31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Abdikan Diri untuk Pendidikan

SEMARANG – Profesor Nur Uhbiyati dilahirkan dari keluarga berlatar belakang pendidikan. Ayahnya, (alm) KH. Badruddin Honggowongso merupakan PNS dari Departemen Agama yang sangat konsen mengabdikan diri untuk pendidikan. Sang ayah pun sampai mendirikan yayasan sekolah tsawaniyah di Kota Salatiga, dan sekolah di Semarang saat Nur Uhbiyati belum lahir. Sementara sang ibu juga menjadi pengajar di sekolah tersebut.

Nur Uhbiyati yang juga adik dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini akhirnya merasa memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan apa yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut. Keinginannya ini terjawab sudah dengan pengabdiannya menjadi dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang selama 40 tahun. Yaitu sejak 1977 hingga 2017 ini, bahkan masih terus berlanjut.

“Latar belakang keluarga terutama ayah sangat menekankan anak-anaknya mengabdikan diri di dunia pendidikan. Ayah saya memang berpindah-pindah tempat tinggal, karena ayah saya pegawai negeri di Departemen Agama. Namun beliau juga sekaligus mendirikan sekolah di tempatnya bertugas yaitu di Salatiga dan di Semarang,” ujar Nur Uhbiyati yang baru saja menyandang gelar Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam Maret 2017 ini.

Semasa kecilnya Nur Uhbiyati memiliki banyak kenangan cara mendidik sang ayah kepada dirinya. Cara mendidik sang ayah menghasilkan sosok Nur Uhbiyati menjadi sosok pengajar hingga saat ini. Bahkan murid-muridnya sekarang banyak yang sudah menjadi tokoh-tokoh yang sukses.

Misalnya, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Fatah Syukur. Fatah Syukur merupakan salah satu muridnya yang sekarang turut menjadi dosen satu fakultas dengannya.

“Fatah Syukur dulu itu anak didik saya. Memang karena lama saya mengajar, saya sudah mengajar banyak mahasiswa dari generasi-generasi yang berbeda,” ujar Nur kepada Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya, Perum Bukit Walisongo, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Cerita menarik dari Guru Besar kelahiran 8 Februari 1952 ini saat ia terpaksa bersekolah di sekolah Tsawaniyah yang didirikan ayahnya. Padahal, sebagai siswa saat itu dirinya begitu ingin bersekolah di sekolah negeri yang memiliki nama lebih bagus.

“Dulu saya ingin sekolah di sekolah negeri, saya merasa keren kalau bisa bersekolah di tempat favorit. Namun memang dorongan ayah saya begitu kuat agar anak-anaknya bersekolah dengan dasar pendidikan nilai-nilai Islami. Akhirnya saya ya harus sekolah di Tsawaniyah yang didirikan ayah,” kenangnya.

Dari dorongan yang kuat, ibu dari 4 anak dan nenek 3 cucu ini harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah sekolah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah (MA). Akhirnya tahun 1974, ia lulus menjadi Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo cabang Salatiga. Setelah itu, ia hijrah ke Semarang menyelesaikan pendidikan Sarjana Lengkap pada masa itu tahun 1976 di IAIN Walisongo yang kini bertransformasi menjadi UIN Walisongo.

Keinginan kuatnya menjadi seorang pengajar pun tercapai seperti apa yang diinginkan ayahnya. Setelah lulus Sarjana Lengkap, ia mulai mengajar di Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) Walisongo yang saat ini lokasinya berubah menjadi MAN 1 Semarang.

“Dahulu awal mulai mengajar di SPIAIN tahun 1977-1980, baru setelah itu mengajar di IAIN Walisongo hingga sekarang menjadi UIN Walisongo Semarang sampai nanti pensiun tugas ya kira-kira lima tahun lagi,” ujarnya.

“Yang jelas melihat ayah saya bersungguh-sungguh di dunia pendidikan saya merasa ikut bertanggung jawab. Pendidikan itu merupakan amal yang akan mengalir terus menerus dan akhirnya amanah,” tandasnya. (mg30/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here