30 C
Semarang
Kamis, 10 Juni 2021

Harus Ada Kesepakatan dan Komitmen

SEMARANG – Fenomena keluarga dengan kondisi istri bekerja dan suami mengasuh anak, kini banyak terjadi di Indonesia. Hal ini kerap menimbulkan masalah dalam rumah tangga, lantaran budaya di Indonesia masih berpandangan bahwa suami harus bekerja.

Hal tersebut ditegaskan oleh Psikolog Undip, Hastaning Sakti. Meski begitu, hal demikian jika dibicarakan sejak awal dengan baik, tidak akan ada masalah. “Kondisi seperti itu, solusinya harus ada komitmen kuat antara suami istri, bahwa memang kondisinya sang istri memiliki pekerjaan yang lebih mapan,” jelasnya.

Hasta melanjutkan, pasti ada yang melatarbelakangi, kenapa suami tidak bekerja. Bisa jadi, suami wirausaha, sedangkan istrinya seorang PNS atau sang istri memang lebih mapan dari segi penghasilan.

Kondisi tersebut, kata Hastaning, bisa diambil positifnya juga. Justru, bisa memberikan peran orangtua yang dibutuhkan oleh anak dalam masa perkembangannya. Karena bapak yang tidak bekerja, punya lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk memberikan pengasuhan secara intim tanpa ada campur tangan pihak lain. “Artinya, setiap hari anak akan merasakan bimbingan langsung dari bapaknya, ketimbang jika kedua orangtuanya bekerja,” paparnya.

Namun, imbuh Hastaning, bukan berarti pasangan yang sama-sama bekerja tidak memperhatikan anak. Hanya saja, anak dalam masa perkembangannya sangat membutuhkan peran orangtua yang diberikan secara langsung. “Meski sebagian orang akan mengatakan, lanang kok ora kerjo, hal itu wajar dan lumrah saja,” tambahnya.

Soal anak yang bisa bersikap kurang ajar karena merasa tidak diperhatikan oleh ibunya yang sibuk, jelas Hastaning, maka bapak harus bisa mengajarkan kepada anaknya untuk bersikap yang baik. “Bapaknya harus mengajarkan hal yang baik, sehingga minimalisir sikap anak yang tidak baik,” imbuhnya.

Dalam masalah sang istri yang kemudian merasa lebih superior, hal tersebut dapat diatasi dengan suami menjelaskan kepada istri tentang hak dan kewajibannya. Bahwa bagaimanapun, suami adalah kepala rumah tangga dan tetap harus dihormati. “Yang terpenting adalah kesepakatan dan komitmen sejak awal, jika kondisinya mengharuskan istri yang bekerja dan lebih mapan daripada suami. Maka tidak akan ada persoalan di kemudian hari,” tandasnya.

Sementara itu, tokoh agama Jateng, Ahmad Rofiq mengatakan sebenarnya yang pokok dalam rumah tangga, suami harus bertanggung jawab untuk menafkahi istri dan keluarganya. “Harusnya memang suami yang bertanggung jawab untuk menari nafkah,” katanya.

Tetapi ketika ada suami yang di rumah, sementara istri bekerja itu kasuistik. Ketika dalam kondisi seperti itu, dalam hal ini ekonomi keluarga harus tetap jalan. Sebab, memang banyak pertimbangan yang dilakukan sebelum suami-istri mengambil keputusan tersebut. “Artinya yang penting aman dari segala fitnah dan ekonomi keluarga bisa tetap terpenuhi,” tambahnya.

Dalam kehidupan berkeluarga, kebutuhan ekonomi bukanlah persoalan utama. Anak-anak yang merupakan anugerah dan merupakan tanggung jawab bersama antara suami-istri dan yang harus diperhatikan. Jangan sampai karena alasan ekonomi/duniawi, seorang anak justru kehilangan kasih sayang orangtuanya. “Keharmoniasan rumah tangga harus tetap dijaga dan utama, jadi jangan sampai terabaikan,” tambahnya. (mg26/fth/ida)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here