama di sekolah atau TPQ.

“Setalah anak saya yang pertama lahir, saya memutuskan keluar dari pekerjaan kantor dan memulai usaha di rumah. Sehingga anak tidak kehilangan perhatian dari orang tua, jika kami bekerja semua,” sebutnya.

Jakaria sendiri sebelumnya pernah bekerja di PT Coca Cola selama 2 tahun, PT Phapros selama 2 tahun dan PT Ferron selama 6 tahun. Namun saat ini ia sudah memutuskan keluar. Atas keputusan dan kesibukan yang dijalaninya sekarang, Jakaria mengaku sudah didukung istrinya. “Jadi sama saja, saya bekerjanya lebih banyak di rumah, sekalian mengasuh dan menemani anak di rumah. Saya juga mendukung karier istri saya di KPU, walaupun waktu untuk keluarga agak berkurang,”sebutnya. (amh/mg29/jks/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kesal, Warga Depok Blokir Akses PLTU

BATANG – Sudah lima hari ini warga Desa Depok, Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memblokir jalan desa. Utamanya yang menuju proyek Pembangkit Listrik...

Pakai Suplemen Organik, Stok Ayam Berkurang

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Harga daging ayam terus dipantau oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Kendati sempat turun pada harga Rp 36.400/kg, ternyata harga tersebut hanya bertahan seminggu....

Wanprestasi Bank Syariah Diteliti

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG-Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kegiatan Penelitian (PKM-P) mahasiswa UM Magelang berjudul Penyelesaian Sengketa Perkara Nasabah Wanprestasi Ekonomi Syariah di Pengadilan Agama Mungkid berhasil...

Tetap Kerja, Targetkan Lulus Kuliah

RADARSEMARANG.COM - BAGI Maharani Arvianta Kusuma, mengenyam pendidikan adalah hal yang utama. Karena itulah, obsesinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh sarjana. “Targetnya bisa...

Makam Diuruk, Warga Marah

SEMARANG - Ratusan warga di empat RW Kelurahan Tawang Mas, Kecamatan Semarang Barat kemarin menghentikan beghu yang digunakan untuk meratakan tanah pemakaman Tawang Ngaglik....

18 Kelompok Ikuti Festival Rebana

SEMARANG – Festival Rebana se-Kota Semarang digelar Ikatan Remaja Masjid Jami’ Nurul Insan  Jalan Koptu Suyono, Kemantren RT 2 RW 4, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan,...